Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Berpikir Adil Ala Soe Tjen

Berpikir Adil Ala Soe Tjen



Berita Baru, Tokoh – Seks itu rekreasi. Seks itu relasi. Seks bersisipan dengan belajar untuk saling menghormati. Ia membutuhkan tanggung jawab. Ia adalah ekspresi dasar. Seks adalah kita.

Itulah gambaran yang barangkali muncul di benak para pembaca Soe Tjen Marching, peneliti gender sekaligus dosen senior di SOAS University of London, khusunya teman-teman yang mengikuti program talkshow #BERCERITA yang digelar beritabaru.co pada Selasa malam (16/2), lalu.

Saat berkisah tentang salah satu bukunya yang sempat kontroversial, Seks, Tuhan, dan Negara, dalam #BERCERITA, Soe Tjen terlihat sangat antusias. Ia gemas pada beberapa lingkaran yang masih melihat seks sebagai tabu.

Kita semua, menurut Soe, berhutang pada seks. Manusia lahir di dunia melalui perantara biologis antara laki-laki dan perempuan, sehingga adalah ganjil ketika seks justru ditabukan dan bukan malah dibicarakan secara terbuka, padahal melihat kecenderungan anak-anak muda sekarang keterbukaan seputar seks sangatlah penting, terutama antara orang tua dan anak. 

Ditinjau dari segi budaya dan agama, kita mungkin tahu, dulu di Nusantara, masyarakat sangat terbuka terhadap seks. Ini terbukti dari tidak sedikitnya lingga-yoni yang tersisa dari candi-candi di Nusantara, khusunya Candi Cetho dan Candi Sukuh, Jawa Tengah. Lingga-yoni adalah simbol kesuburan: Lingga menggambarkan penis dan Yoni melukiskan vagina.  

Adapun agama, lanjut Soe, hari ini memang dicitrakan sebagai sesuatu yang begitu menentang seks, namun di beberapa fragmen, agama justru berkelindan dengan seks. Al-Quran dan Alkitab pun bahkan menjelaskan tentang seks.

Bergesernya interpretasi atas agama tentang seks bukan tanpa alasan. Mengapa mayoritas masyarakat, khususnya Indonesia, memahami agama sebagai yang bertentangan dengan seks berhubungan dengan negara yang kepo dengan urusan tubuh rakyatnya, sehingga di sini negara secara halus menggiring mereka untuk melihat seks sekadar sebagai prokreasi atau aktivitas yang orientasinya terbatas pada pembuatan anak.

Bagi Soe, ini kabar buruk dan berarti dua hal. Pertama, jelas itu tidak bisa diterima, dan kedua, menganggap seks hanya sebagai prokreasi sama halnya dengan mereduksi fungsi lain seks yang tidak kalah mendasar, yakni rekreasi dan relasi.

“Di Belanda, beberapa saat setelah pemerintah mengumumkan lockdown, masyarakatnya dianjurkan untuk lebih intens berhubungan seks. Kenapa? Sebab itu adalah rekreasi dan bagus untuk membangun relasi,” jelas perempuan yang tumbuh dan berkembang di Surabaya itu.

Relasi yang dimaksud Soe lebih pada bagaimana ketika sejoli sudah melakukan seks, pasti ada perubahan gaya berkomunikasi dan isu yang diobrolkan. Mudahnya, keduanya akan semakin terhubung, terbuka satu sama lain, lebih bisa saling menghormati, dan semacamnya. Menjadi terhubung dengan orang lain secara berkualitas tentu merupakan kebahagiaan tersendiri, apalagi di masa wabah.

Logika: bukan hanya untuk orang pintar

Dalam sesi obrolan santai yang dipandu oleh Al Muiz Liddinillah ini, Soe Tjen juga berbagi tentang mengapa ia mengkritik pernyataan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim tentang “mengirim mahasiswa untuk mengajar di pedalaman”. Soe menyebut, dari diksinya, pernyataan Nadiem tersebut mengandung dua persoalan.

Pertama, ini menyiratkan masih adanya stigmatisasi terhadap pedalaman oleh elite politik. Stigma yang paling sederhana adalah bagaimana ketika mereka melihat pedalaman, ukuran yang dipakai pasti orang kota.

Kedua, ungkapan di atas menyuratkan kepongahan, yakni dengan dipilihnya kata “mengajar” daripada “belajar dan mengajar”. Ketika diksi yang dipakai sekadar “mengajar”, maka rujukannya tentu pada anggapan bahwa pedalaman itu bodoh dan kota tentu cerdas. “Apakah benar demikian?” Tanya Soe.      

