Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

BNPT Ajak Pesantren Menjadi Agen Kontranarasi Radikalisme di Media Sosial
Kepala BNPT Komjen Polisi Boy Rafli Amar menghadiri penandatanganan nota kesepahaman dengan Majelis Permusyawaratan Pengasuh Pesantren se-Indonesia (MP3I) di Jakarta, Jumat (25/2). (Foto: Humas BNPT)

BNPT Ajak Pesantren Menjadi Agen Kontranarasi Radikalisme di Media Sosial



Berita Baru, Jakarta – Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengajak satuan pendidikan pesantren untuk turut serta menjadi agen kontranarasi melalui penyebaran dakwah yang rahmatan lil alamin di media sosial.

“Kami harap pesantren menyebarkan narasi-narasi dan dakwah-dakwah Islam rahmatan lil alamin untuk memagari para santri khususnya, dan pemuda generasi penerus bangsa agar tidak terpropaganda ideologi radikal intoleran,” kata Kepala BNPT Komjen Polisi Boy Rafli Amar dalam keterangan persnya, dikutip Minggu (26/2).

Menurut Boy, pesantren memiliki peran penting sebagai garda depan lembaga pendidikan berbasis agama untuk meluruskan pemahaman yang keliru dan menghindari penyalahgunaan yang mengatasnamakan agama sebagai alat propaganda pemecah belah persatuan.

Guna meningkatkan kapasitas santri, BNPT juga telah beberapa kali memberikan pelatihan kepada para santri berupa pengenalan dan pembuatan konten serta narasi positif dalam rangka memperkuat nilai persatuan dan kesatuan. 

“Hal ini dilakukan sebagai upaya pencegahan paham radikal intoleran yang semakin marak di era digital ini,” ujarnya.

Ia menjelaskan, dalam menciptakan rasa aman bagi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara dari gangguan paham radikal intoleran, BNPT melakukan sinergi dengan banyak pihak. Salah satunya dengan Majelis Permusyawaratan Pengasuh Pesantren se-Indonesia (MP3I).

“Tujuannya dalam rangka melindungi kepentingan negara dan bangsa sehingga tercipta rasa aman bagi masyarakat,” ujar Boy. Oleh karena itu, kolaborasi pencegahan paham radikal dan intoleran dapat berjalan dengan baik serta diwujudkan melalui aksi nyata.

Dalam era digital, paparan (paham radikal) yang paling tinggi adalah melalui sosial media, dan dengan media sosial bisa menjadi radikal dengan sendirinya membaca konten yang menyimpang. 

“Peran pesantren sangat penting dan vital untuk melindungi para santri khususnya dan pemuda generasi penerus bangsa agar tidak terpropaganda ideologi radikal intoleran,” pungkasnya.