Hanya Meningkatkan Ketegangan, China Tolak Resolusi IAEA

Resolusi IAEA
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Zhao Lijian

Berita Baru, Internasional – Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Zhao Lijian mengatakan bahwa China tidak mendukung resolusi Dewan Gubernur Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) karena dinilai hanya menyebabkan meningkatnya ketegangan.

Hal itu disampaikan Zhao Lijian dalam konferensi pers Senin (22/6). Dilaporkan dari Kantor Berita Republik Islam (IRNA), Zhao Lijian mendesak IAEA untuk bertindak netral dan tidak memihak. Ia juga mengharapkan sikap profesional dari IEAE dan mendukung kegiatan nuklir Iran yang damai.

Resolusi Dewan IAEA itu disahkan pada Jumat (19’6) yang menuntut akses mereka ke fasilitas-fasilitas nuklir Iran yang dianggap telah melanggar perjanjian.

Dari 35 anggota dewan IAEA, 9 negara tidak memberikan suara untuk resolusi tersebut. China dan Rusia menolak, sementara Thailand, Mongolia, Niger, Afrika Selatan, India, Pakistan dan Republik Azerbaijan memilih untuk tidak memberikan suara atau abstain.

Sementara itu, parlemen baru Iran telah mengeluarkan pernyataan yang sangat mengecam resolusi tersebut, meminta pemerintah untuk berhenti mengimplementasikan Protokol Tambahan (Additional Protocol) ke NPT (Non-Proliferation Treaty atau Perjanjian Nonproliferasi Nuklir).

Berita Terkait :  Bertemu di Sela Majelis PBB, Apa yang Dibicarakan Lavrov dan Guterres?

“Majelis Permusyawaratan Islam [parlemen Iran] mengutuk keras resolusi Dewan Gubernur Badan Energi Atom Internasional yang diusulkan oleh tiga negara Eropa Inggris, Prancis dan Jerman di bawah tekanan rezim yang berkuasa di Amerika Serikat dan rezim Zionis palsu. [Parlemen] ini menganggap resolusi sebagai contoh diskriminasi struktural oleh badan internasional,” bunyi pernyataan itu, dilansir dari Teheran News.

Pernyataan itu ditandatangani oleh 240 anggota parlemen Iran.

Pada hari Jumat (19/6), Juru bicara Kementerian Luar Negeri Abbas Mousavi mengatakan bahwa resolusi itu tidak dapat diterima dan kontraproduktif.

“Penerbitan resolusi dewan gubernur [IAEA] benar-benar kontraproduktif dan mengecewakan ketika Republik Islam Iran telah melakukan kerja sama dengan agen di tingkat tertinggi,” tegas Mousavi dalam sebuah pernyataan.

“Membesar-besarkan permintaan dewan oleh pemerintah-pemerintah tertentu dengan Amerika Serikat di atasnya, sementara dasar dari permintaan semacam itu dapat dipertanyakan, adalah upaya untuk menyebabkan krisis baru pada Iran dan kerjasama antar-dewan.” Imbuh Mousavi.

Mousavi pun mendesak para anggota dewan gubernur IAEA untuk waspada tentang upaya AS dan Zionis Israel untuk membuka kembali dokumen-dokumen lama palsu yang keraguannya telah terbukti.

Berita Terkait :  Komandan AS: Iran akan Membalas Ledakan Natanz

Mousavi juga mengutuk keras langkah Inggris, Prancis dan Jerman dalam menyusun resolusi.

“Ketiga pemerintah ini, yang tidak dapat melaksanakan kewajiban mereka di bawah JCPOA, mengambil tindakan ini untuk melarikan diri ke depan dan menghindari tanggung jawab mereka di bawah JCPOA,” Mousavi memperingatkan.

Bahkan, Mousavi juga mengecam negara-negara yang ikut mendukung resolusi tersebut. “Pendukung resolusi akan bertanggung jawab atas konsekuensi dari ketegangan dalam hubungan Iran-IAEA,” tegasnya.

Sementara itu, duta besar Iran untuk IAEA Kazem Gharibabadi juga menyesalkan resolusi tersebut.

“Iran dengan tegas menyesalkan resolusi ini dan Iran akan mengambil tindakan yang sesuai sebagai tanggapan … resolusi ini yang bertujuan meminta Iran untuk bekerja sama dengan Agensi sangat mengecewakan,” ujar Kazem Gharibabadi.

- Advertisement -

Tinggalkan Balasan