Soe berpandangan, logika tidak kenal kelas. Setiap kalangan, daerah, komunitas atau budaya memiliki logikanya sendiri. Orang Jakarta, lanjut Soe, boleh jadi lebih pintar di bidang Matematika dibanding orang Intan Jaya, tetapi apakah ia akan lebih cerdas tentang melacak binatang buas berbasis indra penciuman ketimbang orang Intan Jaya? Jelas tidak. Untuk bidang terakhir, orang Intan Jaya jauh di atas kemampuan orang Jakarta. Pendeknya, sebenarnya kita tidak memiliki alasan yang logis untuk merendahkan orang pedalaman.

Sungguhpun logika membutuhkan syarat khusus yang inheren dari seseorang, maka itu bukan kelas, orang kota, atau orang desa, tetapi kesabaran. Soe menilai, salah satu yang sulit untuk dilakukan perihal logika adalah kesabaran. Kita lebih sering tidak sabar daripada sebaliknya.

“Kenapa bisa begitu? Sebab menjadi sabar itu berat, sedangkan untuk tidak sabar sangat mudah dan inilah mengapa orang kebanyakan gagal menggunakan logikanya,” ujar pengarang buku The End of Silence: Accounts of the 1965 Genocide in Indonesia yang terbit pada 2017 itu.

Logika memang beriringan dengan nasib informasi hari ini, khususnya di media sosial. Soe berpandangan, untuk mengurangi hoaks sebenarnya bisa dimulai dari berlatih untuk menggunakan logika ketika menerima berita apa pun.

Caranya tidak sulit, kata Soe, yaitu dengan verifikasi, seperti melacak sumbernya langsung, membandingkan dengan media lainnya, dan yang tidak bisa diabaikan adalah satu. Sabar. Pada akhirnya, logika adalah kesabaran, proses serta ketekunan untuk selalu mau berhadapan dengan “kebosanan”.  

Kata, perlawanan, dan logika

Gemasnya Soe Tjen pada seks yang dianggap tabu dan pikiran yang merendahkan pedalaman tidak muncul secara spontan. Seperti ia kisahkan sendiri, ini berkaitan dengan kegelisahannya dulu waktu SMA ketika melihat beberapa gurunya mengadakan les privat untuk siswa-siswinya dan mereka yang bergabung selalu mendapatkan nilai yang tinggi, sedangkan yang tidak sebaliknya.

Mendapati fenomena tersebut, Soe muda merasa bahwa ada yang tidak beres di sekolahnya, entah itu ketimpangan atau bahkan ketidakadilan. Walhasil, sedari SMA, ia kerap bolos sekolah yang meski begitu, ia tidak pernah menyesalinya.

Fragmen hidup inilah, Soe melanjutkan, yang secara tanpa sadar telah membuatnya benci pada dua hal: ketidakadilan dan manipulasi. Apa yang terjadi dengan pernyataan Nadiem dan orang pedalaman jelas mengandung unsur ketidakadilan dan yang pecah antara rakyat dan penguasa tentang seks adalah manipulasi berbasis agama.

Lebih lanjut, ketika membincang manipulasi sebagai titik keresahannya, perempuan yang suka membaca novel-novelnya Pramoedya Ananta Toer ini juga menyitir soal kekuatan kata. “Siapa pun tidak bisa meremehkan kata-kata,” tegasnya.

Kata adalah awal dari segala pembantaian yang pernah dilakukan oleh demagog mana pun di sepanjang sejarah manusia. Orde Baru harus berupaya dulu untuk merangkai kata selogis mungkin hingga lahirlah hoaks Supersemar, baru bisa meluruhkan Orde Lama. Para korban pembantaian 1965-1966 direnggut haknya untuk berkata-kata. Siswa-siswa di masa orde baru dibungkam dengan kata-kata sejarah yang sudah dimanipulasi dan lain sebagainya. Kata adalah kekuatan. Di tangan diktator, ia adalah senjata paling beracun dan di tangan yang kritis, ia menjelma satu kekuatan yang sangat transformatif.

“Di atas semuanya, itulah kenapa saya merasa penting untuk menulis buku. Sebab buku adalah kata. Dan untuk informasi saja kepada teman-teman, pada 11 Maret besok, buku saya yang terbaru Logika: Bukan hanya untuk Orang Pintar akan terbit,” pungkas Soe.

“Tentunya teman-teman sudah tahu juga toh kenapa harus 11 Maret. Iya, sebab itu bertepatan dengan Hari Hoaks Nasional dan Supersemar. Supersemar itu hoaks. Jadi, saya rasa ini waktu yang sangat tepat,” imbuh Soe sembari berpesan pada anak-anak muda untuk bersemangat membaca, khususnya buku-buku yang di luar isunya, dan untuk tidak pernah meremah-remahkan “kata”.