Iran Segera Mulai Reaktor Nuklir Air Berat di Arak

reaktor nuklir air berat di Arak
Reaktor nuklir air berat di Arak (AFP)

Beritabaru.co, Internasional. – Iran kabarkan segera memulai aktivitas reaktor nuklir air berat di Arak. Rencana itu menyusul ketidakpastian kelanjutan kesepakatan nuklir damai antara Iran dengan negara-negara adidaya.

Air berat merupakan salah satu komponen yang digunakan di reaktor untuk memproduksi plutonium, bahan baku yang dipakai di rudal nuklir. 

Hal ini disampaikan langsung oleh kepala organisasi energi atom Iran, Atomic Energy Organization (AEO), Ali Akbar Salehi kepada anggota parlemen pada hari, Minggu (28/07).

ISNA mengutip dari seorang anggota parlemen yang menghadiri pertemuan itu, Air berat dapat digunakan dalam reaktor untuk menghasilkan plutonium, bahan bakar yang digunakan dalam hulu ledak nuklir.

Pada bulan Mei lalu, Iran mengumumkan langkah-langkah yang direncanakan untuk membatalkan perjanjian nuklir dengan negara-negara besar dunia setelah Amerika Serikat (AS) menarik diri dari kesepakatan dan menerapkan lagi sanksi berat.

Pada awal Juli 2019, Presiden Iran Hasan Rouhani menyampaikan Teheran akan meningkatkan level pengayaan uraniumnya dan memulai kembali operasional Arak setelah 7 Juli 2019. Ancaman itu diberikan jika negara-negara peserta perjanjian nuklir damai tidak membantu melindungi Iran dari berbagai sanksi AS.

Berita Terkait :  Dua Tentara Myanmar Berikan Kesaksian Tentang Pembunuhan, Pemerkosaan dan Penguburan Massal Muslim Rohingya

Setelah Presiden AS Donald Trump memutuskan keluar dari kesepakatan itu pada 2018, kelanjutan perjanjian tersebut tampak mengambang. Meski negara-negara Eropa, terutama Prancis dan Jerman, berupaya membujuk Iran untuk tetap berada dalam kesepakatan tersebut, tapi Iran menilai tawaran yang disampaikan tidak bisa melindungi mereka dari kebijakan AS.

Kesepakatan ini tercapai pada 2015, yang mana intinya adalah Iran sepakat menghentikan aktivitas nuklirnya untuk sementara waktu dengan ganti dicabutnya sanksi AS, terutama sanksi ekonomi. Namun, Trump menilai Iran tak sungguh-sungguh menurunkan pengayaan nuklirnya dan capaian yang telah dipenuhi Iran dipandang tidak mencukupi untuk melanjutkan perjanjian tersebut.

Selain AS, Prancis, dan Jerman, negara lain yang ikut serta dalam perjanjian ini adalah China, Rusia, Inggris, dan Uni Eropa (UE). 

Selai reaktor nuklir air berat di Arak, ada tiga fasilitas nuklir lain yang telah dikembangkan oleh Iran yakni Bushehr, Darkhovin, dan Fordow. Posisi Iran di Timur Tengah pun makin menjadi perhatian setelah terjadi beberapa insiden penahanan dan penyitaan kapal tanker minyak di Selat Hormuz. 

Penulis : Nafisa Fiana
Sumber  : CNBC
- Advertisement -

Tinggalkan Balasan