Berita

 Network

 Partner

Gus Hilmy
Gus Hilmy pada Seminar Nasional Kebangsaan Hari Santri 2021 yang diselenggarakan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Yogyakarta pada Selasa (19/10).

Gus Hilmy: Hubbul Wathan Minal Iman Sudah Didiskusikan Sekitar 500 Tahun Lalu

Berita Baru, Yogyakarta – Pengasuh Pondok Pesantren Ali Maksum Krapyak Yogyakarta, Hilmy Muhammad mengatakan hubbul wathan minal iman bukan diungkapkan pertama kali oleh seorang misionaris Kristen bernama Butrus Bustani. Tapi ungkapan tersebut sudah didiskusikan di antaranya oleh Imam Sakhawi lebih dari 500 tahun yang lalu.

Hal ini disampaikan Gus Hilmy pada Seminar Nasional Kebangsaan Hari Santri 2021 yang diselenggarakan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Yogyakarta pada Selasa (19/10).

“Yang mengatakan bahwa hubbul wathan minal iman disampaikan oleh Butrus Bustani (1819 M) adalah pemahaman sejarah yang keliru. Sementara lebih dari 500 tahun yang lalu, Imam Sakhawi (1438 M) sudah berdialog terkait jargon tersebut,” tegas pria yang juga anggtoa DPD RI itu.

Berita Terkait :  Anggota MPR Sebut Indonesia Masih Dijajah di Sektor Ekonomi

Menurutnya, jargon itu memang bukan hadits, tapi kebenaran pengertian itu bisa dibuktikan melalui pernyataan-pernyataan Nabi Muhammad yang menunjukkan kecintaan beliau terhadap tanah air.

“Selain hubbul wathan minal iman, NU juga memiliki jargon “NKRI Harga Mati”. Keniscayaan dari kedua jargon itu santri harus mengambil peran dengan sebaik-baiknya,” katanya.

“Ketika mencintai negeri kita, maka kewajiban kita adalah berupaya dan memberikan partisipasi semampu kita. Santri dengan demikian tidak cukup belajar agama, tetapi bagaimana berperan dan berupaya mengisi pos-pos yang ada di negara,” imbuhnya.

Dalam memperingati Hari Santri 2021 ini, Gus Hilmy menegaskan bahwa santri harus mengambil peluang yang terbuka luas pada saat ini untuk mendapatkan akses pendidikan tinggi.

Berita Terkait :  Balai Rukyat Condrodipo, Aset Baru PCNU Gresik

“Demikian pula dari sisi kebersihan dan kesehatan pesantren, kita tidak boleh memiliki standar yang buruk. Justru kita harus memantaskan diri bahwa kita layak diberi Hari Santri dan UU Pesantren,” katanya.

Di akhir materinya, Gus Hilmy mengatakan santri harus memiliki mentalitas pemenang dan tidak minderan. Hal ini agar santri bisa meningkat kualitas diri sehingga dapat mengisi ruang-ruang sesuai minat.