Erdogan Umumkan Pengiriman Tentara ke Libya

(Foto : Sputnik News)

Berita Baru, Internasional – Presiden Turki, Recep Tayep Erdogan mengumumkan Pemerintah Turki akan mengirimkan pasukan ke Libya sesuai dengan perjanjian.

Pernyataan itu diungkapkan dalam pidatonya di Pertemuan Evaluasi Tahunan pada 2019 di Bestepe National Congress and Culture Center di Ankara.

Ia juga menambahkan bahwa Turki akan menggunakan sarana militer dan diplomatik untuk memastikan stabilitas di Libya.

Dilansir dari Sputnik News, Kamis (16/1), Erdogan mencatat bahwa Ankara akan mulai mencari dan mengebor cadangan gas di Mediterania Timur pada tahun 2020, sejalan dengan kesepakatan yang dicapai dengan GNA dan kapal Oruc Reis yang telah memulai studi seismik.

“Setelah menandatangani perjanjian maritim dan keamanan dengan Libya, tidak mungkin secara hukum untuk melakukan kegiatan eksplorasi dan pengeboran (gas) atau memasang pipa tanpa persetujuan kedua negara,” kata Erdogan.

Terdapat dualisme konflik internal di Libya, yaitu Pemerintah Kesepakatan Nasional yang Didukung PBB yang telah mengendalikan negara itu dan Tentara Nasional Libya yang sdang menegosiasikan gencatan senjata di Moskow.

Sementara GNA telah menandatangani perjanjian gencatan senjata yang dinegosiasikan dan Haftar tidak. Dia kembali ke Libya dan mengumumkan kelanjutan permusuhan.

Upaya rekonsiliasi pihak-pihak yang bertikai akan terjadi di Berlin, pada 19 Januari, di mana Jerman, Prancis, Turki, Rusia, AS, Inggris, China, dan Italia akan mencoba untuk menengahi kesepakatan baru gencatan senjata.

Berita Terkait :  Iran Diduga Terlibat, AS Kirim Pasukan ke Saudi Usai Ledakan Fasilitas Minyak

Pihak berwenang Turki sebelumnya telah mengatakan bahwa pengerahan militer di bawah perjanjian yang dicapai dengan GNA hanya akan dimulai jika Jenderal Haftar melanjutkan ofensifnya di ibu kota GNA, Tripoli.

Parlemen Libya, yang mendukung tentara Jenderal Haftar, mengecam perjanjian kerja sama militer antara GNA dan Turki untuk memutuskan semua hubungan dengan Turki.

Sementara itu, Libya sedang berperang dengan banyak pihak, termasuk GNA dan LNA. Keduanya bertarung untuk menguasai negara itu sejak pemimpin terakhir Muammar Gadhafi yang terbunuh pada tahun 2011.

Dia terbunuh oleh salah satu kelompok militan yang menggulingkannya dengan dukungan negara-negara barat.

Tinggalkan Balasan