China Tegas Menolak Undangan Kontrol Senjata Trilateral dari AS dan Rusia

Kontrol Senjata
© AP Photo / Thomas Peter

Berita Baru, Internasional – Pada Rabu (10/6), Utusan Khusus Presiden AS untuk Kontrol Senjata Marshall Billingslea menyerukan China untuk mempertimbangkan kembali partisipasinya dalam negosiasi kontrol senjata trilateral bersama AS dan Rusia.

Marshall Billingslea menyerukan hal itu melalui cuitan di akun Twitternya.

“China hanya mengatakan tidak memiliki niat untuk berpartisipasi dalam negosiasi trilateral. Itu harus mempertimbangkan kembali. Untuk mencapai status Kekuatan Hebat dibutuhkan perilaku dengan tanggung jawab Kekuatan Hebat. Tidak ada lagi Tembok Besar Kerahasiaan pada pembangunan nuklirnya. Kursi menunggu China di Wina,” cuit Marshall Bilingslea.

Cuitan itu muncul setelah AS dan Rusia berencana untuk melakukan perundingan kontrol senjata nuklir pada 22 Juni mendatang di Austria.

Berita Terkait :  Anggap Dialog Sia-sia, Korea Utara Siap Melawan AS dengan Nuklir

Dilansir dari Bloomberg, seorang pejabat senior AS mengatakan bahwa kemungkinan AS akan mau memperpanjang kesepakatan nuklir New START asalkan Rusia berkomitmen pada tiga arah bersama dengan China dan mau membantu ‘merayu’ China bergabung.

Namun, China telah menyatakan bahwa ia tidak akan bergabung dalam perundingan tersebut.

Mengutip Sputnik, dalam sebuah pernyataan, Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Hua Chunying menekankan bahwa China telah berulang kali menyatakan posisinya untuk tidak mau ikut campur.

“Kami tidak memiliki niat untuk berpartisipasi dalam apa yang disebut negosiasi kontrol senjata trilateral dengan AS dan Rusia. Itu konsisten dan jelas,” jelas Hua Chunying pada 8 Juni.

Sementara itu, menurut Stockholm International Peace Research Institute dari laporan data tahun 2018, dalam hal senjata nuklir dunia, China berada jauh di belakang AS dan Rusia. Secara total, AS dan Rusia bersama-sama menyumbang lebih dari 90 persen senjata nuklir dunia.

Perundingan tersebut muncul menjelang tanggal berakhirnya kesepakatan New START yang akan berakhir tanggal 5 Februari 2021.

Berita Terkait :  Soleimani Dibunuh AS, Iran Tak Akan Lagi Patuhi Perjanjian Nuklir

Karena itu, para ahli pengendalian senjata khawatir bahwa tanggal berakhirnya New START dimanfaatkan oleh AS untuk bisa membawa China ke dalam meja perundingan.

Mengingat, New START kini menjadi satu-satunya perjanjian pengendalian nuklir antara AS dan Rusia.

Sebelumnya, AS dan Rusia menyepakati Perjanjian Pasukan Nuklir Jangka Menengah, namun Presiden Trump menarik diri dari perjanjian tersebut pada 2 Agustus 2019.

- Advertisement -

Tinggalkan Balasan