Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Covid-19, Pelatuk “Pistol” Perang Dunia 3?

Covid-19, Pelatuk “Pistol” Perang Dunia 3?

Covid-19, Pelatuk “Pistol” Perang Dunia 3?

Ahmad Izudin

Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta


Apakah Anda percaya teori konspirasi? Pertanyaan ini sangaja saya ajukan untuk memulai artikel ini. Sebab, sebagian orang pasti ada yang percaya dan ada pula yang tidak. Pro dan kontra juga kerap kali melingkupi diskursus ini. Apalagi di negara demokrasi yang secara bebas memeberikan ruang bagi setiap orang untuk mengungkapkan gagasan dan pemikirannya. Namun saya tidak akan membahas tentang demokrasi. Biarlah ahli politik kenegaraan saja yang membahas lebih lanjut tentang demokrasi.

Mari kita langsung melompat pada tema konspirasi. Awalnya, saya adalah orang yang tidak percaya sedikitpun teori konspirasi. Saya percaya, apa yang terjadi di dunia ini berjalan secara alamiah, tanpa ada rekaya politik. Maksudnya rekaya politik yang menumbalkan hajat hidup orang banyak untuk kepentingan sekelompok orang.

Namun jika menonton secara utuh episode yang ditayangkan Bossdarling dalam channel FE 101 di Youtube, Anda mungkin akan bersepekat dengan teori ini, Awalnya, saya merasa sda banyak kejanggalan. Saya tidak sepakat dengan narasi yang diungkapkan oleh Bossdarling terkait teori konspirasi. Tapi setelah mengikuti ruang intelektual dengan beberapa kawan, pikiran saya mulai terbuka. Saya mulai mulai terbuka dengan gagasan yang diangkat dari channel tersebut.

Pemikiran yang terbuka itu membawa saya selalu berpikir tentang segala perkara yang “Ganjil”. Bahkan saya kembali ingat pada farum diskusi pada diakhir tahun 2019 lalu. Di mana, mengingatnya membuat saya prihatin atas  kondisi Indonesia di tengan konstalasi (konspirasi) global.

Di acara ini, salah seorang pemateri menyampaikan prediksi global. Mengutip pernyataan Gus Dur, ia magatakan, perang dagang akan segara dimulai. Amerika dan Cina sudah bersiap dengan senjatanya masing-masing. Pada prosesnya, perang akan dilanjutkan dengan perang energi sebelum terjadi perang pangan dan perang total—mungkin perang militer.

Katanya, “Kita ini akan tiba diperalihan zaman, menjelang zaman kehancuran peradaban. Dunia akan kacau balau. Dimulai dengan perang dagang, lalu perang energi, perang pangan, dan perang yang paling mengerikan perang total, perang dunia ketiga. Anak akan membunuh bapaknya.” Sebagai santri, saya pun terperangah atas ucapan pemateri pada kegiatan tersebut. Soalnya, yang menyampaikan sahabat Gus Dur, yang juga seorang Kiai. Dalam hati, “Masa iya beliau berbohong?”. Wallahu’alam

Seutas tali sabuk diperut mulai saya kencangkan. “Kok bisa prediksi tersebut terucap oleh Gus Dur?”. Saya pun tidak tinggal diam dan mulai mencari informasi tambahan. Saya membaca buku, menonton video youtube, berdiskusi dengan kawan, dan hunting berbagai informasi ilmiah. Pasalnya, saya sadar, membuktikan sesuatu hal yang ganjil butuh fakta dan data yang akurat.

Setelah acara yang dihelat akhir 2019, akhirnya tanda genderang perang itu sudah mulai tampak dengan kasat mata. Corona virus—atau kerap dikenal dengan Covid-19—menurut hemat saya, menjadi bagian dari prediksi di atas. Covid-19 secara nyata telah pelumpuhan ekonomi semua negara di dunia—tepat setelah World Health Organization (WHO) mengubah status Covid-19 menjadi “Pandemi”.

Pemerintah Indonesia pun gagap dan latah dalam menghadapi Covid-19. Segala regulasi disusun dan ada “nyayian” dari sekelompok orang di media maya menguyarakan segera Lockdown. Ada juga sebagian Kepala Daerah menyuarakan karantina wilayah sebagai pengganti kata “lockdown”. Ya, karena memang dalam undang-undang negeri ini tidak mengenal istilah lockdown. Di akhir kisah, kebijakan PSBB (Pembatasan Sosial Bersekala Besar) diambil oleh pemerintah pusat. Setiap daerah yang merasa semakin banyak penyebaran virus boleh mengajukan dengan kriteria tertentu.

