Industri Migas AS di Ambang Kebangkrutan, Banyak Produsen Minyak Gulung Tikar

Industri Migas
(Foto: Sputnik)

Berita Baru, Internasional – Mengutip berita dari Sputnik, analis pasar mengatakan bahwa industri migas Amerika Serikat (AS) kini berada di ambang kebangkrutan di tengah rendahnya permintaan minyak.

Pada hari Selasa (12/5), California Resource Corporation (CRC) mengatakan dalam pertemuan dengan para regulator bahwa pihaknya sungguh merasa ada keraguan untuk bisa terus bertahan dalam industri migas jika pihaknya tidak dapat merestrukturisasi neraca keuangannya.

Sebagai sebuah perusahaan independen dan produsen minyak dan gas alam terkemuka di AS yang berfokus secara eksklusif di California, CRC telah menimbun hutang yang cukup besar: US$ 4,9 miliar.

Selain CRC, Chesapeake Energy Corporation (CHK) sebagai produsen migas terbesar kedua AS juga dilaporkan mengalami kesulitan finansial. Minggu ini, CHK mengatakan bahwa pihaknya sedang mempertimbangkan untuk mengajukan perlindungan kebangkrutan setelah kehilang US$ 8,3 miliar pada kuartal pertama tahun 2020.

Sejak awal pandemi COVID-19, minyak mentah berjangka AS telah turun sekitar 60 persen. Lalu pelonggaran aturan swakarantina (lockdown) di AS dirasa tidak cukup bagi perusahaan-perusahaan yang memproduksi migas untuk tetap bertahan karena terlilit hutang.

Berita Terkait :  Atasi Dampak COVID-19, Vietnam Segera Cairkan $30 Miliar Dana Investasi Publik

Beberapa upaya sudah dilakukan oleh perusahaan migas besar di AS untuk bertahan. Salah satunya dengan mengurangi biaya produksi, menutup kilang, bahkan merumahkan ratusan pekerja.

Menurut laporan, di Texas saja setidaknya 6.000 pekerja di industri energi migas telah dirumahkan atau diberhentikan.

Perusahaan migas AS yang pertama kali mengalami kebangkrutan adalah Whiting Petroleum yang tutup buku di bulan April kemarin. Perusahaan-perusahaan lain diprediksi akan menyusulnya termasuk: Diamond Offshore, Freedom Oil and Gas, Skylar Exploration, dan Hornbeck Offshore Services.

Seorang analis pasar migas internasional dari Bloomberg Intelligence, Spencer Cutter, bulan lalu telah memperkirakan bahwa akan ada gelombang pengajuan kebangkrutan di sektor industri energi tahun ini.

Sementara itu, manajer aset dari Pickering Energy Partners memprediksi bahwa 15 sampai 40 persen dari sekitar 9.000 perusahaan migas di AS dapat mengalami kebangkrutan dalam dua tahun ke depan.

Agar bisa menyelamatkan perusahaan-perusahaan tersebut dari kebangkrutan, para analis mengatakan bahwa produsen minyak butuh menjual minyak mentah sekitar US$50 per barel; sementara untuk minyak serpih sekitar US$ 50 sampai US$ 55.

Berita Terkait :  COVID-19 Sebabkan 1.262 Pekerja di Palembang Terkena PHK

Namun itu adalah usaha yang sulit, meskipun beberapa analis mengatakan bahwa adanya pelonggaran aturan karantina wilayah diperkirakan akan menaikkkan harga.

IMF memperkirakan harga minyak mentah per barel untuk tahun 2020 senilai US$33. Sementara Administrasi Informasi Energi (EIA) AS memprediksi US$32.

Untuk saat ini, perusahaan-perusahaan yang bangkrut lebih memilih opsi perlindungan Chapter 11 untuk menukar utang dengan ekuitas.

Chapter 11 adalah salah satu bab dalam Undang-Undang Kepailitan tentang reorganisasi sesuai hukum kepailitan Amerika Serikat. Bidang usaha berbentuk apa pun bisa meminta perlindungan Chapter 11 termasuk perseroan, perusahaan perseorangan, atau perorangan yang memiliki utang tanpa jaminan.

Namun, karena penurunan ekonomi terus-menerus menakuti para investor, beberapa perusahaan yang bangkrut itu mungkin terpaksa mengambil jalan Chapter 7: likuidasi.

Ketua PricewaterhouseCoopers (PWC) Reid Morrison mengatakan kepada CNN, “Chapter 11 mengharuskan adanya sponsor keuangan untuk mendukung Anda. Anda dapat melihat lebih banyak memilih Chapter 7 atau likuidasi.

- Advertisement -

Tinggalkan Balasan