Ekonomi Sufisme | Catatan Ramadan: Ahmad Erani Yustika

-

Pada awal abad 20 dunia akademik disentak oleh buku berbahasa Jerman yang berjudul: “Die protestantische Ethik und der ‘Geist’ des Kapitalismus.” Pustaka itu terbit 1905 dan diterjemahkan dalam bahasa Inggris pada 1930 dengan tajuk: “The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism.” Kitab yang dikarang oleh Max Weber itu segera menjadi buah bibir dan dibaca oleh para teolog, ekonom, sosiolog, dan lain-lain. Intinya, Weber ingin meyakinkan bahwa Etika Protestan yang menekankan soal etos kerja dan berpikir rasional punya saham yang besar dalam menggerakkan ekonomi yang difasilitasi oleh kapitalisme.

Pemikiran Weber itu dipengaruhi oleh John Calvin (Calvinisme) yang jauh sebelumnya (1509-1564) telah menunjukkan relasi yang kuat antara agama dan ekonomi. Seseorang yang hidup di dunia adalah pilihan Tuhan, sehingga ia mesti membalas kebaikan itu dengan menjadi hamba yang baik, salah satunya dengan bekerja keras. Faktor ini yang menjadi daya dorong agama agar manusia bekerja giat dan mengakumulasi kapital. Apakah ini hanya monopoli Protestan? Sudirman Hasan, yang pada 2009 lalu mempublikasikan buku “Sufism and the Spirit of Capitalism”, mencoba memberikan jawaban.

Sufisme (tasawuf), yang biasa dilekatkan dengan Islam, menurut Inayat Khan adalah “agama hati” (religion of the heart), yang memiliki dua aspek esensial: pertumbuhan spiritual (spiritual growth) dan pencapaian material (worldly achievement). Jika makin banyak orang berjalan dengan jalur ini, maka secara gradual ekonomi kian tertransendenkan: tak menimbulkan luka sosial, patologi moral, dan destruksi alam yang banal. Pada kasus pengikut “Tarekat Siddîqiyya” (Jombang), misalnya, terlihat mereka sangat termotivasi bekerja di bidangnya berkat ibadah. Salah satu pegangannya adalah QS. Al-Jum’ah (9-10) agar umat bertebaran di muka bumi usai salat.

Tarekat ini juga punya motto: wudu, salat, dan masyarakat. Wudu adalah sarana membersihkan diri lahir dan batin, salat membangun jembatan manusia dan Sang Pencipta, dan masyarakat ialah sarana menyumbangkan amalan serta kemampuan yang dimiliki. Diksi “santri” mereka maknai sebagai “insan” (orang) dan “three” (tri) janji untuk mengikat hubungan yang agung dengan Sang Maha Cinta, manusia, dan semesta. Studi Sudirman Hasan kurang lebih melegitimasi apa yang pernah dilakukan oleh M. Sobary dan Abdul Munir Mulkhan dengan topik sejenis. Temuan Calvin, Weber, dan Hasan membuktikan satunya ketauhidan dan kehidupan.

Di luar perkara etos, agama sekurangnya menyumbangkan tiga hal lain dalam memandu amaliah ekonomi. Satu, nilai agung yang terkandung di dalamnya membatasi umat melakukan tindakan yang menabrak norma, seperti penipuan dan eksploitasi. Kejujuran dan kemanusiaan menjadi inti ekonomi. Dua, api agama ialah mengabdikan diri untuk faedah masyarakat. Implikasinya, setiap aktivitas dan hasil produksi mesti dibagi dengan yang lain, bukan mengambil keseluruhan sampai kerak ekonomi sehingga muncul ketimpangan. Tiga, memuliakan lingkungan sebagai tiang semesta agar keberlanjutan pembangunan menjadi keniscayaan. Trisula agama inilah yang menjadi pijar keberkahan.

Facebook Comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERBARU

Facebook Comments