Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Pemandangan dari udara menunjukkan Pangkalan Penimbunan Minyak Nasional Shibushi di prefektur Kagoshima, Jepang 18 Januari 2019, dalam foto ini diambil oleh Kyodo. Foto: Reuters.
Pemandangan dari udara menunjukkan Pangkalan Penimbunan Minyak Nasional Shibushi di prefektur Kagoshima, Jepang 18 Januari 2019, dalam foto ini diambil oleh Kyodo. Foto: Reuters.

Harga Minyak Anjlok Setelah China Pangkas Kuota Impor

Berita Baru, London – Pada Kamis (30/12), harga minyak anjlok setelah China pangkas kuota impor pada batch pertama alokasi impor minyak untuk tahun 2022.

Minyak mentah berjangka Brent turun 52 sen, atau 0,7%, menjadi $78,71 per barel pada 10.22 GMT.

Sementara minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS turun 59 sen, atau 0,8%, menjadi $75,97 per barel setelah enam sesi berturut-turut naik.

Harga minyak yang anjlok itu memang sebagian besar dipengaruhi keputusan China, sebagai importir minyak mentah dunia, yang memorong batch pertama kuota impor tahun 2022 ke sebagian besar penyulingan independen sebesar 11%.

“Sentimen pasar melemah di tengah kekhawatiran bahwa pemerintah China dapat mengambil tindakan lebih keras terhadap kilang minyak (teapots),” kata seorang analis yang berbasis di Singapura, merujuk pada penyulingan independen.

Harga minyak global telah rebound antara 50% dan 60% pada tahun 2021 karena permintaan bahan bakar kembali mendekati tingkat pra-pandemi.

Selain itu, rebound tersebut juga disebabkan oleh pengurangan produksi yang serius oleh Organisasi Negara Pengekspor Minyak dan sekutunya (OPEC+) untuk menghapus pasokan yang berlebihan.

Data Administrasi Informasi Energi AS pada hari Rabu (29/12) menunjukkan persediaan minyak mentah turun 3,6 juta barel dalam seminggu hingga 24 Desember, lebih dari yang diperkirakan para analis yang disurvei oleh Reuters.

Persediaan bensin dan sulingan juga turun yang berarti permintaan tetap kuat meskipun ada rekor kasus COVID-19 di AS.

Harga minyak juga mendapat dukungan dari langkah-langkah yang diambil oleh pemerintah untuk membatasi dampak rekor kasus COVID-19 yang tinggi pada pertumbuhan ekonomi, seperti melonggarkan aturan pembatasan.

OPEC+ akan bertemu pada 4 Januari untuk memutuskan apakah akan melanjutkan peningkatan produksi pada Februari.

Raja Arab Saudi Salman mengatakan pada hari Rabu (29/12) bahwa perjanjian produksi OPEC+ diperlukan untuk stabilitas pasar minyak dan bahwa produsen harus mematuhi pakta tersebut.