China dan Rusia Bersatu Lawan Virus Politik Barat

Ilustrasi foto: Rusia Today

Berita Baru, Internasional – Menghadapi disinformasi Barat dan campur tangan asing, Rusia dan China akan bekerja sama dalam mengatasi tidak hanya pandemi COVID-19 , tetapi juga ancaman yang bermutasi dengan cepat di panggung dunia. Begitu bunyi pernyataan yang dikeluarkan Menteri Luar Negeri China, Wang Yi.

“China dan Rusia akan menjadi pilar perdamaian dan stabilitas di dunia,” tegas Wang Yi dalam Kongres Rakyat Nasional, atau parlemen China, Minggu lalu.

“Sejarah memperlihatkan bahwa semakin tidak stabil dan bergejolak dunia ini, semakin menentukan kerja sama antara China dan Rusia,” tuturnya, dilansir dari Russia Today, Selasa (9/3).

Pada saat yang sama, Yi menginformasikan bahwa kedua negara ini akan membangun model saling percaya strategis, saling mendukung dengan kuat dalam menegakkan kepentingan yang fundamental dengan cara menggabungkan kekuatan melawan ‘revolusi warna’, dan melawan semua jenis informasi palsu, juga mempertahankan kedaulatan dan keamanan politik.

Dia mengemukakan bahwa China dan Rusia akan bekerja sama “berdampingan” dalam perang melawan pandemi virus Corona, dan siap untuk bekerja sama melawan virus politik bersama-sama.

“Kami siap untuk mengeksplorasi dan bekerja sama secara terbuka dengan AS…dan bahkan kami tidak akan membuat hambatan baru secara artifisial,” tambahnya.

Diketahui, Beijing dan Moskow sudah berupaya merawat hubungan yang lebih dekat dalam beberapa tahun terakhir dengan latar belakang sanksi, sengketa perdagangan, dan hubungan yang semakin tegang dengan Barat. Bahkan, pada tahun 2019, Presiden China Xi Jinping menggambarkan mitranya dari Rusia, Vladimir Putin, sebagai “sahabatnya”.

Tetapi, para analis sebelumnya memandang bahwa, meskipun retorika hangat, hubungan Rusia-China “berjalan satu mil lebar dan dalam satu inci,” dengan sedikit integrasi fungsional militer dan politik dibandingkan dengan blok Barat seperti NATO dan Uni Eropa. Hubungan tersebut diragukan lagi, dan mencair dalam beberapa dekade terakhir.

Meskipun keduanya sama-sama memiliki ketundukan ideologis terhadap bentuk-bentuk negara komunisme, pada tahun 1969 China dan Uni Soviet bertempur dalam serangkaian pertempuran dalam rangka memperebutkan wilayah yang disengketakan di Asia Timur Jauh.

Pada awal bulan ini, sejumlah media Barat menuduh peretas dari kedua negara dilaporkan terlibat dalam kampanye spionase dunia maya untuk melakukan pencurian data mengenai kandidat vaksin Eropa. Dan pada saat yang sama, pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden dikatakan prihatin dengan dugaan serangan dunia maya dari kedua negara itu.

Facebook Comments
- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini