Dituduh ‘Manipulator Mata Uang’ oleh AS, China Menolak

Manipulator Mata Uang

Beritabaru.co, Internasional. – Bank sentral China dengan tegas menolak tuduhan AS terhadap Beijing sebagai manipulator mata uang. Pemerintah China mengatakan tuduhan itu secara serius akan merusak tatanan keuangan internasional dan mempertaruhkan gejolak pasar.

Pada hari Senin (5/8), Departemen Keuangan AS menuduh Beijing sengaja memengaruhi nilai tukar antara yuan dan dolar AS untuk mendapatkan keunggulan kompetitif yang tidak adil dalam perdagangan internasional.

Pengumuman itu mengikuti penurunan tajam yuan terhadap dolar, dengan mata uang China menembus level 7 per dolar untuk pertama kalinya sejak 2008.

“Amerika Serikat mengabaikan fakta dan secara tidak masuk akal membubuhkan China dengan label ‘manipulator mata uang’, yang merupakan perilaku yang membahayakan orang lain dan diri sendiri,” kata People’s Bank of China (PBOC) dalam sebuah pernyataan pada hari Selasa (6/8).  “Pihak Tiongkok dengan tegas menentang hal ini,” tambahnya dengan sangat tegas.

PBOC mengatakan hal ini tidak hanya akan secara serius merusak tatanan keuangan internasional, tetapi juga memicu gejolak pasar keuangan. Selebihnya,  juga akan sangat menghambat perdagangan internasional dan pemulihan ekonomi global.

Berita Terkait :  Virus Corona Mulai Mempengaruhi Stabilitas Ekonomi China

“Tindakan sepihak Amerika Serikat ini juga merusak konsensus multilateral global tentang masalah nilai tukar dan memiliki dampak negatif serius pada operasi stabil sistem moneter internasional,” kata PBOC.

Bank sentral China menetapkan titik referensi resmi yuan lebih kuat daripada titik kunci 7 yuan terhadap dolar pada hari Selasa.

Langkah itu tampaknya menenangkan pasar keuangan, yang awalnya diguncang oleh kekhawatiran perang dagang antara AS-China beralih ke perang mata uang.

Sebelum terjadi penunjukan secara formal, Trump bahkan telah mentwit untuk menyuarakan pendapatnya, menuduh Beijing memanipulasi mata uangnya dan mengatakan bahwa itu akan sangat melemahkan China dari waktu ke waktu.

Sejak perang dagang dimulai tahun lalu, Washington telah mengenakan tarif 25% pada impor AS senilai $ 250 miliar dari Tiongkok. Beijing membalas dengan menampar retribusi tinggi pada produk-produk Amerika yang dibeli miliaran dolar.

Namun dalam beberapa bulan terakhir, ketegangan antara kedua negara ekonom besar itu telah meluas melampaui perdagangan hingga ke sektor teknologi dan keamanan. Dalam hal teknologi, AS telah menempatkan Huawei pada daftar hitam, sehingga sulit bagi raksasa teknologi China untuk melakukan bisnis dengan perusahaan-perusahaan Amerika.

Penulis :Nafisa
Sumber  :CNBC
- Advertisement -

Tinggalkan Balasan