Kampanye disuarakan oleh pemerintah. Stay at home, physical distancing, dan beribadah di rumah adalah kampanye awal. Kementerian Kesehatan dan BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) melalui Gugus Tugas Covid-19 juga mengkampanyekan kepada masyarakat untuk menjaga kehidupan bersih dan sehat. Selain itu, secara bertahap toko-toko ditutup, tempat ibadah ditutup, hindari perkumpulan yang berkerumun, menjaga jarak, dan lainnya dinarasikan oleh pemerintah agar masyarakat mentaati aturan tersebut. Sebagai konsekuensi, pemerintah pun memberikan stimulan ekonomi agar masyarakat mentaati aturan dengan merubah aggaran belanja negara. Pada akhirnya, 506 Triliun rupiah digelontorkan oleh pemerintah untuk membantu kondisi kelesuan ekonomi dan masyarakat yang terkena dampak.

Nah, yang menjadi masalah adalah, apakah stimulan anggaran negara itu mampu membangkitkan roda ekonomi nasional? Saya pun teringat perkataan Bossman Sontoloyo dalam sebuah Podcast. Dia menyampaikan, “Covid-19 will kill, but slow government kill life”. Saya pun mulai terbuka pikiran, “Kok bisa, ya?”.

Di titik inilah saya mulai membuka lembaran baru dengan mencari beragam data dan fakta ilmiah. Akhirnya, tertuju kepada satu kesimpulan, Covid-19 adalah konspirasi elite global. Tuuannya adalah pelumbuhan ekonomi di tengan situasi perang dagang yang  sedang terjadi. Terlebih, di Podcast yang sama, di channel Deddy Corbuzier, mantan Menteri Kesehatan, Siti Fadila Supari mengungkapkan hal yang sama, bahwa dirinya masuk bui karena konspirasi. “Saya menerung dalam hati, gila benar ada orang yang setega itu”.

Membuka Lembaran Sejarah

Terlepas dari benar atau tidaknya sebuah konspirasi, namun coba kita tengok sejenak dalam sejarah. Sejak era kolonialisasi jaman Romawi hingga neo imprealisme abad modern, semua negara di dunia berlomba-lomba berebut kuasa untuk menguasai sumber kekayaan sebuah bangsa. Ketika Romawi—kita sebut saja era penjajahan 1.0—membutuhkan sandang pangan untuk memenuhi negaranya, maka mulai melakukan ekspansi. Mekanisme yang dilakukan dengan proses aneksasi (penggabungan) seluruh negara Eropa hingga Afrika bagian utara. Sumber kekayaan adalah tujuan utama dalam melakukan aneksasi. Ada beragam cara dan mekanisme yang dilakukan untuk menaklukkan negara-negara yang menjadi agenda aneksasi. Jalan pintas yang dilakukan adalah perang secara fisik dengan segala kekuatan militer yang dimiliki Romawi kala itu. Proses ini cukup panjang bahkan beradab-abad lamanya. Walaupun diujung kisah, Romawi harus runtuh karena konflik internal.

Era kolonialisasi 2.0 dan 3.0 terjadi saat pertama kali revolusi industri. Negara-negara eropa melakukan ekspansi ke berbagai belahan dunia, khusus Asia dan Afrika. Kita tahu, Inggris, Belanda, Jerman, Italia, Perancis, dan beberapa negara Eropa lain melakukan ekspansi dengan cara yang sama, yakni eksploitasi sumber daya alam dan manusia. Namun berbeda dengan model gaya penjajahan 4.0. Kekerasan dan perang bukan jalan yang dilakukan. Gaya baru kolonialisme 4.0 dengan model baru. Penguasaan ekonomi yang semua negara harus ditaklukkan. Leading sektor neo imprealisme baru ini adalah Amerika. Neo imprelisme terjadi ketika teori Keynesian menjadi dewa penyelamat ekonomi. Tawaran satu pintu melalui perbankkan adalah kunci mengusasi dunia. Untuk menguasai itu, uang menjadi dewa. Maka diciptakanlah lembaga-lembaga keuangan dunia, seperti Reserve Bank, World Bank, dan IMF (International Moneter Financial). Sebagai kunci, Dollar adalah mata uang tunggal di dunia sebagai alat pertukaran produksi ekonomi.

