Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Greta Thunberg: KTT Iklim Internasional Omong Kosong dan Kemunafikan Para Politisi
(Foto: The Guardian)

Greta Thunberg: KTT Iklim Internasional Omong Kosong dan Kemunafikan Para Politisi


Berita Baru, Internasional – Greta Thunberg, aktivis iklim muda asal Swedia mengecam para politisi dengan menyebutnya ‘munafik’ terkait omong kosong Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) iklim internasional.

Sampai ketika manusia mengakui kegagalannya dalam mengatasi krisis iklim dan mulai mengambil langkah darurat sebagaimana pandemi, kata Thunberg, masyarakat tidak akan dapat menghentikan pemanasan global, katanya.

Dalam sesi wawancara dengan The Guardian, Thunberg mengatakan, para pemimpin memang mudah untuk membuat target pengurangan emisi dengan beberapa dekade seperti yang direncanakan, tetapi katanya sekali lagi bahwa tidak ada politisi di planet ini yang akan dia pilih: “Seandainya saja ada” kata remaja yang akan berusia 18 tahun pada Januari mendatang.

Gerakan mogok sekolah untuk emisi yang dipeloporinya sendiri setiap hari Jumat sejak 2018 di depan Gedung Parlemen Swedia telah menginspirasi jutaan gerakan oleh para siswa di dunia.

Tidak hanya itu, tahun lalu dia juga menjadi juru kampanye iklim terbesar di dunia dan menantang para pimpinan dunia dengan pidatonya yang cadas di PBB.

“Kita semestinya memperlakukan krisis sebagaimana krisis terjadi, seperti krisis virus corona, memperlakukan krisis iklim juga sebagaimana krisis – itu bisa mengubah segalanya dalam semalam,” tegasnya.

Thunberg mengatakan, skala dan kecepatan pengurangan emisi yang diperlukan untuk menjaga suhu global mendekati batas yang ditetapkan oleh perjanjian iklim Paris sangat besar sehingga tidak dapat dicapai dengan operasi normal masyarakat. “Seluruh masyarakat kami akan ditutup dan terlalu banyak orang akan menderita,” katanya.

“Jadi, hal pertama yang perlu kita lakukan adalah memahami bahwa kita berada dalam keadaan darurat dan mengakui fakta bahwa kita telah gagal – umat manusia secara kolektif telah gagal – karena Anda tidak dapat menyelesaikan krisis yang tidak Anda pahami,” kata Thunberg menambahkan.

KTT iklim PBB yang sifatnya mendesak sebelumnya telah dijadwalkan dilaksanakan di Glasgow ditunda selama satu tahun karena Covid-19. Namun, Thunberg mengatakan dia tidak kecewa dengan penundaan tersebut: “Selama kita tidak memperlakukan krisis iklim seperti krisis, kita dapat mengadakan konferensi sebanyak yang kita inginkan, tetapi itu hanya akan berupa negosiasi, kata-kata kosong, celah dan greenwash.”

Seperti yang dikatakannya, Thunberg juga tidak terkesan dengan janji negara-negara seperti Inggris, China, dan Jepang untuk mencapai nol emisi pada tahun 2050 atau 2060. “Itu hanya bagian dari simbolis. Kita tidak boleh berfokus pada 10, 20, atau bahkan 30 tahun ke depan. Jika kita tidak mengurangi emisi kita sekarang, maka target yang jauh itu tidak akan berarti apa-apa karena anggaran karbon kita akan habis.”

Kecaman Thunberg sangat pedas kepada anggota parlemen UE yang pada bulan Oktober lalu menyetujui hampir € 400 miliar (£ 360 miliar) dana subsidi bagi petani. Pertanian bertanggung jawab atas sekitar seperempat dari seluruh emisi gas rumah kaca, dan Thunberg berkata: “Ini adalah bencana bagi iklim dan keanekaragaman hayati.”

Dia mengatakan anggota parlemen telah meminta dukungannya pada bulan September ketika UE memutuskan target pengurangan emisi pada tahun 2030. “Ketika ini tentang sesuatu yang dalam waktu 10 tahun, mereka sangat senang untuk memilihnya karena itu tidak sangat memengaruhi mereka. Tetapi ketika itu adalah sesuatu yang benar-benar berpengaruh, di sini sekarang, mereka tidak ingin menyentuhnya. Itu benar-benar menunjukkan kemunafikan.”

Keadilan adalah inti dari kampanyenya, kata Thunberg. “Itulah akar dari semua ini,” katanya. “Itulah mengapa kami memperjuangkan keadilan iklim, keadilan sosial. Mereka sangat terkait, Anda tidak dapat memiliki satu tanpa yang lain. “

“Krisis iklim hanyalah salah satu gejala dari krisis yang jauh lebih besar, (termasuk) hilangnya keanekaragaman hayati, hilangnya tanah subur, tetapi juga termasuk ketidaksetaraan dan ancaman terhadap demokrasi,” katanya. “Ini adalah gejala bahwa kita tidak hidup secara berkelanjutan: kita telah mencapai ujung jalan.”

Tentang kampanye, Thunberg berkata: “Kami perlu melakukan segala yang kami bisa untuk mendorong ke arah yang benar. Tetapi saya tidak melihat pentingnya menjadi optimis atau pesimis, saya hanya realistis. Itu tidak berarti saya tidak bahagia, saya sangat bahagia. Anda perlu bersenang-senang, dan saya memiliki lebih banyak hal sekarang daripada sebelum saya mulai berkampanye untuk ini. Saat hidup Anda bermakna, Anda menjadi bahagia.”