Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Lasem

Hakam Kurniawan, Kesengsem Lasem, dan Kreasi Kuasai Pandemi

Berita Baru, Tokoh – Sebagai kota pusaka, Lasem tidak bisa lepas dari paparan Pandemi. Situs-situs khas abad ke-19 yang biasanya ramai pengunjung—untuk wisata masa lalu—kali ini lengang. Sentra-sentra batik sepi pembeli. Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang baru menggeliat pun dipaksa untuk lari beradaptasi dengan pasar digital.

Meski demikian, Lasem menolak untuk menyerah. Kreasi berbagai pihak muncul silih berganti untuk melampaui Pandemi COVID-19, khususnya dari anak-anak muda yang tergabung dalam komunitas peduli Lasem.

Salah satu di antaranya adalah Yayasan Lasem Heritage (YLH) atau yang lebih populer dengan sebutan Kesengsem Lasem.

Sebagaimana disampaikan Peneliti Yayasan Lasem Heritage (YLH) Hakam Kurniawan dalam Gelar Wicara Bercerita ke-83 Beritabaru.co pada Selasa (8/2), Kesengsem Lasem menginisiasi dua (2) program untuk kepentingan tersebut, yakni virtual tour dan Pasar Rakyat Lasem.

Virtual tour merujuk pada tamasya daring yang disediakan sebagai alternatif bagi wisatawan yang ingin keliling Lasem tapi terhalang Pandemi.

“Ini adalah bentuk adaptasi kami terhadap Pandemi. Jadi, meski pandemi, orang-orang masih bisa mendatangi dan menikmati situs-situs di Lasem secara daring,” jelas Hakam, sapaan akrabnya.

Program daring ini berkaitan erat dengan cabang-cabang milik Kesengsem Lasem yang Hakam menyebutnya discovery Lasem.

Bagi siapa pun yang mau wisata daring ke Lasem bisa menghubungi kami lewat discovery Lasem,” ungkapnya.

Ketika virtual tour lebih pada bangunan dan situs, maka Pasar Rakyat Lasem pada UMKM.

Hakam menuturkan, progam Pasar Rakyat Lasem ditujukan untuk membantu pelaku bisnis mikro di Lasem agar usahanya tidak jatuh karena pandemi.

Kesengsem Lasem membantu mereka dalam bentuk pemasaran. “Program ini semacam ingin membantu memasarkan produk-produk UMKM di Lasem,” kata Hakam dalam diskusi yang ditemani oleh Rinda Rachmawati, host Beritabaru.co.

Lasem kota Pusaka

Pada Januari 2022, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Rembang meresmikan 32 bangunan di Lasem sebagai Cagar Budaya Kabupaten. Peresmian ini semakin menguatkan kesan bahwa Lasem adalah kota pusaka (heritage city).

Hakam sendiri menyampaikan, Lasem memang unik dan layak untuk menyandang gelar Kota Pusaka. Ada tiga (3) hal setidaknya mengapa Lasem pantas, tegasnya, antara lain: situs-situs masa lalu pecinan yang khas dibanding daerah pecinan lainnya, batik Lasem yang merepresentasikan sejarah, dan tingkat toleransi yang tinggi.

“Batik Lasem itu berkualitas tinggi di pasar dan di Lasem juga tingkat toleransinya bagus. Akulturasi antara Cina dan Jawa masih terjaga hingga hari ini. Contohnya adalah Pesantren di Kauman,” ungkap Hakam.

Lebih jauh, terkait revitalisasi dan konservasi Kota Lasem, menurut Hakam berbagai pihak sudah saling sinergi untuk melakukannya, seperti antara Pemkab, pelaku bisnis, dan masyarakat.

Kendati begitu, Hakam menegaskan bahwa Kesengsem Lasem dan komunitas-komunitas peduli Lasem lainnya komitmen untuk selalu mendampingi Lasem dalam kaitannya dengan rencana pembangunan di dalamnya.

Perlu diketahui, Kesengsem Lasem berdiri sejak 2015 dan bergerak di bidang pelestarian budaya baik benda atau pun non-benda yang ada di Lasem dan sekitarnya.

Pada 2018, Kesengsem Lasem baru didaftarkan menjadi Yayasan, yaitu Yayasan Lasem Heritage. Ada beberapa program yang menjadi prioritas mereka selama ini. Di antaranya adalah membangun klinik belajar, membuat lingkaran diskusi kecil, kelas pelestarian dengan menggandeng institusi bersangkutan, dan sebagainya.