Berita

 Network

 Partner

Cerita Garda Terakhir Covid-19, Muwardi: Gak Ada Sukanya, Duka Semua

Cerita Garda Terakhir Covid-19, Muwardi: Gak Ada Sukanya, Duka Semua

Berita Baru, Tangsel – Muwardi, lelaki berusia hampir setengah abad tetap semangat bekerja di garda terakhir penanganan COVID-19 di Kota Tangerang Selatan. Ia mengaku, sudah empat tahun bekerja sebagai sopir ambulans.

Sejak pandemi mewabah pada 2020 silam, Muwardi menyebut sudah tak terhitung jumlah jenazah Covid-19 yang dijemput dan diantarnya hingga ke liang lahat. Menurut, Muwardi tak ada suka menjadi sopir ambulans jenazah Covid-19.

“Enggak ada sukanya, duka semua. Kasian lah sama jenazah dan keluarganya,” kata Muwardi, dikutip dari suarajakarta.id, Sabtu (26/6).

Muwardi menceritakan pengalamannya , saat ditemui di TPU Jombang, Ciputat, Tangsel. Empati itu ia rasakan karena melihat keluarga korban yang terpaksa tidak bisa ikut dalam pemakaman sanak keluarga yang meninggal akibat Covid-19.

“Kadang nggak ada keluarga yang ikut serta dan tahu kalau salah satu keluarganya sudah meninggal, karena sedang isolasi mandiri. Jangan sampai kita ngalamin,” cerita Muwardi.

Sebagai sopir ambulans khusus jenazah Covid-19, tak dapat dipungkiri Muwardi punya ketakutan akan tertular. Bahkan keluarganya juga turut waswas dan sempat panik setelah tahu Muwardi bekerja sebagai bagian dari sopir ambulans jenazah Covid-19 dari berbagai rumah sakit, Puskesmas dan klinik.

Pengorbanan Muwardi untuk memastikan tidak membawa virus ke rumahnya sangat luar biasa. Dirinya harus rela menahan diri untuk pulang dengan menunggu terlebih dahulu satu-dua jam di kantornya. Keputusan itu dibuatnya untuk memastikan keamanan dan keselamatan keluarganya dari kemungkinan terpapar Covid-19.

“Awalnya panik. Sampai mandi aja di luar, pakai bak mandi di luar. Kasian anak-anak di rumah kalau sampai bawa virus ke rumah. Jadi selesai antar jenazah ke makam, ke kantor dulu, satu-dua jam mastiin steril,” tuturnya.

Lelaki berusia 48 tahun ini pernah merasa kewalahan kerena pasien Covid-19 yang meninggal mengalami lonjakan. Dalam sehari, pada Juni 2021, Muwardi jemput-antar jenazah Covid-19 hingga lima jenazah. Bahkan ia melakukannya hingga larut malam.

“Kewalahan sih tenaganya, kemaren sampai jam 12 malam. Kita ambil jenazah dari pagi sampai malam. Jemput jenazahnya sekitar Jakarta-Serang yang KTP Tangsel,” ungkap Muwardi.

Muwardi juga mengatakan, dengan memakai alat pelindung diri (APD), mulai dari penutup kepala, masker, baju hazmat dan sepatu boots, dirinya harus fokus mengendarai ambulans dengan kecepatan tinggi.

“Karena di jalan macam-macam, ada pengendara yang ngerti langsung membuka jalan, ada juga yang menutup jalan mendadak. Kalau enggak fokus, bahaya,” tukasnya.

Berita Terkait :  Mantan Bupati Pohuwato, Syarif Mbuinga Harap Semua Pihak Bantu Pembangunan MTs di Wanggarasi