Intel Irak: Daesh yang Serang AS Bukan Jenderal Soleimani

Daesh
Protes pembunuhan Jendral Solaemani oleh AS, (Foto: Sputnik).

Berita Baru, Internasional – Serangan roket 27 Desember di Pangkalan Udara K-1 Kirkuk, Irak Utara, yang menewaskan seorang kontraktor sipil Amerika Serikat (AS) dan melukai empat prajurit AS serta dua petugas keamanan Irak, menyebabkan adanya peningkatan ketegangan mencekam antara AS dan Iran.

Mengutip sumber militer dan intelijen Irak dari New York Times, pihak militer dan intelijen Irak percaya bahwa Daesh (ISIS) bukan kelompok milisi Iraqi Shia Muslim yang berafiliasi dengan Iran, Khaitab Hezbollah. Daesh lah yang bertanggung jawab atas serangan roket 27 Desember 2019 di pangkalan udara Irak. Serangan itu pada akhirnya menyebabkan AS membunuh Komandan Pasukan Quds Revolusioner Qasem Soleimani.

“Semua indikasi itu adalah Daesh,” ujar Brigadir Jenderal Ahmed Adnan selaku kepala intelijen untuk polisi Federal Irak di pangkalan K-1 kepada surat kabar. Adnan menunjukkan terdapat tiga insiden di daerah tersebut dalam satu setengah minggu sebelum serangan 27 Desember. Ia juga menambahkan dengan mengatakan bahwa pasukannya mengetahui gerakan Daesh di daerah tersebut.

“Kami sebagai pasukan Irak bahkan tidak bisa datang ke daerah ini kecuali kami memiliki pasukan besar karena tidak aman. Bagaimana mungkin seseorang yang tidak mengetahui daerah itu bisa datang ke sini dan menemukan posisi menembak serta melancarkan serangan?” tanya Adnan sambil menunjukkan bahwa zona peluncuran terletak di daerah Muslim Sunni Kirkuk. Zona itu adalah zona di mana Daesh melakukan serangan.

Brigadir Jenderal Amer Isa Hassan selaku kepala staf pihak Irak dari Pangkalan Udara K-1, mengatakan kepada NYT bahwa ia tidak membeli klaim AS yang menyalahkan Khaitab Hezbollah. “Desa-desa di dekat sini adalah Turkmenistan dan Arab,” ujarnya. “Ada simpati terhadap Daesh di sana. Mengapa kita memilih menyalahkan Hizbullah atau yang lainnya?”

Intelijen Irak memperingatkan pasukan AS di K-1 tentang bahaya serangan yang mungkin terjadi di pangkalan itu sepanjang November dan Desember. Peringatan itu juga termasuk 6 intruksi bulan November yang mengindikasikan bahwa Daesh sedang “berusaha (untuk) menargetkan pangkalan K-1 Kirkuk dengan tembakan (Roket Katyusha) tidak langsung.” Laporan serupa disampaikan pada 25 Desember. Adnan mengatakan dia kembali memperingatkan AS hanya beberapa jam sebelum serangan roket 27 Desember.

Kolonel Talib Madhloum al-Tamimi selaku Komandan Polisi Federal Irak dari wilayah Kirkuk, mengatakan ia mendesak AS untuk menerbangkan balon pengintai di atas pangkalan untuk mencegah terjadinya serangan, namun itu sedang dalam diusahakan.

Anggota Brigade Hizbullah di Irak, sebuah gerakan Syiah yang mendukung pasukan pemerintah Irak dalam bentrokan yang sedang berlangsung melawan Negara Islam, (Foto: Sputnik).

Tidak Ada Konsultasi

Abu Ali al-Basri selaku direktur jenderal Intelijen dan Kontraterorisme Irak, mengkonfirmasi bahwa AS tidak berkonsultasi dengan agennya sebelum melakukan serangan ‘pembalasan’ terhadap lima pangkalan Khaitab Hezbollah di seluruh Irak dan Suriah pada 29 Desember. Serangan balasan itu menewaskan 25 milisi dan melukai 55 orang lainnya.

“Mereka tidak meminta analisis saya tentang apa yang terjadi di Kirkuk dan mereka juga tidak membagikan informasi mereka. Biasanya, mereka akan melakukan keduanya,” kata al-Basri.

Setelah diberi tahu oleh pihak AS tentang serangan yang akan datang, Baghdad dilaporkan mencoba untuk berbicara dengan Washington agar tidak melancarkan serangan terhadap Khaitab Hizbullah. Baghdad menunjukkan bahwa kelompok tersebut tidak ada di Kirkuk setidaknya sejak tahun 2014, ketika milisi bekerja sama dengan militer Irak dan AS untuk melawan Daesh.

Letnan Jenderal Muhammad al-Bayati mengatakan Baghdad telah meminta pihak AS untuk mau berbagi intelijennya, namun permintaan itu ditolak.

Para pejabat Irak juga mengatakan bahwa pemeriksaan terhadap truk Kia berisi roket 107 mm yang ditemukan di luar K-1 tidak bisa mengaitkannya sama sekali pada Khaitab Hizbullah.

Muhammad Muhi selaku juru bicara Khataib Hizbullah, membantah terlibat dalam serangan 27 Desember. Ia juga meminta AS untuk “berbagi” bukti apa pun yang ada terkait siapa atau kelompok mana yang bertanggung jawab atas serangan itu.

Pejabat AS yang tidak mau disebutkan namanya berbicara kepada NYT menyatakan mereka memiliki ‘bukti yang kuat’ dalam bentuk ‘benang merah’ dari intelijen. Intelijen itu telah mengkonfirmasi bahwa terdapat keterlibatan Khataib Hizbullah dalam serangan K-1. Namu, pertanyaan dan informasi itu masih belum bisa dipublikasikan resmi.

Para pengunjuk rasa membakar bendera AS selama demonstrasi serangan udara AS di Irak, (Fito:Sputnik)

String Eskalasi

Pada pagi hari tanggal 3 Januari, Komandan Pasukan Revolusi Islam Iran Komandan Pasukan Quds, Mayor Jenderal Qasem Soleimani terbunuh di Bandara Internasional Baghdad. Saat itu, ia dan pemimpin Khataib Hizbullah Abu Mahdi al-Muhandis melakukan konvoi. Pada saat konvoi kendaraan yang mereka kendarai dihantam oleh rudal yang berasal dari drone Reaper AS. Para pejabat AS membenarkan bahwa Soleimani bertanggung jawab dalam merencanakan serangan terhadap AS dan kepentingan AS di Irak, termasuk serangan 27 Desember di Kirkuk.

Pada 8 Januari, Iran membalas dengan serangan rudal terhadap dua fasilitas di Irak yang menaungi personil militer AS, sebagai peringatan terhadapa pasukan Irak. Akibat dari serangan itu, 64 anggota AS didiagnosis mengalami gegar otak dan cedera otak traumatis.

Pada hari Selasa, duta besar Iran untuk Irak secara terbuka mengungkapkan bahwa Soleimani berada di Baghdad pada 3 Januari untuk menyampaikan pesan terkait upaya Iran dalam rangka menormalkan hubungannya dengan Arab Saudi. [Ipung]

Dalam foto Senin, 13 Januari 2020, tentara AS berdiri di lokasi yang terdampak serangan bom Iran di pangkalan udara Ain al-Asad, Anbar, Irak. (Foto: Sputnik).
Facebook Comments
- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini