Berita

 Network

 Partner

Ernawati Eko Hartono
Plt. Kepala Bagian Kerja Sama Dalam Negeri dan Hibah pada Biro Perencanaan KLHK, Ernawati Eko Hartono dalam gelar wicara Bercerita ke-69 Beritabaru.co, Selasa (12/10).

Ernawati Eko Hartono, Hutan, dan Keadian Gender

Berita Baru, Tokoh – Peran perempuan untuk pengelolaan hutan lestari tidak bisa diabaikan. Kehadiran mereka untuk menjaga hutan memiliki dampak nyata dan jauh dari kesan mementingkan diri sendiri.

Secara tidak langsung, begitulah yang menjadi pijakan Ernawati Eko Hartono Plt. Kepala Bagian Kerja Sama Dalam Negeri dan Hibah pada Biro Perencanaan Sekretariat Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) ketika membincang soal perempuan dan hutan dalam gelar wicara Bercerita ke-69 Beritabaru.co, Selasa (12/10).

Kesadaran Erna, sapaan akrabnya, atas peran perempuan di atas membawanya pada satu kesimpulan bahwa gender harus diperbincangkan secara berkala, setidaknya di lingkaran KLHK.

“Gender harus dibahas secara kuat oleh para ASN di lingkungan KLHK,” katanya dalam diskusi yang ditemani oleh Aulina Umaza ini.

Saking mendesaknya, bahkan Erna mengandaikan adanya intervensi yang masif dan berkelanjutan agar gender diperbincangkan secara terus-menerus.

Dan dalam lingkungan KLHK, salah satu wujud dari upaya agar gender didiskusikan oleh seluruh jajarannya adalah adanya Festival Gender.  

Erna menceritakan, Festival Gender ini dilaksanakan selama 5 (lima) bulan secara daring.

“Ya karena masih pandemi, ini harus diselenggarakan daring dan bukan 2 atau 3 minggu ya, tapi 5 bulan. Waktu yang saya pikir cukuplah untuk membuat teman-teman biasa untuk membincang isu gender,” jelasnya.

Festival Gender memiliki empat (4) fitur atau kegiatan utama, kata Erna, yakni GLEADS, TEACH, GENERATION, dan PESTA.

Berita Terkait :  KLHK Tegaskan Komitmen Pembangunan Adil Gender

GLEADS adalah singkatan dari Gender Leader Summit. Fitur ini diperuntukkan sebagai ruang percakapan bagi para eselon II, sehingga tingkatnya tinggi.

“Setiap 2 minggu, mereka harus bertemu dan membincang soal gender. Dan di akhir nanti akan ada pula konferensi tingkat tinggi untuk mereka,” ungkap Erna.

Adapun TEACH merujuk pada Training for Ecogender Activation Hub. Fitur ini diperuntukkan bagi jajaran KLHK di level eselon III dan staf teknis.

TEACH diikuti pula oleh sekitar 1000 ASN. Sebab di dalamnya ada kelas diskusi dan pertemuan setiap 2 minggu untuk membedah isu spesifik soal gender.

Kemudian yang ketiga tidak lain adalah Gender Competition (GENERATION). Fitur ini lebih sebagai wadah bagi para peserta untuk secara menyenangkan mengadu komitmennya dalam melibatkan diri ke isu gender.

“Seluruh unit kerja KLHK sedang mengikuti lomba ini,” kata Erna.

Terakhir PESTA adalah singkatan dari Pekan Ecogender dan Pelestarian Alam. Seperti perlombaan pada umumnya, di akhir acara selalu akan ditutup dengan pesta.

“Di acara penutupan ini, nanti Bu Menteri akan memberikan hadiah pada para champions KLHK,” ujar Erna.

Menurut Erna, dengan adanya Festival Gender ini, KLHK dalam tempo 4 tahun ke depan akan memiliki banyak champion dengan kesadaran gender yang baik.

Ketika KLHK sudah memiliki itu, otomatis nanti akan lahir komunitas-komunitas gender dalam lingkungan KLHK. Asumsinya, para champion akan senantiasa mengisukan gender di setiap kegiatan kerjanya di KLHK.

Berita Terkait :  Profil Singkat Gus Yaqut, Menteri Agama Baru Kabinet Indonesia Maju

Kesadaran gender dan pengelolaan hutan

Pentingnya mendorong terciptanya kesadaran gender di benak jajaran KLHK, kata Erna, berhubungan erat dengan efektivitas dalam mengelola hutan.

Erna menyampaikan tiga (3) alasan tentang itu. Pertama, pengelolaan hutan akan berjalan efektif ketika akses terhadapnya sama antara perempuan dan laki-laki.

“Pengelolaan hutan penting untuk melibatkan laki-laki dan perempuan, mulai dari penyediaan lahan, penyiapan bibit, penanaman, hingga pengemasan produk hasil hutan bukan kayu dan kayu,” jelasnya.

“Kami ingin memastikan bahwa mereka berdua memiliki akses yang sama dalam pekerjaan pengelolaan hutan,” imbuhnya.

Kedua, masa depan hutan Indonesia bergantung pada kesetaraan partisipasi mereka dalam mengelola hutan di segala aspeknya.

Penghargaan APE untuk kedua kalinya

Dari beberapa kegiatan dan kebijakan yang ada dalam tubuh KLHK di muka, Erna melanjutkan, maka sudah sepantasnya jika KLHK bisa mengantongi Anugerah Parahita Ekapraya (APE) di tingkat mentor.

“Dan ini untuk yang kedua ya. Yang pertama dapat di tingkat mentor, tingkat yang berat ya bebannya dan yang kedua pun di tingkat mentor,” ujar Erna.

Erna menjelaskan bahwa KLHK bisa meraih anugerah tersebut karena selama ini KLHK bagus dalam tujuh (7) indikator.

Beberapa darinya adalah komitmen Menteri LHK sendiri untuk mendorong Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan KLHK mempraktikkan apa itu yang Erna sebut sebagai Pengarusutamaan Gender (PUG).

Berita Terkait :  Jaga Ekosistem Hutan, KSDAE KLHK Apresiasi Kelompok Perempuan Peduli Lingkungan Rejang Lebong

“Ini soal bagaimana ASN diandaikan untuk bisa mengintegrasikan nilai keadilan gender di setiap kegiatan dan kebijakan yang diambil,” jelasnya dalam diskusi bertajuk Pengarusutamaan GESI dan Kebijakan Lingkungan Hidup dan Kehutanan ini.

Termasuk dari tujuh (7) indikator tersebut adalah perkara kebijakan.  “Kebijakan yang tertuang dalam rencana strategis lima (5) tahun ke depan KLHK sudah responsif gender, tak terkecuali sekitar 200 UPT,” ungkap Erna.

Beban berat

Satu sisi, diperolehnya APE Mentor patut dibanggakan. Namun, pada sisi lain, ini adalah beban yang sangat berat untuk KLHK.

“Ya otomatis ya. Ketika kita dipercaya sebagai peraih APE mentor maka tugas kami selanjutnya adalah bagaimana menjadikan KLHK sebagai tempat belajar di mana pemahaman dan budaya kerja seluruh ASN di dalamnya bisa mencerminkan nilai-nilai gender,” kata Erna.

Cerminan yang dimaksud Erna di sini merujuk pada pembumian nilai-nilai gender di benak setiap ASN KLHK yang berjumlah 15.800, sehingga mereka bisa responsif gender.

Selain itu, hal tersebut juga berhubungan dengan KLHK yang inklusif dan terwujud dalam setiap gerak dan langkah ASN-nya.

“Intinya, bagaimana hal-hal seperti ini nanti bisa menjadi nature atau budaya di lingkungan KLHK,” pungkas Erna optimis.