Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

BRGM Prioritaskan Keterlibatan Perempuan Dalam Pengelolaan Hutan Mangrove
Sekretaris Utama Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) Ayu Dewi Utari dalam Podcast Seri 9 : Pengelolaan Mangrove dan Pesisir yang Responsif Gender, Sabtu (12/3).

BRGM Prioritaskan Keterlibatan Perempuan Dalam Pengelolaan Hutan Mangrove

Berita Baru, Jakarta – Sekretaris Utama Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) Ayu Dewi Utari menepis adanya kesenjangan gender dalam pengelolaan hutan mangrove, baik di tingkatan tapak maupun di tingkat pengambil kebijakan.

Dalam Podcast Seri 9 : Pengelolaan Mangrove dan Pesisir yang Responsif Gender, Sabtu (12/3), Ayu Dewi Utari menegaskan bahwa pihaknya tidak pernah membedakan antara laki-laki dan perempuan, tetapi pendekatan dengan perempuan harus lebih khusus.

“Ketika mangrove tidak diperhatikan dan terjadi intrusi, maka yang terdampak pertama adalah perempuan. Meski demikian, ketika mangrove diperhatikan dan dikelola dengan baik, maka pihak yang akan merasakan dampaknya juga perempuan,” tutur perempuan yang kerap disapa Ayu.

Mengulas tentang pelibatan perempuan dalam pengelolaan hutan mangrove di tingkat pengambil kebijakan, Ayu mengatakan banyak perempuan yang turut serta dan ambil bagian di pemerintahan pusat lantaran sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 120 tahun 2020 tentang Badan Restorasi Gambut dan Mangrove.

Sementara di tingkat tapak, Ayu menilai keterlibatan perempuan dalam rehabilitasi mangrove sudah berjalan dengan baik di beberapa daerah. Ia mencontohkan di Sumatera Utara, ada yang anggota kelompoknya sebagian perempuan. Bahkan, di Kalimantan Barat terdapat kelompok tani yang sebagian besar anggotanya perempuan.

“Kita juga mendorong agar perempuan membuat produk sampingan, produk lanjutan dari hasil mangrove. Lha, kalau bapak-bapak disuruh bikin sirup kayaknya tidak bakal sanggup,” jelas Ayu.

Tidak hanya itu, di Indonesia bagian timur, Ayu mengatakan terdapat kelompok tani yang khusus perempuan.

“Di daerah Indonesia Timur Papua Maluku bahkan ada kelompok tani khusus perempuan yang mereka itu mempunyai jatah hutan adat. Mereka punya budaya yang namanya Sasi. Jadi di areal hutan mangrove itu dikelola khusus perempuan, hanya wanita yang boleh masuk mengambil hasil,” tegasnya.

Diketahui, ekosistem mangrove memiliki kemampuan untuk menyimpan cadangan karbon 4-5 kali lebih besar dibandingkan hutan daratan. Mangrove mencegah abrasi dan tempat pemijahan biota laut.

Ayu menjelaskan ekosistem mangrove merupakan habitat ikan yang dapat menunjang penghasilan nelayan tradisional yang tidak memiliki peralatan modern untuk menangkap ikan di atas 5 sampai 12 mil laut.

Dalam upaya melakukan restorasi gambut dan mangrove, BRGM bergerak dengan multisektor. Ayu mengaku, kegiatan restorasi dan rehabilitasi untuk lingkungan itu sebetulnya tidak mungkin dilaksanakan sendirian oleh pemerintah.

“BRGM memang pemerintah pusat. Tapi dalam pelaksanaannya mau tidak mau harus wajib bekerjasama dengan pemerintah daerah kementerian lembaga lain,” dengan merujuk TNI, Polri, Pemda, NGO, dan yang paling penting masyarakat sekitar mangrove.

Masyarakat sekitar mangrove penting untuk dilibatkan karena memang itu merupakan strategi BRGM dalam menjalankan tugasnya merawat dan merestorasi gambut dan mangrove agar dapat menunjang kehidupan sehari-hari nelayan kecil di kawasan pesisir, fungsi utama mangrove adalah sebagai penyedia makanan bagi berbagai macam biota laut.

“Kita diskusi, ini tambak anda harus diperbaiki, karena jika tidak diperbaiki penghasilan berkurang. Jadi awalnya kita pendekatan langsung dengan mereka, kita sepakat, dan kita akan mulai merancang bagaimana penanaman mangrove. Disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi biofisik-nya lalu dikombinasikan dengan keinginan masyarakat,” terangnya.

Di tahun 2021, BRGM mulai mendapat perhatian khusus dari Presiden Joko Widodo. BRGM tidak hanya dituntut untuk melakukan pemulihan ekonomi nasional pascapandemi, tetapi juga dituntut untuk mencapai target yang diumumkan Presiden dalam COP26 di Glasgow, yaitu rehabilitasi hutan mangrove seluas 600.000 hektar sampai 2024.

“600ribu itu data tahun 2011. Di mana kerusakan terbesar itu di 9 provinsi itu. Namun di provinsi lain bukan berarti tidak terjadi kerusakan. Siapa yang bertanggung jawab tetap tegas barang. KLHK, KKP, Pemda, dan masyarakat. Dan di tahun 2021, karena ada program pemulihan ekonomi, kami kerja di 34 provinsi,” ungkap Ayu.

Untuk diketahui, Serial Podcast tersebut merupakan hasil kerjasama Kelompok Kerja (Pokja) Pengarusutamaan Gender (PUG) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), The Asia Foundation (TAF), dan Beritabatu.co.