Gelombang Tarif Baru AS kepada China Mulai Berlaku Hari Ini

Tarif Baru

GBerita Baru, Internasional – AS akan memberlakukan tarif baru pada barang-barang China mulai hari ini, Minggu (1/9). Pemberlakuan tarif baru ini menandai eskalasi tajam dari perang perdagangan yang memanas antara dua ekonom terbesar di dunia tersebut.

Langkah ini merupakan tahap pertama dari rencana terbaru Presiden AS Donald Trump untuk menempatkan bea 15% pada $300 miliar impor China pada akhir tahun.

Beijing mengatakan pihaknya memiliki ‘cukup’ cara untuk membalas, sambil lalu kedua belah pihak melakukan negosiasi perdagangan.

Jika diberlakukan sepenuhnya program Trump, hampir semua impor China–bernilai sekitar $550 miliar–akan dikenakan tarif hukuman. Perang dagang ini pada awalnya merupakan perselisihan atas praktik perdagangan yang diduga tidak adil di China semakin dipandang sebagai perebutan kekuasaan geopolitik.

Sejauh ini, Washington telah mengenakan tarif sekitar $250 milyar pada barang-barang China, sementara Beijing telah membalas dengan tarif $110 milyar dari produk-produk AS.

Sebuah analis mengatakan, jika mengingat eskalasi terbaru, prospek resolusi terlihat suram.

“Sulit pada tahap ini untuk melihat bagaimana mungkin ada kesepakatan atau setidaknya kabar bagus,” kata Julian Evans-Pritchard, seorang ekonom senior China di Capital Economics, mengatakan kepada BBC.

Berita Terkait :  Intelijen AS Tidak Menemukan Bukti Persekongkolan Trump dan Rusia

“Sejak pembicaraan terhenti pada Mei, posisi kedua belah pihak telah menegang dan ada komplikasi lain, yaitu larangan Huawei dan protes Hong Kong, yang membuatnya semakin sulit untuk menjembatani kesenjangan,” tambahnya.

Putaran pertama tarif akan diperkenalkan pada 1 September dan analis memperkirakan tarif tersebut akan menargetkan impor senilai sekitar $150 miliar. Produk yang akan ditargetkan pada bulan September berkisar dari daging dan keju hingga pena dan alat musik.

Mulai 15 Desember, fase kedua tarif 15% akan diluncurkan pada sisa barang China yang sebelumnya. Ini termasuk teknologi seperti telepon dan komputer yang Presiden Trump berusaha lindungi sampai sekarang.

Sumber : BBC 
- Advertisement -

Tinggalkan Balasan