Covid-19 Airborne atau Droplet, Sih?

Covid-19

Berita Baru – Pandemi Covid-19 begitu cepat menyebar dengan daya jelajah luas serta bersifat mematikan. Hal ini membuat sebuah pertanyaan virologis ringan dan mendasar. Apakah pertanyaan mendasar tersebut? Seperti ini misalnya: apakah penyebarannya bersifat airborne (via udara bebas) ataukah droplet (percikan)?

Pertanyaan tersebut sangatlah sederhana dan mendasar. Sebuah pertanyaan yang sifatnya fundamental dalam virologis. Namun, di situlah titik krusial untuk menentukan preventif transmisi dan kuratif vaksinnya. Seperti halnya analisis virus Influenza (flu) bepuluh-puluh tahun yang lalu juga dihantui pertanyaan virologis yang sama seperti di atas.

Akhirnya penyakit “sejuta umat” ini, influenza, divonis sebagai virus yang sangat mudah berpindah dari satu orang ke orang lainnya. Model transmisinya via airborne atau transmisi udara bebas. Virus Influenza sangatlah mudah menyebar. Hanya diperlukan waktu 18 sampai 72 jam virus tersebut sampai pada kita.

Influenza menyebar dari manusia ke manusia melalui jalur airborne. Jadi, virus ini berpindah melalui partikel-partikel kecil yang terbang di udara. Sekali kita bersin, setidaknya ada jutaan partikel yang tersebar dengan kecepatan yang sangat tinggi ke udara. Dengan kondisi tersebut, maka virus influenza berstatus sebagai transmisi airborne

Virus tersebut tetap melayang menunggu untuk mendarat di tempat yang cocok untuk berkembang. Tergantung dari jumlah virus yang ada. Termasuk faktor daya tahan tubuh si penerima virus. Faktor kondisi lingkungan juga mendukung virus tersebut untuk bereplikasi untuk melakukan infeksi sekunder. Persis dengan karakter virus Covid-19.

Berita Terkait :  Bismillahi Majreha wa Mursaha dari Corona!

Penyakit yang ditularkan secara airborne ini, bisa dan dapat didukung oleh banyak akses lainnya. Akses tersebut antara lain kontak langsung, yang berupa bersin, batuk di depan orang bugar. Termasuk lewat perantara benda yang non-kontak, misalnya, menyentuh benda yang sudah tercemar virus. Dan, sepertinya tak jauh beda dengan Covid-19. 

Dalam banyak kasus, seseorang yang mengidap virus ini akan mengalami gejala ringan seperti batuk, bersin, demam, lelah, nyeri otot, hidung tersumbat, dan sakit kepala. Yang bikin resah, penyakit yang ditularkan lewat udara ini terus bermutasi dan menyebabkan berbagai penyakit serius lainnya. Misalnya: flu burung atau swine flu.

Dengan mempertimbangkan daya jelajah, cakupan transmisinya, dan faktor mutasi dari pelajaran berharga influenza yang berkembang menjadi flu burung seperti di atas, maka dengan probabilitas karakter dan adaptasi khas virus, bisa jadi Covid-19 merupakan virus dengan model transmisi airborne atau menyebar via udara bebas. Jika benar, maka beri kabar yang jelas kepada khalayak agar lebih mempertimbangkan efek-efeknya.

Untuk sementara WHO mengungkapkan bahwa Covid-19 menular melalui droplet alias percikan liur dari orang-orang yang terinfeksi oleh virus corona ketika mereka batuk atau bersin.

Droplet yang disemburkan penderita Covid-19 berukuran besar, berdiameter 0,125 mikrometer. Walaupun tak cukup ringan untuk melayang lama dan jauh di udara, namun tetap masuk kategori melayang. Paling jauh lontarannya sekitar satu atau dua meter. Menurut saya itu sudah cukup disebut dengan airborne.

Sebagai pembanding pernyataan resminya, WHO mengungkapkan bahwa Covid-19 menular melalui droplet alias percikan liur dari orang-orang yang terinfeksi oleh virus corona ketika mereka batuk atau bersin.

Berita Terkait :  Setelah Koordinasi dengan Pusat, Anies akan Umumkan PSBB

Droplet yang disemburkan penderita Covid-19 berukuran besar, berdiameter 0,125 mikrometer, sehingga tak cukup ringan untuk melayang lama dan jauhi udara. Paling jauh, lontarannya sekitar satu atau dua meter.

Penularan secara airborne mungkin saja terjadi. Hal ini telah dijelaskan oleh otoritas Unit Penyakit Emerging dan Zoonosis WHO, Dr Maria Van Kerkhove. Dia menyebutkan bahwa akibat prosedur medis, partikel droplet virus corona dapat menjadi aerosol, yakni partikel halus yang dapat bertahan lama di udara alias hampir sama dengan keadaan airbone

Kemudian, keadaan atau situasi lain yang dapat memperkuat status airbone-nya adalah tentang salah satu contoh prosedur medis yang menghasilkan aerosol yang biasa disebut dengan proses intubasi. Saat pemasangan alat bantu napas itu, pasien Covid-19 bisa saja mengeluarkan sekret pernapasan. Artinya, pasien Covid-19 telah menciptakan keadaan aerosol atau semi-airborne.

Sementara itu, hal lainnya yang mendukung suspek airborne adalah salah satu bentuk perawatan dan penanganan pasien Covid-19. Pasien yang dalam kondisi kritis, ditangani di ruang isolasi bertekanan negatif dengan pintu tertutup rapat. Cara ini agar dapat mencegah penyebaran virus melalui udara. Ini juga mirip prosedur penanganan pasien infeksi virus airbone

Berita Terkait :  Jumlah Pemain Dota 2 Kembali Tunjukkan Tren Positif

Pun begitu, ada anjuran untuk petugas kesehatan yang menangani kasus Covid-19 wajib menggunakan masker N95 yang dapat menyaring 95 persen partikel cair yang airborne.

Sedang petugas medis yang melakukan prosedur tersebut dapat atau memungkinkan terciptanya kontak aerosol. Mereka perlu melakukan upaya pencegahan penularan melalui udara (airborne). Lagi-lagi ini adalah ciri khas virus airborne

Untuk memungkinkan transmisi lewat udara, virus membutuhkan kondisi khusus agar bisa melayang. Di lingkungan alami, suhu udara dan kelembaban bisa jadi menjadi penjegal.

Adalah tindakan  bijak jika kita memahami pandemi ini secara hati-hati dan sedetail mungkin. Termasuk menghitung dan mewaspadai kemungkinan status pandemi virus ini berjenis airborne.  Kenyataannya, virus corona Covid-19 sangatlah mudah dan bisa berubah keadaan dari droplet ke airborne ataupun keadaan seminya yang disebut dengan keadaan aerosol

Virus Corona yang semi-airborne ini juga mengalami peningkatan jumlah pada musim hujan sebagaimana virus influenza yang bisa memberi infeksi sekunder (infeksi bakterial) pada saluran pernapasan setelah terpapar. 

Secara keseluruhan dengan memperhatikan segala aspek virologis yang sangat berdekatan dan hampir similiar dengan virologis influenza tersebut, maka, adalah bijak bagi pihak yang mempunyai otoritas untuk segera memberikan status transmisi Covid-19 yang sebenarnya, walau itu terasa berat. [*]

- Advertisement -

Tinggalkan Balasan