Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Gus Hilmy
Anggota Komite I Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Dr. H. Hilmy Muhammad, M.A. sebagai keynote speaker dalam Webinar Alumni PCI NU Se-Dunia; Road to Muktamar Lampung dengan tema NU Global; Berkhidmah Tanpa Batas, melalui aplikasi Zoom, pada Kamis (16/12). (Foto: Tangkap Layar)

Gus Hilmy Sampaikan Landasan Khidmah dan Tantangan NU ke Depan



Berita Baru, Jakarta – Menghadapi tantangan ke depan, tiga hal penting yang perlu menjadi perhatian Nahdlatul Ulama (NU) adalah ideologisasi, sinergi, dan berpikir global. Ketiganya perlu diwujudkan demi kebaikan NU di era Kebangkitan Kedua (an-Nahdlah ats-Tsaniyah).

Hal tersebut disampaikan oleh Dr. H. Hilmy Muhammad, M.A. dalam perannya sebagai keynote speaker dalam Webinar Alumni PCI NU Se-Dunia; Road to Muktamar Lampung dengan tema NU Global; Berkhidmah Tanpa Batas melalui aplikasi Zoom pada Kamis (16/12) malam.

“Ideologisasi dengan memperbanyak kaderisasi, patut dimarakkan kembali agar warga NU tahu arah perjuangan, visi, misi dan tujuan organisasi, kelebihan dan kekurangan, siapa lawan (dalam pengertian positif) dan siapa kawan,” kata Gus Hilmy.

Senator asal D.I. Yogyakarta tersebut menjelaskan, di antara caranya adalah memperbanyak pendidikan kader di setiap level organisasi, seperti IPNU-IPPNU, Fatayat, Ansor-Banser, PMII, NU sendiri: PKNU-MKNU. Di sisi lain, pondok pesantren juga perlu memberikan materi khusus ke-NU-an.

“Kedua, hal penting yang harus mendapat perhatian adalah soal sinergi. Sinergi semua komponen NU agar sesama kader saling mendukung dan tidak saling memotong demi mengupayakan maslahat NU,” kata anggota Komite I Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI tersebut.

Sinergi yang dimaksud Gus Hilmy adalah sinergi antar pengurus, antar bank, antarlembaga, atau pengurus dengan banom atau lembaga dengan banom dan lain sebagainya.

Bagi Gus Hilmy ​​sinergi itu dapat diwujudkan dengan cara pengelolaan potensi jama’ah NU. Ini juga mengharuskan kita punya rumusan praktis tentang ukhuwah nahdliyyah sehingga dapat dengan mudah laksanakan, apa yang harus dilakukan sebagai kader NU di level masing-masing.

“Yang ketiga adalah berpikir global. NU sudah sepatutnya bicara urusan global, bicara keluar, out of box. Jangan hanya bicara NKRI dan Pancasila, tapi juga bicara tentang teknologi, informasi, dan kedokteran. Melalui apa? Melalui peningkatan kualitas perguruan tinggi-perguruan tinggi, rumah sakit-rumah sakit, media-media dakwah, dan sarana komunikasi digital kita,” jelas alumni PCI Sudan dan Malaysia tersebut.

Yang terpenting dalam berorganisasi, menurut wakil Rais Syuriah PWNU DIY itu adalah bagaimana semua anggota maju bersama-sama, berkembang bersama-sama, sejahtera bersama-sama. Jika ada satu atau dua orang yang maju sendiri, tujuan berorganisasi bisa dikatakan kurang berhasil alias gagal.

Gus Hilmy juga mengingatkan lima prinsip dasar sebagai landasan khidmah kader NU yang disampaikan oleh Allahuyarham K.H. Ali Maksum, yaitu (1) ats-Tsiqatu bi Nahdlatil Ulama, setiap warga NU harus mempercayai NU sebagai tuntunan hidup yang sesuai. (2) al-ma’rifatu bi NU, warga NU harus memahami NU secara keseluruhan. (3) al-amalu bi Ta’alimi NU, warga NU harus mengamalkan ajaran dan tuntunan NU. (4) al-Jihadu fi Sabili NU, berjuang dengan spirit dan dasar-dasar perjuangan ala NU. (5) ash-Shabru fi Sabili NU, sabar dalam ber-NU.

Webinar ini diikuti oleh  PCI NU dari berbagai negara, di antaranya adalah Suriah, Turki, Mesir, Sudan, Lebanon, Tunisia, Libya, Maroko, Yordania, Yaman, Hongkong, Korea, Jepang, Malaysia, United Kingdom, dan Amerika.

Hadir pula tokoh-tokoh NU yang menyampaikan pandangannya, yaitu K.H. Taj Yasin Maimoen Zubair (Wakil Gubernur Jawa Tengah), Dr. H. Emil Dardak (Wakil Gubernur Jawa Timur), dan Dr. K.H. Afifuddin Dimyathi, M.A. (Katib Syuriah PBNU).