Berita

 Network

 Partner

Gerakan Ekonomi Hijau Pasca Pandemi

Gerakan Ekonomi Hijau Pasca Pandemi

Perbincangan ekonomi hijau atau ekonomi yang ramah lingkungan mulai banyak terdengar dan terlihat di layar kaca. Kepedulian individu dan kelompok akan ekonomi hijau ini patut disambut baik. Pandemi telah menyadarkan banyak orang akan pentingnya ekonomi hijau.

Bahkan, Kamis lalu Presiden Joko Widodo memberikan harapan besar untuk Indonesia menghadapi berbagai tantangan lingkungan global, terutama krisis iklim. Jokowi juga mengatakan bahwa ekonomi hijau sebagai salah satu strategi besar ekonomi. Hal itu disampaikannya pada Peresmian Pembukaan Sarasehan 100 Ekonom Indonesia di Istana Negara

Persoalan bumi ini banyak sekali, mulai dari perubahan iklim, pencemaran lingkungan, dan bencana alam. Kemarau kali ini sangat rentan dengan yang namanya kebakaran hutan. Cuaca yang tak menentu dan panas terik mengakibatkan hutan mudah terbakar.

Kejadian tersebut patut menjadi perhatian. Sehingga garapan besarnya presiden tidak hanya sekedar mewacanakan ekonomi hijau dan mendukungnya, tapi harus membuat langkah kongkrit. Karena kita ketahui bersama ekonomi hijau bukan lah sekedar jargon belaka.

Francis Wahono dalam bukunya Ekonomi Hijau mengkategorikan ekonomi hijau adalah program berkelanjutan. Ada dua hal penting dalam pembangunan berkelanjutan ini. Pertama, adalah pembangunan berkelanjutan secara umum, dan kedua pembangunan berkelanjutan berbasis komunitas.

Berita Terkait :  Generasi Hijau Desak Stimulus Fiskal Hijau dalam APBN 2022

Ekonomi hijau secara umum bukan berarti pembangunan berkelanjutan, tapi ialah pembangunan berkelanjutan pada kata kerja. Maka, pembangunan berkelanjutan di sini adalah proses dari pada hasil akhir.

Secara umum, ekonomi hijau adalah proses bagaimana segala aktivitas ekonomi ini tidak merusak kelestarian alam. Bagaimana segala hal yang berbau produksi dan lainnya tidak mengganggu keseimbangan alam. Jika produksi atau pembangunan malah merusak kelestarian alam, maka ekonomi hijau atau pembangunan berkelanjutan akan berhenti.

Kedua, pembangunan berkelanjutan berbasis komunitas. Ekonomi hijau pada skala ini adalah pembangunan berkelanjutan yang dilakukan dan digerakkan pada level komunitas. Di sini dibutuhkan kesadaran komunitas dalam menggagas dan menjalankan ekonomi yang tidak merusak kelestarian alam.

Ekonomi hijau berbasis komunitas ini dilakuka pada suatu wilayah atas inisiatif-inisiatif baru. Komunitas memiliki peran penting menyelamatkan lingkungannya dari bencana. Komunitas juga bertanggung jawab atas keadilan, kesejahteraan, dan ketercukupan gizi kelompoknya.

Berita Terkait :  Pendidikan Kritis; Berwawasan Lokal Berorientasi Maju

Perang dagang skala global mengintai kelompok-kelompok kecil, di sini berarti masyarakat. Ekonomi hijau seperti apa yang ingin dikembangkan oleh negara. Ekonomi hijau tidaklah mudah untuk dijalankan, terlebih melihat kondisi alam dan kebiasaan manusia yang tengah bergantung pada teknologi.

Bagaimana menggerakkan masyarakat agar kembali melek terhadap keberlangsungan hidupnya tanpa menciderai lingkungan? Ini sebuah tantangan besar. Apalagi pasca pandemi ini.

Ekonomi hijau kerap kaitannya dengan pembangunan yang organik yang tidak merusak ekosistem. Marie Rodale, 2010, mengusulkan lima manifesto organik, yakni. Pertama, pemerintah haruslah melarang pertanian kimiawi (non organik) dan penyebaran produk genetical modifiy microorganism (GMOs).

Kedua, petani hanya menyuplai permintaan produk pertanian yang organis. Ketiga, swasta harus hanya melakukan solusi pertanian yang inovatif dan kreatif yang organis. Keempat, para ekonom, khususnya pertanian dan pembangunan hanya mengukur ketahanan dan kedaulatan pangan yang tentunya organis, bukan pertumbuhan.

Kelima, semua konsumen pangan minta pangan yang organis, atau mengkonsumsi pangan yang organis. Kelima usulan itu bisa menjadi alternatif dalam membangun ekonomi hijau di negeri ini. Mulai dari hulu dan hilir.

Berita Terkait :  Musrenbangnas; Jakowi Tegas Lanjutkan Pembangunan Infrastruktur

Kebijakan pertanian organik, produksi pangan secara organis, dan konsumen memilih makannya yang organik. Dari sanalah jika ekosistem itu dikembangkan dari sekala kecil terlebih dahulu makan ekonomi hijau akan berkelanjutan hingga pada skala yang lebih besar.

Tantangan Gerakan ekonomi hijau selain pada sektor pangan adalah pada sektor tekstil dan transportasi. Gaya hidup manusia yang konsumtif juga perlu mengontrol cara hidupnya. Masyarakat juga perlu diajak untuk mengenakan pakaian yang ramah lingkungan dan berkendara tanpa mengotori udara.

Banyak sekali hal yang perlu dilakukan pasca pandemi ini. Salah satunya lagi adalah sampah masker medis. Dari jutaan orang pemakai masker medis, ke mana mereka membuangnya? Apakah ada bank sampah yang memilah masker-masker itu? Semoga ada ide segar yang bisa melengkapi persoalan sampah medis ini. Bisakah kita membuat masker organik yang ramah lingkungan?

Penulis: Husni Yusuf (Mahasiswa Undip dan suka membaca buku soal ekologi, ekonomi, dan sosial).