Berita

 Network

 Partner

Ini Doa agar Segera Punya Anak
sumber: istimewa

Ini Doa agar Segera Punya Anak

Nasab atau keturunan adalah hal yang diperhatikan agama Islam. Hal itu tercermin dalam salah satu tujuan syariat (maqāshidusy syarīah), yaitu hifdzun nasl atau menjaga keturunan. Untuk itulah dalam Islam disyariatkan pernikahan, di mana salah satu tujuannya adalah memperoleh keturunan.

Punya anak atau keturunan merupakan keinginan banyak orang yang sudah menikah. Meski demikian ada beberapa pasangan suami istri yang belum juga diberi keturunan, setelah lama melangsungkan pernikahan.  Terkait dengan hal ini, dalam literatur Islam kita mengenal sosok bernama Imran, pribadi shaleh yang banyak dipotret dalam Al-Qur’an Surat Ali ‘Imran. 

Imran adalah seorang pemimpin dan ulama Bani Israil waktu itu. Ketika istrinya yang bernama Hannah mengandung Sayyidah Maryam, Imran wafat, sehingga Nabi Zakaria as yang kemudian mengasuh dan menanggung biaya hidup Sayyidah Maryam. Kelak, Sayyidah Maryam melahirkan Nabi Isa as. Di usia senja, Nabi Zakaria as belum juga diberi anak oleh Allah swt. Istrinya tak kunjung hamil setelah bertahun-tahun menikah. 

Berita Terkait :  Kedaulatan Ekonomi; Koperasi dan Implementasi Pasal 33 UUD 1945

Karena itu, keduanya berdoa kepada Allah sebagaimana diabadikan dalam Al-Qur’an:  

 رَبِّ هَبْ لِيْ مِنْ لَّدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةًۚ اِنَّكَ سَمِيْعُ الدُّعَاۤءِ   

Rabbi hab lî mil ladungka dzurriyyatan thayyibah, innaka samî‘ud-du‘â’. 

Artinya, “Ya Tuhanku, berilah aku keturunan yang baik dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.” (QS Ali ‘Imran: 38). 

Allah kemudian mengabulkan doanya dan memberi rezeki seorang anak saleh yang diberi nama Yahya. Di kemudian hari, ia dikenal dengan Nabi Yahya as. Ketika ada pasangan suami istri sudah lama menikah namun belum juga diberi karunia anak atau keturunan oleh Allah, maka dapat berikhtiar dan berdoa dengan doa yang pernah dipanjatkan Nabi Zakaria as di atas. Demikian doa agar cepat punya anak yang diadaptasi dari uraian Ust Nur Rohmad MA.

Berita Terkait :  Omnibus Law, De-Demokratisasi dan Kartelisme Politik

Sumber: nu online