Dokumen WHO Bocor: Uji Coba Klinis Obat Coronavirus ‘Remdesivir’ Gagal

-

Berita Baru, Internasional – Remdesvir, obat coronavirus yang diproduksi oleh perusahaan biofarmasi Amerika, Gilead Sciences, gagal dalam uji klinis pertamanya. Hal ini sebagaimana dilaporkan Financial Times, Kamis (23/4) yang mengutip rancangan dokumen yang diterbitkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) secara tidak sengaja.

Menurut Financial Times, uji coba China menunjukkan bahwa obat antivirus remdesivir tidak meningkatkan kondisi pasien atau mengurangi jumlah COVID-19 dalam aliran darah mereka. Dari 237 pasien, 158 diberikan obat, sedangkan 79 sisanya adalah bagian dari kelompok kontrol. Sementara 18 pasien yang menerima obat justru mengalami efek samping yang merugikan dan harus berhenti meminumnya.

Sebagaimana dilansir dari Sputnik News, Sabtu (25/4) WHO mengatakan bahwa draft dokumen yang diperoleh Financial Times diterbitkan secara tidak sengaja.

“Menanggapi WHO yang meminta informasi dan studi untuk dibagikan lebih awal, sebuah rancangan dokumen disediakan oleh penulis untuk WHO dan secara tidak sengaja diposting di situs web dan dihapus segera setelah kesalahan diketahui,” tulis WHO yang dilaporkan oleh Financial Times.

Menyusul bocoran draft laporan WHO, Gilead menyatakan bahwa dokumen tersebut memasukkan karakterisasi penelitian yang tidak sesuai. Perusahaan farmasi menambahkan bahwa “penelitian dihentikan lebih awal karena rendahnya pendaftaran, sehingga kurang kuat untuk memungkinkan kesimpulan secara statistik.”

“Dengan demikian, hasil penelitian tidak dapat disimpulkan, meskipun tren dalam data menunjukkan manfaat potensial untuk remdesivir, terutama di antara pasien yang diobati pada awal penyakit,” kata Gilead.

Remdesvir pada awalnya dikembangkan sebagai obat untuk Ebola. Ternyata obat itu gagal untuk mengobati penyakit yang menyebabkan perdarahan hebat dan kegagalan organ. Obat ini telah terbukti efektif dalam menghambat pertumbuhan coronavirus, yang menyebabkan penyakit yang mirip dengan COVID-19, termasuk sindrom pernafasan akut akut (SARS) dan sindrom pernapasan Timur Tengah (MERS).

Remdesivir telah menunjukkan hasil yang menjanjikan ketika digunakan untuk mengobati pasien COVID-19 di Chicago, Illinois. Obat ini terbukti mengurangi demam dan gejala pernapasan lainnya pada 125 pasien dalam waktu kurang dari seminggu.

Sebuah penelitian yang diterbitkan awal bulan ini di New England Journal of Medicine juga menunjukkan hasil positif untuk remdesivir. Enam puluh delapan persen pasien coronavirus dalam penelitian dilaporkan membaik saat menggunakan obat. Namun penelitian ini bukan uji klinis, melainkan kompilasi data dari pasien yang telah diberi obat. Tidak ada kelompok kontrol dan para peneliti di balik penelitian ini sehingga tidak ada hasil konklusif yang dapat diambil darinya mengenai efektivitas remdesivir terhadap COVID-19.

Facebook Comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERBARU

Facebook Comments