Berita

 Network

 Partner

Pohon Natal
(Foto : gurugeografi.id)

Buruh Pemetik Pohon Natal Georgia: Resiko Besar, Gaji Kecil

Berita Baru, Internsional – Demi menghasilkan pucuk pinus favorit, buruh pemetik pohon natal di pegunungan utara Georgia harus menghadi bahaya. Namun, besarnya resiko yang dihadapi, ternyata tidak berbanding lurus dengan gaji yang mereka terima.

Dilansir dari TheGuardian, Senin (23/12), Ramaz Chelishvili, salah seorang buruh pemetik pinus menceritakan pengalamannya. Ia dan beberapa rekannya yang lain, harus memanjat cepat mencapai puncak pohon pinus. Memotong pucuk satu-persatu hingga habis barulah Chelishvili turun dari atas pohon.

“Saya mencoba untuk tidak memikirkan apa pun di sana, hanya fokus. Masalahnya adalah, jika Anda kehilangan konsentrasi, maka Anda mungkin jatuh,” katanya.

Menjelang Natal dan tahun baru, hutan Ambrolauri yang terletak di pegunungan utara Georgia, dipenuhi oleh orang-orang yang mencari kerucut pinus dan biji-bijian yang tersembunyi di dalamnya.

Berita Terkait :  Kecemasan Anak-anak Menjelang Natal, Pakar Penyakit Menular AS: Sinterklas Sudah Divaksin

Benih-benih ini, setelah dikirim dan ditanam di tanah Eropa, akan menghasilkan pohon Natal favorit Eropa, cemara Nordmann yang tinggi dan anggun.

“Itu tebal dan hijau dengan bentuk yang indah. Dan yang paling penting, itu tidak menjatuhkan jarumnya,” kata Marianne Bols, seorang penanam pohon Denmark.

Bols adalah satu di antara sejumlah importir yang datang ke hutan setiap tahun untuk membawa benih ke Eropa. Sekitar 150 pohon Natal dijual setiap tahun di benua itu. Sepertiga atau lebih berasal dari Ambrolauri.

Sementara itu, para buruh pemetik kerucut yang datang dari desa dekat hutan dan kota-kota kecil hanya mendapat upah akhir yang sangat kecil, setelah resiko besar yang mengancam nyawa mereka. Mereka mengaku menaiki pohon yang cukup tinggi dengan tanpa alat bantu dan alat pengaman apapun.

Berita Terkait :  GETOL Desak Pemerintah Liburkan Buruh Selama Pandemi Covid-19

“Saya lahir di hutan, dan telah memanjat sejak saya masih kecil,” kata Lasha Sopromadze, dari desa Tlugi di tepi hutan.

“Perusahaan asing mendapat untung paling besar dalam hal ini. Kami hanya memiliki kerucut, tidak ada pabrik atau perkebunan. Semua orang akan melakukannya. Seluruh desa pergi ke hutan di musim gugur. Kami akan memasak bersama di malam hari, dan makanannya terasa seperti getah di jari kami,” kata Violeta Katsitadze, juga dari Tlugi.