Direktur Eksekutif IEA Peringatkan Pentingnya Kebijakan Energi Baru untuk Mencapai Emisi Nol Bersih

(Foto: The Guardian)

Berita Baru, Internasional – Ekonom energi dunia memperingatkan bahwa kebijakan energi baru sangat dibutuhkan sebagai upaya untuk mendorong cita-cita menuju nol emisi gas rumah kaca bersih. Hal tersebut dikemukakan lantaran ekonomi negara tengah bersiap untuk kembali ke penggunaan bahan bakar fosil, alih-alih menempa pertumbhan ekonomi akibat pandemi Covid- 19.

Sebagian besar negara-negara ekonom sedang berada di bawah kesepakatan jangka panjang untuk mencapai emisi nol bersih pada pertengahan abad. Tetapi hanya sedikit di antara mereka yang memiliki kebijakan untuk memenuhi tujuan tersebut, kata Fatih Birol, direktur eksekutif Badan Energi Internasional (IEA).

Seperti dilansir dari The Guardian, Rabu (31/3), angka terbaru IEA menunjukkan penggunaan batu bara global sekitar 4% lebih tinggi pada kuartal terakhir tahun 2020 dibandingkan pada periode yang sama pada tahun 2019. Merupakan indikasi paling jelas adanya potensi bencana terkait penggunaan bahan bakar fosil.

Birol mengatakan kepada Guardian: “Kami tidak berada di jalur untuk pemulihan hijau, justru sebaliknya. Kami telah melihat emisi global lebih tinggi pada Desember 2020 daripada pada Desember 2019. Selama negara-negara tidak menerapkan kebijakan energi yang tepat, pemulihan ekonomi akan membuat emisi meningkat secara signifikan pada 2021. Kami akan sulit mencapai nol bersih.”

Birol juga mendesak pemerintah untuk mendukung energi dan teknologi bersih seperti kendaraan listrik.

“Pemerintah harus memberikan sinyal yang jelas kepada investor di seluruh dunia bahwa berinvestasi dalam energi kotor akan meningkatkan risiko kehilangan uang. Sinyal yang jelas ini perlu diberikan oleh pembuat kebijakan kepada regulator, investor dan lainnya,” ujarnya.

Pada hari Rabu, IEA mengadakan pertemuan pemerintah untuk membuat sketsa rencana nol bersih. Inggris, yang bertugas sebagai tuan rumah pembicaraan iklim Cop26 PBB akhir tahun ini, akan mendesak negara-negara yang belum mengadopsi target nol bersih – termasuk India, Indonesia, Meksiko, Rusia dan Arab Saudi – untuk mengambil komitmen tersebut, dan meminta semua negara untuk datang guna membicarakan target pengurangan emisi dalam 10 tahun ke depan yang akan membuka jalan menuju tujuan jangka panjang.

Alok Sharma, menteri Inggris yang menjadi presiden KTT Cop26, menulis di Guardian baru-baru ini bahwa target nol bersih jangka panjang dan rencana jangka pendek 2030 akan dibutuhkan dari semua negara agar pembicaraan berhasil.

Birol mengatakan, target 2030 yang lebih kuat sangat penting untuk mencapai nol bersih. “Melihat sektor energi, 10 tahun mendatang akan sangat-sangat kritis,” ujarnya. “Jika pemerintah menaruh uang dalam pembiayaan energi bersih, dalam konteks rencana pemulihan ekonomi mereka, itu akan menadikan tantangan tidak terlalu sulit.”

Birol meminta AS untuk memimpin dalam menetapkan rencana nasional, yang disebut kontribusi yang ditentukan secara nasional (NDC), untuk mengurangi emisi secara drastis dalam 10 tahun ke depan. “NDC harus ambisius, kredibel, akuntabel dan didukung dengan kebijakan energi yang kredibel,” katanya. “NDC AS saat ini tidak cukup ambisius, dan tidak sejalan dengan AS yang memimpin kampanye iklim internasional.”

Birol juga mendesak pemerintah untuk memberlakukan kebijakan yang kuat untuk mencegah pengemudi membeli SUV, yang merupakan setengah dari semua mobil yang dijual di negara-negara ekonomi utama. AS memimpin peralihan ke SUV, tetapi kendaraan yang mengeluarkan karbon dioksida sepertiga lebih banyak daripada mobil yang sedikit karbon.

“Kami tidak mungkin dapat mencapai tujuan iklim jika penjualan SUV terus berlanjut pada tingkat ini,” katanya. “Kita harus mengubah teknologi, menjadi kendaraan listrik, atau mengubah kebijakan pajak untuk memberikan disinsentif finansial kepada konsumen untuk memilih opsi SUV.”

Di Inggris, Kantor Audit Nasional menemukan bahwa emisi gas rumah kaca dari mobil turun 1% sejak 2011, sebagian besar disebabkan oleh peralihan yang meluas ke SUV. Pemerintah Inggris juga mendapat kecaman dari para pegiat karena mengurangi insentif kendaraan listrik sambil membekukan bea pada bahan bakar bensin dan solar.

Minggu ini, Inggris juga mengadakan konferensi tentang iklim dan pembangunan menjelang Cop26. Para menteri dari seluruh dunia akan hadir secara virtual dan negara-negara donor akan didorong untuk maju untuk mendukung negara-negara yang paling rentan terhadap dampak kerusakan iklim.

Inggris akan membutuhkan dukungan dari setidaknya 130 negara berkembang untuk menyukseskan Cop26. Pengkampanye hijau telah menulis kepada pemerintah untuk memperingatkan bahwa pemotongan anggaran bantuan luar negeri berisiko merusak kepercayaan pada kepresidenan Inggris.

Facebook Comments
- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini