Di Tengah Sanksi AS, Suriah akan Perluas Hubungan Ekonomi dengan Rusia

Ekonomi Suriah
Wakil Perdana Menteri Rusia Yuri Borisov, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov, Presiden Suriah Bashar al-Assad dan pejabat lainnya menghadiri pertemuan di Damaskus, Suriah, Senin, 7 September 2020. Foto: Kementerian Luar Negeri Rusia.

Berita Baru, Internasional – Presiden Bashar al-Assad mengatakan bahwa ia ingin memperluas hubungan bisnis dan investasi di bidang utama ekonomi dengan Rusia.

Hal itu ia utarakan pada pertemuan dengan Wakil Perdana Menteri Rusia Yuri Borisov dan Menteri Luar Negeri Sergey Lavrov dan dihadiri oleh media pemerintah, Senin (7/9).

Tujuan dari diperluasnya hubungan Suria-Rusia itu menurut Al-Assad bertujuan untuk membantu Suria dalam mengatasi sanksi ekonomi yang baru ia dapatkan dari Amerika Serikat dan mencegah kelumpuhan ekonomi Suriah.

Pejabat dari Suriah dan Rusia, mengatakan kedua belah pihak berencana untuk meningkatkan hubungan perdagangan dan akan meninjau proyek energi, pertambangan dan pembangkit listrik.

Hubungan antara Rusia dan Suriah setidaknya mulai dekat sejak bantuan militer Rusia kepada Suriah pada tahun 2015 yang membuat Suriah membalikkan keuntungan yang dibuat oleh kelompok bersenjata dan pemberontak.

Wakil Perdana Menteri Rusia Yuri Borisov dan Menteri Luar Negeri Sergey Lavrov, dan Menteri Luar Negeri Suriah Walid Muallem menghadiri konferensi pers di Damaskus, Suriah pada hari Senin, 7 September 2020. Foto: Omar Sanadiki/Reuters.

Pada gilirannya, Borisov mengatakan pada konferensi pers tersebut bahwa pada bulan Juli Moskow telah menyampaikan sebuah kesepakatan untuk memperluas hubungan ekonomi dan pihak Damaskus mengatakan akan mempelajarinya.

Berita Terkait :  Abaikan Sanksi Ekonomi AS, Iran Kirim Lima Kapal Tanker ke Venezuela

Borisov juga mengatakan ia berharap itu akan ‘disahkan’ pada bulan Desember mendatang selama kunjungan Borisov berikutnya ke ibu kota Suriah.

“Rusia membalikkan keadaan untuk Al-Assad dan dengan rezim yang sekarang menghadapi tantangan terberatnya, Moskow berada dalam posisi yang lebih baik daripada waktu lain untuk lebih menekan Al-Assad,” kata seorang diplomat Barat yang mengikuti Suriah, dikutip dari Aljazeera.

Meskipun Al-Assad kini telah mendapatkan kembali sebagian besar wilayah yang hilang, ekonomi Suriah bisa dikatakan sedang berantakan. Hal itu terlihat dari banyak warga Suriah jatuh dalam kemiskinan karena mata mereka tersebut telah kehilangan 80 persen nilainya.

Rusia telah mengkritik sanksi baru AS kepada Suriah yang berlaku pada Juni di bawah apa yang disebut Caesar Act.

Sanksi itu berupa hukuman kepada perusahaan asing yang berurusan dengan entitas pemerintah Suriah.

Washington mengatakan sanksi itu bertujuan untuk memotong pendapatan pemerintah Al-Assad dan mendorongnya kembali ke pembicaraan yang dipimpin PBB untuk mengakhiri konflik.

Suriah menaruh harapannya pada Rusia untuk membantunya menopang ekonominya, yang tercatat sebagai sekutu asing terbesar Suriah.

Berita Terkait :  Tentara Turki Tewas dalam Bentrokan Melawan Pemberontak Kurdi

Sementara itu, sekutu regional utama Suriah, yaitu Iran, juga kini tengah berjuang untuk mengatasi sanksi-sanksi berkelanjutan dari AS.

Mengutip Aljazeera, Hussam Taleb, seorang analis pro-pemerintah Suriah, mengatakan kepada televisi pemerintah Suriah bahwa kunjungan Rusia akan membuat marah Washington. Ia menganggap AS telah “memerangi kami dalam mencari mata pencaharian kami dengan mengeluarkan Caesar Act untuk merampas kekayaan kami.”

Diplomat Barat mengatakan keterlibatan militer Presiden Rusia Vladimir Putin di Suriah, intervensi Timur Tengah terbesarnya dalam beberapa dekade, mengamankan pengaruh regional penting Moskow dan pijakan yang lebih besar di pangkalan angkatan laut di pelabuhan Tartus Suriah.

- Advertisement -

Tinggalkan Balasan