Hari Lansia Nasional 2021, Kisah Kakek Tiga Bersaudara di Gresik Terjerat Kemiskinan

-

Berita Baru, Gresik – Hari Lansia Nasional diperingati setiap 29 Mei, peringatan ini sebagai wujud penghargaan dan kepedulian terhadap orang lanjut usia.

Memasuki peringatan Hari Lansia Nasional yang ke-25 pada 29 Mei 2021, masih ada seorang kakek lansia dari tiga bersaudara asal Gresik yang terjerat kemiskinan, kondisinya bersama dua saudaranya pun sungguh memprihatinkan. Untuk memenuhi kebutuhan setiap hari hanya bisa mengharap bantuan dari warga dan tetangga sekitar.

Kakek itu bernama Waras (71), warga asal Kelurahan Pekelingan, Kecamatan Gresik. Tinggal satu atap dengan dua saudaranya yakni Hamim (59) dan Khodijah (52), mereka hidup dalam ekonomi yang serba kekurangan. Kondisi itu bahkan membuat ketiganya memilih tidak menikah atau melajang hingga usia senja.

Lebih ironi lagi, kondisi Waras yang merupakan anak tertua buta sejak kecil, setiap harinya tidak jauh dari tempat tidur. Lalu Hamim, saudara kedua memiliki penyakit katarak mata dan terakhir si bungsu Khodijah juga mengalami katarak mata.

Berita Terkait :  Kupas Kebangkitan Ekonomi Kreatif, PWI Undang Menparekraf, Bupati, dan Ketua DPRD Gresik

Listrik rumah berukuran 2X8 meter satu-satunya warisan yang setiap hari menerangi kediaman yang mereka tinggali itu pun didapatkan dari bantuan tetangga. Tak ayal, satu listrik itu hanya bisa menerangi satu ruangan saja. Kendati demikian, tiga bersaudara itu masih bisa bersyukur.

Berita Terkait :  Polres Gresik Jaga Ketahanan Pangan dengan Tebar Ribuan Benih Ikan di Telaga Ngipik

“Iya listriknya dibantu tetangga. Kadang merasa malu harus merepotkan tetangga terus. Tapi mencukupi kebutuhan setiap hari saja masih kewalahan,” kata Hamim saudara nomor dua.

Hamim sebenarnya pernah bekerja sebagai pembuat songkok. Dia menjadi tulang punggung keluarga, mengingat sang kakak sejak kecil tidak bisa melihat sama sekali. Belakangan, dia berhenti bekerja karena kesehatannya yang selalu menurun.

“Dulu sempat bekerja sebagai pembuat songkok. Kini tidak bisa lagi. Penglihatan saya juga terganggu,” ucapnya.

Berita Terkait :  Dugaan Pendamping Desa Mendaftar PPK, TA Angkat Bicara

Tidak hanya Hamim, saudara bungsunya Khodijah juga tidak bekerja karena kesehatannya. Ia sebelumnya bekerja sebagai tukang jahit pakaian. Karena masalah penglihatan dengan mata katarak, ia akhirnya berhenti bekerja.

“Kalau yang paling tua memang tidak bisa ngapa-ngapain karena kondisi sejak kecil memang matanya tidak bisa melihat,” terang Hamim.

Berita Terkait :  Kasus Covid-19 di Gresik Berpotensi Meningkat, ASN Diminta Jadi Teladan Penerapan Prokes

Kini kehidupan tiga bersudara ini hanya bisa mengharap mendapatkan bantaun dari warga sekitar. Tak jarang, karena kondisi ekonomi, kata warga sekitar, keluarga ini juga kerap berpuasa. Beberapa warga yang kasihan, menyisihkan rejeki untuk mereka. Baik makanan siap saji maupun uang tunai.

Parahnya, ketiganya ini tidak mendapatkan bantuan sama sekali oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Bantuan yang diterimanya dari pemerintah hanyalah bantuan Covid-19, yang kini program itu sudah dihentikan.

Berita Terkait :  Lagi, Pasien Positif Covid-19 di Gresik Bertambah, Total 4 Orang

“Bantuan dari warga saja. Bantuan dari pemerintah tidak pernah dapat. Hanya bantuan Covid-19 kemarin saja, selian itu tidak ada lagi,” bebernya.

Menyikapi kondisi itu, Pemerintah Kabupaten Gresik melalui Dinas Sosial (Dinsos) segera akan melakukan pendataan. Kendati demikian, pendataan tidak bisa langsung mendapatkan bantuan. Harus menunggu persetujuan dari pusat.

Hal itu disampaikan oleh Kepala Dinas Sosial Gresik Sentot Supriyohadi saat dikonfirmasi pada Senin (10/5) lalu. “Diakomodir dulu dari kelurahan, kemudian nanti kita usulkan agar dapat bantuan dari program keluarga harapan atau PKH,” pungkasnya.

Facebook Comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERBARU

Facebook Comments