Berita

 Network

 Partner

India
Bendera India, (Foto: Sputnik).

India Mulai Melakukan Pembicaraan Perdagangan dengan AS

Berita Baru, New Delhi – Setelah menarik diri dari Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) yang dipimpin Cina, India berencana untuk menyusun kembali strategi perdagangan globalnya.

Setelah penarikan diri dari RCEP November lalu, India memulai melakukan pembicaraan terkait perdagangan dengan Amerika Serikat (AS). India juga mulai mengerjakan kembali pakta perdagangan bebasnya dengan Jepang dan Korea Selatan.

India kemungkinan akan memunculkan pemulihan penuh dari Generalised System of Preferences (Sistem Preferensi Umum) atau GSP dalam pembicaraan perdagangan dengan AS, yang kemungkinan akan terjadi menjelang kunjungan Presiden AS Donald Trump ke India pada akhir bulan ini.

Menteri Perdagangan India Piyush Goyal dan Robert Lighthizer dari AS kemungkinan akan memberikan bentuk akhir pada kesepakatan perdagangan sebelum kunjungan Presiden Trump. Kementerian perdagangan India tidak mengkonfirmasi tanggal kunjungan Lighthizer ke New Delhi.

Berita Terkait :  Harapkan Ekspor Meningkat, India Turunkan Bea Masuk Minyak Sawit

Kesepakatan perdagangan AS-India kemungkinan akan ditandatangani saat kunjungan presiden AS pada 24 dan 25 Februari. Ini akan menjadi kunjungan pertama presiden Donald Trump ke India.

GSP dan Tarif Ekspor

Menurut pejabat Kementerian Perdagangan, New Delhi akan mengajukan permintaan untuk sepenuhnya memulihkan GSP, yang memungkinkan negara itu bebas bea ekspor setidaknya 3.000 komoditas ke AS.

Seorang pejabat kementrian perdagangan mengatakan kepada Sputnik bahwa, tarif manfaat untuk lebih dari 200 juta dolar diterima oleh eksportir India di bawah GSP yang digunakan. Uang itu akan digunakan sebagai insentif. Dalam pembicaraan perdagangannya, India akan berusaha mengejar target itu.

GSP, program preferensi perdagangan utama yang diluncurkan pada tahun 1974, menawarkan kesempatan bagi negara-negara berkembang dan kurang berkembang untuk meningkatkan ekonomi mereka melalui partisipasi dalam perdagangan global. GSP sendiri merupakan program terbesar dari AS.

Berita Terkait :  Ambil Langkah untuk Mencabut Status Perdagangan Hong Kong, Apa Rencana Trump?

AS menarik status GSP India pada Juni tahun lalu. Sebagai tanggapan, India mengenakan tarif balasan pada 28 barang impor AS.

Pada tahun fiskal 2017-2018, India menerima manfaat tarif lintas sektoral di bawah GSP senilai 260 juta dolar. Pada tahun keuangan sebelumnya (2016-2017), India menerima manfaat bea senilai 190 juta dolar di bawah sistem.

Di masa lalu, AS telah memulihkan manfaat GSP ke negara-negara seperti Liberia, Argentina, dan Myanmar.

India menarik diri dari perjanjian perdagangan bebas 16 negara yang dipimpin Cina pada November tahun lalu. Blok perdagangan akan mewakili 30 persen dari PDB global. India menarik diri dari kesepakatan itu karena Beijing bersikeras tentang hambatan non-tarif pada produk India.

Berita Terkait :  Face Shield Tidak Efektif, Ilmuan Jepang Sebut Masker Kain Bukan Tenun Lebih Efektif Cegah Covid-19

PenerjemahIpung
SumberSputnik