Berita

 Network

 Partner

Haftar
Blokade menyebabkan kerugian besar di Libya, karena minyak adalah sumber utama pendapatan Libya. Foto: Ismail Zitouny / Reuters.

Haftar Umumkan Pencabutan Bersyarat Blokade Minyak Libya

Berita Baru, Internasional – Pada hari Jumat (18/9), komandan militer Tentara Nasional Libya (LNA) Khalifa Haftar mengumumkan pencabutan bersyarat terkait blokade berbulan-bulan di ladang minyak dan pelabuhan oleh pasukannya.

“Kami telah memutuskan untuk melanjutkan produksi dan ekspor minyak dengan syarat distribusi pendapatan yang adil,” kata Haftar di televisi nasional, dikutip dari Aljazeera.

Selain itu, Haftar juga menekankan bahwa hasil dari produksi itu ‘tidak akan digunakan untuk mendukung terorisme.’

Bermula pada awal tahun 2020, LNA dan Haftar menutup dan memblokade ladang minyak dan terminal negara itu dalam upaya untuk menekan saingan mereka, yaitu Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) yang berbasis di Tripoli.

Berita Terkait :  Konflik Libya: Trump Bahas Zona Demiliterisasi dengan Erdogan

Blokade dan penutupan menyebabkan kerugian besar di Libya, karena minyak adalah sumber pendapatan utama negara itu.

Kelompok  pendukung Haftar yang didukung oleh Petroleum Facilities Guard memblokade ladang minyak utama dan terminal ekspor pada 17 Januari sebagai upaya menuntut apa yang mereka sebut bagian yang adil dari pendapatan hidrokarbon.

Libya sendiri merupakan negara yang memiliki cadangan minyak terbesar di Afrika. Menurut perusahaan minyak nasional Libya, National Petroleum Company (NOC), blokade dan penutupan itu mengakibatkan hilangnya pendapatan lebih dari US$ 9,8 miliar dan memperburuk kekurangan listrik dan bahan bakar di Libya.

Haftar juga menegaskan pada hari Jumat (18/9) bahwa komando pasukannya telah mengesampingkan semua pertimbangan militer dan politik untuk mencegah ‘memburuknya kondisi kehidupan’ di Libya.

Berita Terkait :  Pemerintah Libya Temukan Kuburan Massal dari Kota yang Direbut Kembali

Pernyataan Haftar itu muncul setelah ratusan warga Libya melakukan protes pekan lalu di kota timur Benghazi, salah satu benteng Haftar, dan kota-kota lain atas korupsi, pemadaman listrik, dan kekurangan bensin dan uang tunai.

Pada awalnya, mereka melakukan protes secara damai. Namun, protes berubah menjadi tidak terkendali. Pada hari Minggu (13/9), pengunjuk rasa membakar markas besar pemerintah timur paralel di Benghazi dan menyerang kantor polisi di Al-Marj.

Petugas polisi menembakkan peluru tajam untuk membubarkan mereka di Al-Marj. Atas insiden itu, menurut saksi mata dan misi PBB di Libya, menewaskan sedikitnya satu orang dan melukai banyak orang.

Melihat ke belakang, Libya berada dalam kekacauan sejak pemberontakan yang didukung NATO menggulingkan dan membunuh diktator lama Muammar Gaddafi pada 2011.

Berita Terkait :  WhatsApp Desktop Sekarang Bisa Lakukan Panggilan Suara dan Video

Pendapatan minyak negara dikelola oleh NOC dan Bank Sentral Libya. Kedua ‘sumber pendapatan’ itu berbasis di Tripoli.

LNA, yang mendapat dukungan dari Mesir, Uni Emirat Arab dan Rusia, melancarkan serangan terhadap Tripoli pada April tahun lalu.

Setelah 14 bulan pertempuran sengit, pasukan pendukung GNA yang didukung oleh Turki mengusir pasukannya dari sebagian besar Libya barat dan mendorong mereka ke Sirte, pintu gerbang ke ladang minyak Libya yang kaya dan terminal ekspor.