Instalasi Seni Berbentuk Kemaluan Perempuan di Brasil Picu Perdebatan

-

Berita Baru, Seni – Kehebohan muncul dari taman seni pedesaan di Pernambuco, Brasil, setelah instalasi seni milik seniman Juliana Notari dipublikasikan.

Notari membuat sebuah patung berbentuk kemaluan perempuan atau vulva di lereng bukit yang terbuat dari beton dan resin. Bentuk patung ini memicu kontroversi dan perdebatan antara kelompok budaya serta pengagum seni di sayap kiri dengan kelompok konservatif yang notabene pendukung Bolsonaro di sayap kanan.

Patung sepanjang 33 meter (108 kaki) yang diberi judul ‘Diva’ itu diresmikan oleh Notari pada hari Sabtu (2/1) di sebuah taman yang merupakan tanah bekas pabrik gula di Pernambuco, sebuah daerah di Brasil yang dikenal dinamis dalam berbudaya. Proses pembuatan patung berwarna merah cerah ini melibatkan 20 seniman dalam 11 bulan lamanya.

Kesenian yang dibuatnya merupakan bentuk keresahan yang ia punya mengenai hubungan antara alam dan budaya dalam masyarakat barat yang ‘falosentris dan antroposentris’, sebagaimana dikutip dari The Guardian. Notari sendiri menganggap, apa yang ia buat ini merujuk pada situasi di Brasil pada era Jair Bolsonaro yang kian intoleran.

Instalasi seni ini pada akhirnya memprovokasi lahirnya perdebatan mengenai ‘problematisasi gender.’ Laman Facebook Notari dipenuhi komentar berisi amarah orang-orang yang notabene merupakan pendukung Bolsonaro. Para Bolsonarian itu mengkritik karya Notari dengan berkata, salah satunya, “Dengan segala hormat, saya tidak menyukainya. Bayangkan saya berjalan dengan putri saya yang masih kecil di taman ini dan mereka bertanya, ‘Ayah, ada apa ini?’ Apa yang akan saya jawab?”

Di sisi lain, tak sedikit pihak yang mendukung karya Notari tersebut. Kartunis trans Laerte Coutinho menulis tweet pada Minggu (3/1) bahwa banyak hal yang harus dipikirkan dalam karya tersebut. Penggemar seni menulis, “Saya menyukainya! Bagian intim dari kita diekspos dengan keindahan seperti itu. Kami membutuhkan lebih banyak karya serupa yang mengangkat feminisme dan nuansanya.”

Pujian juga datang dari sutradara film Klaber Mendoca Filho yang melihat karya vulva raksasa Notari sebagai respon atas konservatisme yang menguat di Brasil. “Reaksi terhadap karya Anda adalah cermin (masyarakat), sebuah kesuksesan,” kata doi.

Instalasi seni karya Juliana Notari berbentuk Vulva.

The Guardian menulis, sejak menduduki jabatannya pada 2019, Jair Bolsonaro telah berulang kali melakukan fitnah terhadap seniman dan budaya, dimana mereka banyak yang menentang pemerintahan Bolsonaro. Sementara dikutip dari Rappler, Bolsonaro telah lama diketahui mengkritik seni yang ia anggap merupakan bagian dari sayap kiri, sementara pada 2019 lalu ia gagal membekukan pendanaan untuk film bertema LGBT+.

Sejak Bolsonaro menjabat pada 2019, Brasil menghadapi gelombang ultra-konservatisme yang mengakibatkan terpolarisasinya diskusi soal jender. Sebagai seniman, Notari telah “bekerja dengan anatomi wanita dan berupaya memprovokasi diskusi tabu seputar seksual yang diberlakukan pada wanita,” begitu tulisan resmi pada patung tersebut sebagaimana ditulis Rappler.

Bolsonaro sebelumnya telah mendapat banyak kritik, termasuk soal sikap dan pernyataannya mengenai masyarakat adat di Brazil dan deforestasi besar-besaran di Amazon.   

Patung vulva ini pada akhirnya bukan soal seksualitas semata, namun lebih urgen adalah sebuah dialog mengenai jender. Kesenian selalu menjadi alternatif corong bagi masyarakat untuk beropini dan mengekspresikan keresahannya. Dapat kita lihat juga dalam kasus ini, bagaimana arah kebijakan negara dapat berpengaruh pada wilayah privat kelompok tertentu, yang dalam hal ini adalah perempuan. Bagaimana menurutmu?

Facebook Comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERBARU

Facebook Comments