Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Petugas pemadam kebakaran bekerja di daerah perumahan Kyiv, Ukraina, yang dirusak oleh serangan rudal pada 26 Februari. Foto: Heidi Levine/The Washington Post.
Petugas pemadam kebakaran bekerja di daerah perumahan Kyiv, Ukraina, yang dirusak oleh serangan rudal pada 26 Februari. Foto: Heidi Levine/The Washington Post.

Hari Keempat Invasi Rusia, Ukraina Laporkan 352 Warga Sipil Terbunuh dan Ribuan Terluka Termasuk Anak-anak

Berita Baru, Kiev – Pada hari Minggu (27/2), hari keempat invasi Rusia, Kementerian Dalam Negeri Ukraina mengumumkan bahwa jumlah orang yang diketahui tewas di Ukraina setelah invasi Rusia adalah 352 warga sipil.

Setidaknya 14 dari mereka yang tewas adalah anak-anak. Kemudian sekitar 1.684 orang lainnya, termasuk 116 anak-anak, terluka, menurut kementerian.

Selain itu, setelah 4 hari Rusia melakukan invasi ke Ukraina, Kementerian juga mengumumkan bahwa 9 petugas polisi Ukraina tewas, 27 orang terluka.

“Semua [meninggal] saat melakukan tugas resmi untuk melawan musuh Rusia. Di antara yang terluka adalah yang parah,” kata pernyataan kementerian yang diunggah di laman Facebook, Minggu (27/2).

“4 hari ini telah membuktikan bahwa hanya dengan berkumpul kita bisa menjadi lebih kuat dan menaklukkan,” imbuh kementerian.

Sebelumnya, pada Sabtu (26/2), Menteri Kesehatan Ukraina, Viktor Liashko, mengatakan dalam sebuah pernyataan yang diposting ke Facebook pada hari Sabtu bahwa total 198 warga Ukraina telah tewas dalam pertempuran itu, naik dari 137 sehari sebelumnya, dengan lebih dari 1.000 terluka. Tiga anak, katanya, termasuk di antara yang tewas.

Sementara itu, Seorang penasihat Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy mengatakan pada hari Sabtu (26/2) bahwa serangan Rusia di Kyiv tidak maju dan bahwa sekitar 3.500 tentara Rusia telah tewas atau terluka sejauh ini dalam serangan Moskow di Ukraina.

“Kami menyerang musuh di sekitar Kyiv. Musuh tidak bergerak untuk saat ini,” kata Oleksiy Arestovych.

Pada gilirannya, Kepala hak asasi manusia PBB mengatakan Senin (28/2) sedikitnya 102 warga sipil, termasuk tujuh anak-anak, telah tewas di Ukraina sejak Rusia menginvasi lima hari lalu, memperingatkan jumlah sebenarnya bisa jauh lebih tinggi.

Berbicara di hadapan Dewan Hak Asasi Manusia PBB, Michelle Bachelet mengatakan kantornya telah mencatat 406 korban sipil di Ukraina, termasuk 102 kematian, sejak Rusia memulai serangan skala penuh Kamis lalu.

“Sebagian besar warga sipil ini terbunuh oleh senjata peledak dengan area dampak yang luas, termasuk penembakan dari artileri berat dan sistem roket multi-peluncuran, dan serangan udara,” katanya, memperingatkan “angka sebenarnya, saya khawatir, jauh lebih tinggi.”

Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia mengatakan penderitaan di Ukraina meluas.

Untuk berita utama terbaru, ikuti saluran Google Berita kami secara online atau melalui aplikasi.

“Jutaan warga sipil, termasuk orang-orang yang rentan dan lanjut usia, terpaksa meringkuk di berbagai bentuk tempat perlindungan bom, seperti stasiun bawah tanah, untuk menghindari ledakan,” katanya, dikutip dari kantor berita Telegraph.

Dia menunjukkan bahwa badan pengungsi PBB telah menghitung 368.000 orang yang melarikan diri dari negara itu sebagai pengungsi, dengan lebih banyak lagi pengungsi di dalam Ukraina.

“Pikiran saya tertuju pada mereka dan semua orang di seluruh dunia yang menderita,” katanya.

“Seruan untuk perdamaian dan hak asasi manusia yang datang dari individu di seluruh dunia memperingatkan kita bahwa masa depan kita tidak boleh menjadi dunia yang telah terlepas dari kewajiban yang disepakati bersama dari hukum hak asasi manusia internasional, dan dari Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia,” imbuhnya.

Akan tetapi, laporan tersebut belum dapat dikonfirmasi.

Juru bicara Komite Internasional Palang Merah di Kyiv, Mirella Hodeib mengatakan kepada Washington Post bahwa kondis warga sipil di Ukraina sangat mengkhawatirkan dan jumlah korban sangat sulit dideteksi pastinya karena selalu “naik secara eksponensial”.

“Ini situasi yang sangat mengkhawatirkan. Kami tidak tahu skala penuh konsekuensinya saat ini,” kata Mirella Hodeib, dikutip dari Washington Post, Senin (28/2).

Hodeib berbicara dari sebuah bunker di ibu kota Ukraina saat pertempuran terus berlanjut di atas tanah. Komite Internasional Palang Merah memiliki 600 anggota staf di Ukraina, kata Hodeib. Tetapi hampir semua harus berlindung, dengan kondisi yang terlalu berbahaya untuk secara efektif melacak bagaimana keadaan Ukraina sementara pasukan Rusia maju dan pesawat tempur menembakkan rudal mereka.

Selain menyebabkan kematian di pihak Ukraina dan Rusia, invasi Rusia tersebut juga mengakibatkan korban dari negara lain.

Pada Minggu (27/2), Yunani mengatakan sepuluh warga negara Yunani telah tewas dan enam lainnya terluka akibat serangan rudal Rusia di dekat kota Ukraina Mariupol.

Menanggapi hal itu, pada Senin (28/2), Yunani memanggil duta besar Rusia.

“Sepuluh warga sipil tak berdosa asal Yunani (telah) terbunuh hari ini oleh serangan udara Rusia di dekat Mariupol. Hentikan pengeboman sekarang!” Perdana Menteri Yunani Kyriakos Mitsotakis mengatakan dalam sebuah cuitan.