Pasca perang dunia kedua, Amerika menjadi negara adikuasi. Banyak negara-negara belahan dunia ketiga (Red: Arif Budiman) sangat tergantung dengan lembaga-lembaga keuangan dunia yang diciptakan Amerika, tidak terkecuali Indonesia. Kunci mati bangsa ini, sejak 1946 ketika Freeport menjadi daya tawar untuk merdeka dari penjajahan Eropa. Kesepakatan Indonesia dan Amerika melalui CIA (Central Intelegent of America) terjadi. Peristiwa ini berhasil melengserkan Bung Karno dari tampuk singgahsana Presiden dan Jendral Soeharto secara langsung menjadi Presiden pasca serangan umum 11 Maret. Soeharto menjadi Presiden kedua Indonesia bukan tanpa modal. Harga yang harus dibayar adalah Freeport yang hingga kini masih menjadi milik Amerika. Kita tahu, sebelum uang menjadi dewa dalam segi ekonomi, emas adalah nilai yang tinggi sebagai alat pertukaran dagang.

New Imprealisme: Gaya Tiongkok

Kini kita masuk di era penjajahan era 5.0. Amerika mulai terusik dengan kehadiran raja ekonomi baru dunia, yakni Tiongkok. Tanpa di duga, atau mungkin dibalik kebangkitan Tiongkok, para Globalist sudah merencanakan kebangkitan Tiongkok. Ya, kita tahu saat ini Tiongkok menjadi raja ekonomi dunia. Walaupun ada yang beranggapan bahwa Tiongkok bukan negara adikuasa yang dapat melakukan ekspansi penjajahan. Bagi saya, jika masih ada yang berpikir demikian, “itu salah Bung”.

Tiongkok merupakan aktor utama untuk merajai dunia saat ini. Kita tahu, setiap negara itu pasti memiliki Nation Interest—keinginan sebuah negara hidup hingga 1000 tahun lagi. Segala upaya pasti dilakukan. Tiongkok menggunakan cara yang hampir sama dengan Amerika. Namun yang dilakukan dengan mekanisme baru, yakni set belt-nya OBOR (One Belt One Road). Istilah ini dikenal dengan  extended quasi teritorial atau smart power istilah militernya. Model penjajahannya bukan alat perang bergaya militer. Namun mekanisme yang ditawarkan adalah segala proyek jangka panjang. Misal, pembangunan infrastruktur butuh modal besar. Tiongkok menawarkan pinjaman lunak kepada sebuah negara, seperti Indonesia. Uang, produksi pembangunan, dan sumber dayanya dari negara peminjam modal. Apakah kondisi ini terjadi di Indonesia? Mari kita refleksikan di era Presiden Jokowi.

Ada sebuah pertanyaan, bukankah itu menguntungkan bagi sebuah negara? Ya memang menguntungkan dalam perkara pembukuan  dan beberapa orang yang men­dealkan sebuah proyek. Namun tidak bagi jangka panjang sebuah bangsa. Pasalnya, segala suplai ekonomi pasti dipasok dari negara peminjam modal tadi. Namanya juga penguasaan sebuah teritorial, pasti merugi dalam jangka panjang.

Letupan perang sudah dimulai. Amerika dan Tiongkok sudah bersitegang di kawasan Laut Cina Selatan. Parahnya, Indonesia tidak menentukan sikap—tidak Amerika ataupun Tiongkok. Padahal, jika kita baca secara geopolitik, Indonesia berada di kawasan Security Amerika yang disebut dengan Seventh Fleet (armada ke tujuh). Kawasan dagang ini membentang dari  San Diego, Honolulu, Vanuatu, hingga Diego Garcia (Maldiv) Selatan Sri Lanka. Kondisi ini tepat membentang di atas Natuna, Indonesia. Pun demikian, secara real time di berbagai media, kapal-kapal perang Amerika sudah berada di kawasan Laut Cina Selatan— USS Roosevelt, USS Ronald Regent, USS Nimitz. Amerika sudah menunjukkan Show of port kepada dunia.

Di tengah tragedi bersitegangnya Amerika dan Tiongkok, lalu apakah Covid-19 itu wabah alamiah? Ini yang masih menjadi misteri. Apalagi hingga kini belum ada yang dapat memprediksi kapan dapat berakhir. Namun secara kasat mata, analisa tajam saya, Covid-19 hanya sebuah pelatuk dan pertanda perang dunia ke-tiga, karena semua negara di dunia sedang berjibaku kembali memulihkan kondisi ekonomi mereka pasca pandemi dicabut masa karantinanya. [*]