Berita

 Network

 Partner

Ekonomi Indonesia
Menteri Keuangan, Sri Mulyani.

Di Tengah Tekanan Perang Dagang, Ekonomi Indonesia Tetap Stabil

Berita Baru, Jakarta – Stabilitas ekonomi Indonesia masih tetap terjaga di tengah prospek perlambatan pertumbuhan perekonomian global.

Prospek perlambatan itu ditunjukkan oleh proyeksi pertumbuhan ekonomi global yang mengalami revisi ke bawah, dan pertumbuhan volume perdagangan global yang menurun diakibatkan oleh perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok.

Selain itu, munculnya pusat-pusat krisis baru seperti di Chile, Bolivia dan Argentina, serta peningkatan tensi geopolitik di Timur Tengah dan Hong Kong telah berdampak pada ekonomi global tahun ini yang diproyeksikan tumbuh 3,0 persen atau terendah sejak krisis keuangan global tahun 2008.

Namun demikian, kondisi di dalam negeri secara year-over-year Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia triwulan III masih tumbuh 5,02 persen dan secara cummulative-to-cummulative masih tumbuh 5,04 persen, seiring dengan tetap kuatnya pertumbuhan Konsumsi Rumah Tangga (RT) dan Lembaga Non-Profit Rumah Tangga (LNPRT).

Berita Terkait :  Tanpa Utang, Stimulus Fiskal Indonesia untuk Penanganan COVID-19 bisa di Atas 2% PDB

“Dalam kondisi global yang begitu sangat dinamis dan cenderung negatif, Indonesia masih tetap bisa menjaga pertumbuhan ekonomi-nya pada kisaran 5% seperti yang tertuang di dalam kuartal III/2019 ini, oleh Badan Pusat Statistik,” jelas Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati di Aula Djuanda I Kementerian Keuangan, Jakarta, Senin (18/11).

Masih solidnya pertumbuhan tersebut, menurut Menkeu, salah satunya merupakan peran dari APBN yang bersifat countercyclical dalam memberikan stimulus ke perekonomian.

Sementara itu, neraca perdagangan juga sudah mengalami surplus pada Oktober 2019, membaik dari bulan sebelumnya yang mengalami defisit.

Demikian juga dengan net ekspor yang sudah mulai positif pada triwulan III tahun 2019, seiring dengan perbaikan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) yang didorong oleh penurunan defisit transaksi berjalan dan peningkatan surplus transaksi modal dan finansial.

Berita Terkait :  Penerimaan Perpajakan Mei 2020 Alami Kontraksi

Kondisi tersebut diyakini akan memberikan pondasi kuat terhadap perkembangan ekonomi nasional hingga akhir tahun ini dan juga tahun depan. Demikian disampaikan dalam APBN KiTa edisi November 2019.

Terjaganya Kesinambungan Fiskal dan Kredibilitas APBN

Di tengah kondisi perekonomian global yang mengalami tekanan dan berdampak pada penerimaan perpajakan, APBN berfungsi sebagai countercyclical yang memberikan stimulus pada pertumbuhan ekonomi.

Untuk menjaga kesinambungan fiskal dan kredibilitas APBN, Pemerintah mengantisipasi pelebaran defisit yang diperkirakan mencapai 2 hingga 2,2 persen terhadap PDB, salah satunya dengan menerbitkan obligasi dalam valuta asing di bulan Oktober lalu.

Dengan adanya antisipasi pelebaran defisit tersebut, Pemerintah secara hati-hati melakukan pengelolaan pembiayaan. Hingga akhir Oktober 2019, realisasi pembiayaan masih on track di mana posisi utang pemerintah terjaga aman di bawah 30 persen per PDB, yakni sebesar 29,87 persen.

Berita Terkait :  Menteri Keuangan Sri Mulyani Pesimis Target Pajak Bisa Dicapai

Hal tersebut membuktikan bahwa Pemerintah mengelola pembiayaan yang ditujukan untuk hal-hal yang produktif dalam rangka menopang pertumbuhan ekonomi di tengah kondisi tekanan global.

Pemerintah senantiasa memantau dan mewaspadai perkembangan kondisi global dan domestik yang sangat dinamis. Pemerintah juga berkomitmen menjaga APBN 2019 yang sehat, kuat, dan mandiri sebagai instrumen dalam mewujudkan kesejahteraan dan keadilan rakyat. [Siaran Pers]