Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Pemotongan Produksi Minyak OPEC+
(Foto: REUTERS / Angus Mordant)

Imbas Pengurangan Produksi Minyak OPEC+ terhadap Pasar

Setelah berhari-hari melakukan negosiasi dan konferensi daring secara intens, negara-negara yang tergabung OPEC + dan G20 telah menandatangani kesepakatan yang bertujuan mengatasi ketidakseimbangan pasar minyak. Analis ekonomi pun menjelaskan bagaimana pemotongan produksi minyak yang baru diperkenalkan akan mempengaruhi pasar dalam jangka pendek dan menengah.

Berita Baru, Internasional – Pada hari Minggu (12/4), Rusia, Arab Saudi, dan AS mencapai kesepakatan dengan produsen minyak dunia untuk pengurangan produksi minyak utama dalam menanggapi penurunan dramatis harga minyak mentah yang disebabkan oleh pandemi COVID-19 dan kelebihan stok minyak Arab Saudi.

Total dua puluh tiga negara yang bergabung dengan OPEC+ bersepakat untuk memangkas produksi minyak mentah sebanyak 9.7 juta barel per hari (bph) pada bulan Mei dan Juni 2020. Angka pemotongan itu sendiri telah mencatatkan rekor dalam sejarah. Dan juga angka itu setara dengan sekitar 10% dari output produksi minyak global.

Harga Masih Terlalu Rendah untuk Menjaga Pertumbuhan Minyak Serpih AS

Pada awalnya, ketika pertemuan OPEC+ di hari Kamis (9/4), Meksiko menolak pemotongan produksi itu. Pemotongan 400.000 bph tak sanggup dilakukan Meksiko. Penolakan itu memicu kekhawatiran tentang masa depan kesepakatan yang dinanti-nanti dunia industri minyak.

Kemudian Presiden Trump menawarkan bantuan untuk membantu menyelesaikan kebuntuan tersebut. Presiden Trump menawarkan pemotongan tambahan produksi minyak AS sebesar 250.000 atas nama Meksiko.

Dan setelah OPEC+ menyepakati perjanjian pengurangan produksi itu, pasar energi global segera bereaksi: harga minyak naik lebih tinggi setelah kesepakatan.

Namun, menurut James L. Williams, presiden WTRG Economics, meskipun negara-negara yang tergabung dalam OPEC+ dan G20 telah menyepakati pemotongan produksi minyak terbesar dalam sejarah, tetapi stok minyak tetap berlebih. Presiden penyedia jasa konsultasi manajemen bisnis berbasis di Arkansas itu bahkan menyebutkan bahwa harga minyak akan terus menurun di bawah USD20 per barel.

“Konsumsi [minya] telah turun mendekati 30 juta bph dan mungkin lebih,” ujar Williams. “Semua usaha penurunan produksi minyak yang akan dilakukan, hanya akan memperlambat catatan penyimpanan minyak, dan penyimpanan minyak yang terus terisi malahan akan menekan harga minyak.”

Pakar ekonomi mengamati bahwa “per 3 April, stok dan produk minyak AS naik 33 juta barel.”

“Selanjutnya, konsumsi pada 14,4 juta bph adalah 5,9 juta bph di bawah tahun lalu. AS mengkonsumsi sekitar 20% dari minyak dunia. Dan jika penurunan juga terjadi di negara-negara lain secara proporsional, maka konsumsi dunia akan turun 29,5 juta bph. Laporan berikutnya akan menunjukkan kerugian yang lebih besar dalam penggunaan minyak,” katanya.

Dia berkomentar bahwa meskipun ada pemotongan produksi minyak, “harga terlalu rendah untuk mempertahankan pertumbuhan produksi minyak serpih.” Muncul harapan bahwa “AS akan melihat penurunan substansial sampai enam bulan setelah harga minyak melebihi USD35 per barel.”

Pasar Membutuhkan Pemotongan 20 Juta bph Untuk Bisa Stabil

Meskipun ada skeptisisme seputar kesepakatan pengurangan produksi baru dari OPEC+, Edward Moya, analis pasar senior di OANDA di New York mengatakan bahwa setidaknya “itu harus mengakhiri kemungkinan harga minyak jatuh menjadi satu digit.”

“Harga minyak harus tetap berat dalam jangka pendek, tetapi itu bisa dengan cepat berubah jika optimisme tumbuh bahwa AS dan Eropa dapat melihat bagian utama dari ekonomi mereka dibuka pada Juni,” ia berpendapat.

“Untuk saat ini, prospek permintaan tetap suram, tetapi pemangkasan produksi ini dapat mendukung argumen bahwa pasar energi dapat melihat penarikan saham tersirat pada paruh kedua tahun ini. Pada akhirnya, akan ada waktu untuk mengubah bullish (tren menguat) pada minyak. Tetapi untuk saat ini harga minyak mentah WTI dapat terus menunjukkan tanda-tanda stabil di pertengahan angka USD20-an,” imbuh Edward Moya.

Analis pasar menjelaskan bahwa dalam keadaan saat ini, agar pasar energi ‘menjadi bersemangat’, pemotongan produksi sekitar 20 juta barel per hari diperlukan, bukan 9,7 juta barel per hari ditambah 5 juta barel per hari lainnya dari negara-negara G20.

Karena itu, jangan berharap pasar minyak segera stabil. Moya juga memberi peringatan bahwa setiap bullish dalam pembukaan perdagangan yang terjadi setelah kesepakatan, kemungkinan akan ‘berumur pendek.’

Menyusul runtuhnya kesepakatan minyak OPEC+ pada 6 Maret dan keputusan Arab Saudi untuk memberikan diskon besar-besar untuk minyaknya di tengah turunnya permintaan, harga minyak mentah mencapai titik terendah dalam 18 tahun.

Menurut Moya, Meksiko yang ‘memainkan spoiler’ kali ini karena ‘terjebak pada senjatanya’ dengan hanya bisa berkomitmen untuk mengurangi produksi minyaknya 100.000 barel per hari.

“Intervensi Presiden Trump dengan keberatan Meksiko sangat penting untuk melanjutkan pembicaraan selama akhir pekan,” ujar Moya.

Moya juga mengingatkan bahwa, “Trump mungkin akan mendapatkan kredit bahwa ia menyelamatkan, baik OPEC maupun banyak perusahaan serpih AS. AS akan menanggung beberapa pemotongan produksi Meksiko sekitar 250.000 barel per hari. Masalahnya adalah bahwa AS menerapkan penurunan alami dalam output terhadap kuota Meksiko. Banyaknya kelemahan dalam kesepakatan pemangkasan produksi ini akan membuat sulit bagi siapa pun untuk merasa yakin bahwa ada dasar perusahaan yang kuat.”

Setelah kesepakatan OPEC+, di London, pada hari Senin (13/4) harga minyak naik sekitar 1% menjadi sekitar USD32 per barel. Sementara di Asia, menurut Bloomberg, Brent futures atau Brent berjangka melonjak 8%.


SumberSputnik News