Berteduh di Bawah Tuhan | Puisi Fiezu

Berteduh di Bawah Tuhan
(Puisi : Puisi Fiezu)


Alarm Pengingat

riuh alarm jam tujuh pagi
panik berlari mengejar absensi

balkon rumah kutengok sunyi
deret manusia memucat pasi

haluanku lekas berhenti
aku lupa kami sedang dipaksa mencicipi sepi

di dalam rumah sendiri
ladang uangku telah diliburkan sejak kemarin

alarmku berbunyi lagi
kali ini bunyinya lebih bising dari jam tujuh tadi

ada hantaman
yang dipaksa merabak otak
demi kewarasan pikiran
bahwa negeriku sedang tidak baik-baik saja


bertebaran ketakutan
dari segala sudut Indonesia
ada yang menderam-deram kehilangan
sampai pada menggeru terus berjuang

sinkronisasi tidak selaras, bagaimana bisa menyembuhkan?

berdalih tak punya peran
ramai-ramai bersantai menuju angkringan
berdalih kematian di tangan Tuhan
manusia anti himbauan jadi lahirnya sebutan

alarmku kembali menggerutu
samar-samar, ada doa dan harap yang ingin ditembus
apapun dan sedikitpun yang kau mampu
mari, berpegang menjadi satu

Jakarta, 2020

Berteduh di Bawah Tuhan

bagaimana jika tiba-tiba Tuhan meminjam satu tangan kananmu pagi ini?
bagaimana jika tiba-tiba Tuhan mengganti lembar uangmu dengan koin-koin mungil siang ini?
bagaimana jika tiba-tiba Tuhan mengajakmu berdansa di singgahsananya malam ini?
begitu istimewanya, Ia lebih cepat menjemputmu

Berita Terkait :  Yurianto: Kalau Mau Terbebas dari Covid-19 Pindah Mars Saja

manusia masa kini sibuk menilai kawannya
manusia terlalu praktis menghitung dosa sesamanya
sampai pura-pura lupa sudah berapa tabungan berganti miliknya
mengaku paham dosa tapi susah menghitung sendirinya

duduk berlambat menghadiri masjid
sedang bentuk doanya sampai berderit
memaki si miskin yang meminta koin
sedang diberi duri sedikit langsung mengernyit

hei, kau bilang kau sudah berjaya?
jangan mau berhenti
gelombang tidak akan pernah redup
setan bisa jadi sedang menimangmu dengan anggun

garis waktu tidak akan pernah runcing
berputar-putar
sampai benar-benar berdering
Ia memanggil namamu

berteduh di bawah Tuhan
agar hujan tidak mudah menembusmu
siapapun dan bagaimanapun kisahmu
berteduh di bawah Tuhan
adalah sebaik-baiknya jalan kembali

Jember, 2020


Fiezu Himmah – Perempuan yang sekarang hidupnya sedang nomaden. Tapi tetap asli warga Jember. Ingin jadi sesuatu yang mudah kau ingat saja. Suka sekali kopi yang gulanya sedikit. Hoby terbarunya memandangi ikan di dalam akuarium dan miniatur kapal laut. Baru saja menerbitkan buku Antologi Puisi berjudul “Perempuan Yang Susah Menangis”.

- Advertisement -

Tinggalkan Balasan