Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Hampir 50 Spesies Asli Australia Berisiko Terancam Akibat Kebakaran Hutan

Hampir 50 Spesies Asli Australia Berisiko Terancam Akibat Kebakaran Hutan

Berita Baru, Internasional – Hampir 50 spesies asli Australia terancam punah akibat kebakaran hutan yang melanda benua Australia, menurut sebuah studi yang melibatkan lebih dari 20 ilmuwan terkemuka,

Para peneliti mengidentifikasi, ada 70 spesies hewan yang sebagian besar habitatnya terdampak oleh kebakaran hutan, termasuk 49 hewan lainnya yang tidak dilindungi oleh undang-undang lingkungan nasional harus segera ditinjau.

Seperdi dilansir dari The Guardian, Selasa (21/7), potensi terancamnya keberlangsungan hidup hewan darat dan air tawar Australia mencapai 14%, yang kesemuanya dipengaruhi oleh penurunan kondisi lingkungan Australia.

Publikasi studi peer-review dalam jurnal Nature Ecology and Evolution yang terbit pada hari Senin merilis tinjauan independen undang-undang yang dikenal sebagai Undang-Undang Perlindungan Lingkungan dan Konservasi Keanekaragaman Hayati (EPBC).

Tinjauan sementara yang dipimpin oleh Graeme Samuel, mantan kepala pengawas kompetisi, menyebut bahwa lingkungan Australia berada dalam kondisi penurunan yang tidak berkelanjutan dan undang-undang tidak mampu mengatasi tantangan lingkungan saat ini dan masa depan.

Samuel merekomendasikan pengenalan standar lingkungan nasional yang menetapkan aturan yang jelas untuk perlindungan konservasi sambil memungkinkan pembangunan berkelanjutan, dan pembentukan regulator lingkungan independen untuk memantau dan menegakkan kepatuhan.

Menteri lingkungan, Sussan Ley, sepakat untuk mengembangkan standar lingkungan, tetapi menolak seruan regulasi independen. Dia mengatakan akan segera mulai bekerja pada proses akreditasi untuk menyerahkan tanggung jawab sebagian besar persetujuan lingkungan ke negara bagian dan wilayah.

Salah satu penulis studi Ekologi Alam, Prof James Watson, mengatakan undang-undang itu bisa efektif jika perlindungan ditegakkan. Sebelumnya, kebijakn ini  telah banyak dikritik karena gagal membendung krisis kepunahan yang meningkat, sementara sebagian besar pimpinan menyerahkan keputusan pada kebijakan menteri lingkungan hidup saat itu.

Para peneliti menemukan tiga spesies, diantaranya Kangaroo Island dunnart, potoroo kaki panjang dan tokek ekor Kate – yang 80% habitatnya terbakar. Sementara hewan yang tidak dilindungi dan memerlukan kebijakan perlindungan termasuk tokek dan possum bertelinga pendek.

Watson, dari sekolah ilmu bumi dan lingkungan Universitas Queensland mengatakan, negara itu perlu melindungi “tempat-tempat besar dan utuh” yang belum mengalami kebakaran, penebangan atau pembangunan.

“Mereka sangat penting untuk kelangsungan hidup spesies ini,” katanya. “Jika kita tidak melakukannya, kita akan kehabisan waktu dan kehilangan spesies ini dalam kebakaran berikutnya, atau setelah itu.”

Studi lintas institusi yang dikoordinasikan oleh Michelle Ward, seorang mahasiswa doktoral University of Queensland mencatat, kebakaran antara Juli 2019 dan Februari 2020 di Australia 50 kali lebih luas dan lebih besar dalam tingkat spasial dan tingkat keparahannya dibandingkan kebakaran hutan terburuk yang tercatat di California dan lima kali lebih besar dari kebakaran di Amazon tahun lalu.

Sekitar 97.000 km persegi vegetasi terbakar di daerah di selatan dan timur Australia yang merupakan rumah bagi setidaknya 832 spesies hewan asli. Studi ini terbatas dan tidak mempertimbangkan dampak pada tanaman, invertebrata dan ikan air tawar dan kura-kura.

Ward mengatakan, penurunan spesies juga dipengaruhi oleh kekeringan, penyakit, perusakan habitat dan dampak dari spesies invasif.

“Penelitian kami menunjukkan megafire ini mungkin membuat situasinya jauh lebih buruk dengan mengurangi ukuran populasi, mengurangi sumber makanan dan menjadikan habitat tidak cocok selama bertahun-tahun,” katanya.

“Kita harus membantu pemulihan populasi di wilayah yang terbakar maupun yang tidak terbakar. Ini berarti secara ketat melindungi habitat penting, seperti tempat perlindungan yang tidak terbakar.”

Watson mengatakan studi ini adalah pemeriksaan paling komprehensif hingga saat ini mengenai dampak kebakaran pada spesies, yang mengumpulkan data dari seluruh negara.

Ia juga menambahkan bahwa, adalah kepentingan manusia untuk terus menjaga dan hidup dengan alam. Melampaui nilai intrinsiknya, ia membantu menciptakan hujan, mencegah kekeringan, menyimpan karbon dioksida dan memulihkan kesehatan mental.

“Saya yakin dengan kepemimpinan nyata kita dapat melihat perubahan dan hidup dengan satwa liar, tetapi kita membutuhkan seseorang untuk melangkah dan mengatakan manusia tidak dapat memiliki segalanya,” katanya. “Kita juga membutuhkan alam.”

Berdasarkan investigasi oleh Guardian Australia, telah ditemukan bahwa selain masalah undang-undang, malasah lain yang memicu penurunan adalah pemantauan yang buruk terhadap spesies yang terancam punah, keterlambatan utama dalam daftar spesies dan ekosistem yang terancam, kegagalan untuk mengembangkan dan menerapkan rencana pemulihan, kegagalan untuk melindungi habitat penting dan pendanaan spesies terancam yang digunakan untuk proyek yang tidak menguntungkan spesies yang terancam.