Demam Babi Afrika Pengaruhi Kenaikaan Harga Pangan di China

Demam Babi Afrika
(Gambar: Erabaru)

Beritabaru.co, Internasional. – Harga bahan pangan di China mengalami kenaikan sebesar 9,1% di banding tahun lalu, berdasarkan data dari Biro Statistik Nasional pada hari Jumat (9/8/2019). Kenaikan harga tersebut terjadi seiring dengan melonjaknya harga daging babi akibat penyebaran virus Demam Babi Afrika (AFS) di China.

Secara khusus, akbiat virus Demam Babi Afrika, harga daging babi naik 27% dari tahun lalu hingga bulan Juli tahun ini. Sementara data menunjukkan harga buah segar naik naik lebih besar di angka 39,1%.

Angka kenaikan bahan pangan terhitung dari bulan Juni hingga Juli sebesar 8,3% YoY (Year over YearI). sedangkan barang-barang bukan pangan juga mengalami kenaikan sebesar 1,3%  lebih tinggi dari sebelumnya.

Data inflasi tersebut datang setelah China mengkonfirmasi pada hari Selasa (6/8) bahwa mereka akan menangguhkan impor produk pertanian dari AS sebagai tanggapan terhadap tarif baru yang diberikan Presiden Donald Trump.

Secara keseluruhan, Indeks Harga Konsumen (CPI) China naik 2,8% dari tahun lalu di bulan Juli, sedikit lebih tinggi dari yang diperkirakan para analis dalam jajak pendapat Reuters.

Berita Terkait :  Kapal Coast Guard dan Kapal Penangkap Ikan China Kembali Melanggar ZEE

“Lonjakan harga daging babi terus mendorong inflasi harga konsumen, tapi melemahnya permintaan menyeret inflasi harga produsen ke wilayah negatif bulan lalu,” kata Julian Evans-Pritchard, ekonom senior China di Capital Economics, dalam catatan Jumat.

Sementara itu, indeks harga produsen turun 0,3% terhitung sejak Juli tahun lalu. Sangat meleset dari yang diperkirakan analis dalam jajak pendapat Reuters yakni dengan penurunan 0,1%.

Ini merupakan pertama kalinya profitabilitas China jatuh selama waktu lebih kurang tiga tahun. Dan di khawatirkan akan menambah risiko deflasi terhadap negara ekonom terbesar kedua di dunia itu.

Faktor lain yang menyebabkannya adalah pertempuran tarif berkepanjangan yang telah berlangsung selama lebih dari setahun antara China dan Amerika Serikat (AS). Kedua negara ini telah menampar pungutan tambahan atas barang satu sama lain dengan nilai miliaran dolar, sehingga mempengaruhi peningkatan ketegangan yang menakuti pasar dunia dan merusak prospek ekonomi global.

Penulis :Nafisa
Sumber  :CNBC
- Advertisement -

Tinggalkan Balasan