Dengan Alat ini, Kejang Penderita Epilepsi Dapat Dideteksi Lebih Dini

-

Berita Baru , Amerika Serikat – Alat yang ditanam di bawah kulit tengkorak kepala ini dapat memprediksi serangan epilepsi beberapa hari sebelum terjadi.

Dilansir dari Dailymail.co.uk , Dengan cara dimasukan kedalam otak, perangkat tersebut terhubung ke saluran elektroda yang menangkap sinyal listrik dari otak,

Ahli saraf di University of California San Francisco (UCSF), menemukan bahwa sistem dari alat ini dapat memperingatkan pasien ketika mendeteksi adanya aktivitas listrik yang tidak biasa di otak. Yang dimana biasanya sering kali menjadi tanda awal dari kondisi kejang, halusinasi atau kehilangan kesadaran.

” Selama empat puluh tahun, upaya untuk memprediksi kejang telah difokuskan pada pengembangan sistem peringatan dini, yang paling canggih sebelumnya, alat hanya dapat memberikan peringatan kepada pasien hanya beberapa detik atau menit sebelum kejang terjadi,” kata peneliti,  Dr Vikram Rao, pada Jumat (18/12).

“Ini adalah pertama kalinya seseorang dapat meramalkan kejang dengan presisi dalam beberapa hari sebelumnya. Dengan ini benar-benar dapat memungkinkan orang untuk mulai merencanakan jauh sebelumnya saat mereka berisiko tinggi atau rendah untuk terjadi kejang kemudian,” tambah peneliti.

Perangkat ini secara konstan memonitor aktivitas otak dan juga mampu mengirimkan sinyal denyut listriknya sendiri dari alat ke otak pengguna.

Dengan mengaliri listrik ke daerah abu-abu (grey matter) pada otak, telah terbukti efektif untuk menghentikan kejang dan menormalkan sinyal otak pasien yang tidak menentu.

Teknologi ini telah dibuktikan dalam studi ilmiah tetapi belum mencapai titik yang cukup diterima secara luas disetujui untuk digunakan di NHS.

Dengan ini tim peneliti mulai mencoba melihat apakah ramalan aktivitas otak yang abnormal dapat digunakan untuk memprediksi kejang.

Proses kerja alat deteksi kejang dengan secara konsisten memantau arus listrik otak

Model statistik dibuat untuk menganalisis data dari 18 pasien yang dilengkapi dengan perangkat ini yang disebut NeuroPace.

Mereka (pasien) memiliki catatan selama sepuluh tahun kebelakang, dan tahu kapan mereka mengalami kejang dan menemukan bahwa itu sering terjadi setelah serangan dari iritabilitas otak mereka.

Analisis data menunjukkan periode waktu ketika pasien hampir 10 kali lebih mungkin mengalami kejang daripada waktu biasanya.

Pada beberapa pasien ini dapat diambil beberapa hari sebelumnya.

Namun ini bukan ilmu pasti dan lebih banyak penelitian diperlukan untuk dapat meramalkan kondisi kejang dengan lebih baik.

“Saya rasa saya tidak akan pernah bisa memberi tahu pasien bahwa dia akan kejang tepat pada pukul tertentu di hari besok, itu sama saja seperti memprediksi kapan petir akan menyambar,” kata Dr. Rao.

“ Tetapi temuan kami dalam penelitian ini memberi saya harapan bahwa suatu hari nanti saya dapat mengatakan kepada pasien bahwa, berdasarkan aktivitas otaknya, dia memiliki kemungkinan 90 persen untuk kejang besok, jadi dia harus mempertimbangkan untuk menghindari pemicu seperti alkohol dan menahan diri dari. aktivitas berisiko tinggi seperti mengemudi.” Tambah Dr. Rao.

Facebook Comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERBARU

Facebook Comments