Cegah Penyebaran Virus Korona, China Tutup Layanan Umum

(Foto : CNBC)

Berita Baru, Internasional – Virus baru yang dilaporkan muncul pertama kali di Tiongkok telah menewaskan 17 orang dan menginfeksi hampir 600 orang lainnya. Virus itu dinamai dengan “2019-nCoV” dan milik keluarga dengan virus Korona yang dapat menular dari satu orang ke orang lainnya.

Penyakit mirip pneumonia yang mematikan itu pertama kali diidentifikasi pada 31 Desember 2019, di kota Wuhan di China, provinsi Hubei. Virus itu kemudian menyebar ke kota-kota besar seperti Beijing, Shanghai, Makau, dan Hong Kong.

Seperti dilansir dari CNBC, Kamis (23/1), Thailand, Amerika Serikat, Taiwan, Korea Selatan dan Jepang masing-masing melaporkan kasus yang sama.

Sebagai upaya pemerintah dalam mencegah penularan virus agar tidak semakin meluas, China telah mengurungkan perayaan tahun baru dan Imlek. Dilaporkan oleh Beijing News hari Kamis (23/1), hal itu bertujuan agar wabah virus Korona tidak menyebar.

Pada hari Kamis, China menutup dua kota pusat penyebaran virus Korona baru. Sebagian besar transportasi di Wuhan diskors pada Kamis pagi dan masyarakat dihimbau untuk tidak berpergian. Beberapa jam setelahnya media pemerintah Huanggang memberlakukan kebijakan serupa.

Berita Terkait :  Khawatir Terinfeksi Virus, 6.000 Wisatawan Ditahan di Dalam Kapal

Pemerintah kota Wuhan mengatakan akan menutup semua jaringan transportasi perkotaan dan menangguhkan penerbangan keluar mulai pukul 10 pagi (02:00 GMT) waktu setempat. Media domestik menyebut beberapa maskapai penerbangan akan beroperasi setelah tenggat waktu.

Salah satu media pemerintah melaporkan pintu tol di sekitar Wuhan ditutup yang akan memotong jalan. Langkah serupa akan mulai diberlakukan pada Jumat (24/1) di kota terdekat Ezhou.

Bioskop, kafe, warung internet, dan pusat hiburan umum lainnya juga dihimbau untuk ditutup guna mencegah penyebaran wabah.

“Penguncian 11 juta orang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah kesehatan masyarakat, jadi itu jelas bukan rekomendasi yang telah dibuat WHO,” kata Gauden Galea, perwakilan Organisasi Kesehatan Dunia di Beijing, kepada Reuters.

- Advertisement -

Tinggalkan Balasan