Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Gus Halim
Menteri Desa, PDT dan Transmigrasi Abdul Halim Iskandar, menerima Audiensi dengan Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah DIY, Gusti Kanjeng Ratu Bendara, Pada Senin (8/11). (Foto : Angga/Kemendes PDTT)

BUM Desa Kuat, Wisata Desa Lancar, Stunting Lewat

Berita Baru, Jakarta – Mendes PDTT Abdul Halim Iskandar menegaskan bahwa pengembangan ekonomi desa bisa diakselerasi dengan penguatan BUM Desa.

Menurutnya, badan usaha mikro itu akan menjadi motor penggerak yang efektif bagi usaha lain di desa seperti desa wisata sekaligus mengentaskan kemiskinan dan menekan angka stunting.

“Hal yang jadi fokus adalah pembangunan dan pengembangan BUM Desa, salah satunya fokus ke peningkatan SDM di desa untuk mengelola sektor ekonomi,” kata Mendes Abdul Halim Iskandar, Senin (8/11).

Pernyataan tersebut disampaikan saat Mendes menerima kunjungan Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah DI Yogyakarta Gusti Kanjeng Ratu Bendara di ruang kerja, di Kemendes PDTT Jakarta.

Dalam rilis Kemendes disebut, kunjungan GKR Bendara guna berkoordinasi mengenai desa wisata, yang sedang digenjot oleh badan promosi yang dipimpinnya hingga persoalan stunting.

Kepada Gus Halim, sapaan akrabnya, Gusti Bendara memaparkan perkembangan promosi untuk menggeliatkan kembali pariwisata di Yogyakarta.

Seperti menggelar konser di Desa Mangunan, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul, yang telah dikunjungi Mendes Halim sebelumnya.

Menurut Gus Halim, dua tahun pandemi Covid-19 membuat banyak hal harus dibenahi, termasuk mengenai konsep desa wisata yang saat ini sudah menjadi ikon penting dalam pariwisata nasional.

Desa wisata yang berbasis alam kini hendaknya diutamakan. Dalam proses pembenahan usaha-usaha di desa seperti pengembangan desa wisata itu, peran BUMDes sangat menentukan.

Untuk itu, lanjutnya, badan-badan usaha milik desa harus direvitalisasi. Jika perlu berbadan hukum agar posisinya lebih kuat.

Gus Halim melihat, setelah Omnibus Law terbit, BUM Desa bisa berbadan hukum. Selain itu, agar BUMDes kuat, Kemendesa PDTT juga menggandeng perguruan tinggi.

Utamanya yang tergabung dalam Perguruan Tinggi untuk Desa (Pertides), dan dunia usaha atau korporasi untuk bersama-sama membantu proses revitalisasi dan pengembangan usaha BUM Desa.

Gus Halim menilai DI Yogyakarta sudah cukup mumpuni dalam mengelola desa-desa wisata. Selian itu Pemda DIY juga menunjukkan perhatian dan kepedulian membangun desa untuk pemulihan ekonomi pasca pandemi COVID-19.

“Kami sangat mengapresiasi dan berterima kasih kepada Sri Sultan dan jajaran Pemerintah DI Yogyakarta,” ujar Gus Halim.

Mengenai stunting, penerima doktor honoris causa dari UNY ini merasa cukup kesulitan menghadapi penderitanya.

Alasannya, stunting itu sangat terkait dengan pola hidup dan kesehatan. Dengan berkelakar Gus Halim menyebut bahwa dia merasa lebih mudah menangani warga desa yang terkena ”stunting” ekonomi.

Namun Gus Halim merasa yakin ke depan desa-desa akan lebih mudah menangani stunting di desa, apalagi didukung dengan data desa berbasis SDGs Desa yang berbasis individu dan rumah tangga.

“data desa yang dikumpulkan relawan desa itu bisa langsung merujuk pada keluarga dan individu penderita stunting, sehingga penanganannya akan lebih mudah” jelas Gus Halim. 

Hal senada diungkap GKR Bendara yang mengaku memiliki kepedulian tinggi terhadap stunting, meski diakuinya belum ada data yang valid mengenai itu.

Data yang dilansir BKKBN biasanya berdasarkan persentase. Dia mencontohkan data BKKBN menempatkan angka stunting di Kabupaten Gunung Kidul cukup tinggi, padahal kalau dihitung jumlah anak di Kabupaten Sleman lebih banyak.

“Untuk menekan angka stunting hingga mencapai nol persen bukan hal mudah, ada banyak faktor berpengaruh mulai dari asupan gizi ibu saat mengandung, faktor ekonomi, pendidikan, juga budaya yang berkembang,” tutur Bendara.

Salah satu yang diupayakan GKR Bendara ialah program bantuan untuk menekan angka stunting itu. Dia memberikan bantuan senilai Rp. 20 juta untuk setiap anak per tahun. Jumlah ini termasuk program makanan bergizi dan honor untuk pendamping.

Berikutnya GKR memaparkan bahwa Kulon Progo bakal menjadi pintu masuk bagi Borobudur High Land. Karena itu, perlu banyak pembenahan di sana, terutama desa-desa wisatanya.

Demi upaya ini GKR Bendara menggandeng Badan Otorita Borobudur agar bawang merah di Kulon Progo menjadi salah satu komoditas unggulan, tapi dengan catatan perlu ada peningkatan kualitas.

“Desa produksi bawang merah ini bisa dijadikan desa wisata. Di sana ada ritual pada proses penanaman dan ritual panen. Saya sedang usahakan agar ada agrowisata di Kulon Progo ini,” katanya.

Pada praktiknya, GKR Bendara berharap BUM Desa yang akan menjadi penyedia bawang merah untuk Borobudur High Land.

BUMDes yang mengambil bawang merah itu dari petani di Desa Kayangan secara langsung agar harga lebih menguntungkan petani. Branding produk Desa Agro Wisata itu nantinya adalah Bawang Merah Kayangan.

Gus Halim menyambut baik rencana BUM Desa sebagai penyalur atau penyedia bawang merah bagi Borobudur High Land. Bahkan, dia bakal menyempatkan diri untuk menyambangi Desa Kayangan itu.

“Nanti kami coba diskusikan dengan Kepala Desa mengenai kebutuhan dan penyiapan BUM Desa dari proses tanam, produksi hingga pemasaran bawang merah Desa Kayangan,” tukas Gus Halim.