Berkah Gamulyo, Buruh Gendong, dan Gerakan #RakyatBantuRakyat

-

Berita Baru, Tokoh – Istilah yang paling tepat untuk menyebut Gerakan Rakyat Bantu Rakyat di Yogyakarta yang diinisiasi oleh Berkah Gamulyo dan beberapa temannya barangkali adalah Superteam, bukan Superhero.

Sebagaimana dikisahkan oleh Gamulyo sendiri dalam sesi Bercerita Beritabaru.co ke-54 pada Selasa (6/7), aktivisme #RakyatBantuRakyat merupakan gerakan bersama: dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.

Tidak ada individu yang menonjol dalam #RakyatBantuRakyat, apalagi yang paling berperan. Semua memiliki perannya masing-masing dan dengan caranya tersendiri, kata Gamulyo.

Jadi, begitulah kenapa aktivisme tersebut bukanlah kerja Superhero, tapi Superteam. “Iya, memang begitu adanya. Teman-teman yang ikut like dan share di Twitter, mereka itu juga berperan signifikan,” ungkapnya dalam acara yang ditemani oleh Diah Bahtiar ini.

Terfokus pada satu kelompok rentan: buruh gendong perempuan

Gerakan ini, dibanding gerakan dapur umum sebelumnya, menyimpan keunikan. Ia hanya fokus pada satu kelompok rentan di Yogyakarta, yaitu Buruh Gendong Perempuan yang tersebar di empat (4) pasar tradisional: Pasar Bringharjo, Pasar Giwangan, Pasar Kranggan, dan Pasar Gamping.

Kelompok rentan di Yogyakarta memang banyak, apalagi dalam situasi darurat pandemi. Namun, Gamulyo dan teman-temannya memutuskan untuk memilih satu saja dari mereka.

Mas mul, sapaan akrabnya, memilih demikian sebab hanya dengan begitulah gerakan yang diinisiasinya tersebut bisa berkelanjutan (sustainable). Berdasarkan pengalamannya, gerakan berbasis donasi dan dapur umum seperti #RakyatBantuRakyat cukup rentan terhenti di tengah jalan entah karena donasi menurun maupun kelompok yang disasar sporadis.

Berita Terkait :  M. Jadul Maula dan Islam yang Kita Anut

“Jadi, mengetahui itu, kami di sini bermain aman. Sasaran kecil, satu kelompok saja, tapi terukur. Jumlah nasi kotak yang harus disediakan pun jelas setiap harinya, sehingga kami mudah-mudah saja mengatur uang donasi yang masuk,” jelas laki-laki yang juga aktif di Grup Musik Sisters in Danger ini.

Berita Terkait :  M. Jadul Maula dan Islam yang Kita Anut

“Dan di sisi lain, model gerakan seperti ini kan nasibnya sama sekali bergantung pada donasi. Jadi ya seperti inilah kami akhirnya, agar bisa bertahan,” tambahnya.   

Selain itu, menurut Mas Mul, keuntungan dari adanya sasaran yang kecil adalah bagaimana gerakan #RakyatBantuRakyat tidak saja mampu memberi nasi kotak pada para Buruh Gendong Perempuan, tetapi juga rasa aman.

Rasa aman karena Buruh Gendong mendapatkan kepastian bahwa setiap Senin – Jumat mereka tidak perlu memikirkan harus makan siang apa lantaran sudah ada jatah dari #RakyatBantuRakyat.

Ini pun semakin efektif karena pihak yang menerima jatah adalah tetap, dalam arti sudah ada data pasti. “Efektifnya bagaimana? Efektifnya bahwa dengan adanya kepastian ini mereka bisa menabung. Uang yang harusnya buat jatah makan siang, mereka bisa menyimpannya,” ungkap Mas Mul.

Jadi, model rasa aman dari adanya jaminan dan kepastian inilah yang tidak lain merupakan alasan kedua mengapa Mas Mul dan teman-temannya memutuskan untuk fokus hanya pada satu kelompok rentan.    

Kita semua adalah kunci

Strategi yang digunakan Mas Mul di muka dalam mengelola #RakyatBantuRakyat, termasuk Dapur Umum Buruh Gendong Perempuan Jogja, terbukti cukup efektif. Sudah sembilan (9) bulan, gerakan ini berjalan lancar, yakni sejak Oktober 2020 hingga Juli 2021.

Berita Terkait :  Yoshihide Suga, Calon Kuat Perdana Menteri Jepang

Jika dihitung secara bertahap, Mas Mul menyampaikan, pada bulan Juli ini #RakyatBantuRakyat sudah mencapai tahapan ke-7. Untuk pembagiannya, setiap tahapannya berbeda. Beberapa tahap menyasar ke Buruh Gendong di empat (4) pasar tradisional sekaligus, tetapi sisanya terfokus pada Pasar Bringharjo.

Berita Terkait :  Komunitas DUBGP: Keliling Pasar untuk Berbagi

“Sebenarnya ini menyesuaikan. Jika donasi naik, maka kami mengirim ke 4 pasar sekaligus, tetapi jika sepi, daripada nanti tidak mendapatkan semua dalam satu pasar, maka kami batasi di Bringharjo,” ujarnya.

Adapun mengenai donasi, jika dihitung sejak awal #RakyatBantuRakyat menerima sebanyak Rp250,000,000.00 yang terbagi menjadi dua: Rp152,000,000.00 diterima melalui Kitabisa.com dan sisanya langsung ke rekening #RakyatBantuRakyat.

“Saya pribadi pun tidak menyangka, uang donasinya bisa mencapai angka tersebut. Tapi yang jelas, terima kasih banyak pada orang-orang baik Indonesia dan yang di luar negeri. Terima kasih pula pada teman-teman yang sudah membantu menyebarkan cuitan kami di Twitter, menjadi relawan, dan sebagainya,” katanya.

Satu sisi, lanjut Mas Mul, gerakan #RakyatBantuRakyat bisa berjalan hingga saat ini karena para orang baik di atas, termasuk para relawan yang jika dihitung sejak awal mencapai 150 orang. Namun pada sisi lain, ia tidak bisa mengabaikan pula peran para warganet karena retweet-nya atau sekadar like-nya.  

“Ya intinya, pekerjaan ini adalah kerja kita semua. Masing-masing dari kita memiliki perannya masing-masing yang luar biasa,” sambung Mas Mul.  

Berita Terkait :  Sarjana Asal Gresik Pilih jadi Petani di Tengah Geliat Industrialisasi

#RakyatBantuRakyat tidak meminta, tapi menuntut

Lebih jauh, gerakan yang digawangi oleh Mas Gamulyo, Mas Dodok, Mas Elanto, dan Mbak Agriani ini, ungkap Mas Mul, pemerintah tidak pernah satu kali pun memberikan donasi. Para donatur justru datang dari masyarakat sendiri. Begitu pun dengan para relawan.  

Meski begitu, #RakyatBantuRakyat merasa tidak penting untuk berharap pada pemerintah. Namun, beda halnya jika ternyata ada kebijakan pemerintah yang menindas Buruh Gendong.

Dengan ungkapan lain, Mas Mul dan lingkarannya sempat menuntut Pemerintah Daerah untuk menghapus toilet berbayar di pasar tradisional Yogyakarta, terutama untuk para Buruh Gendong Perempuan.  

Berita Terkait :  Gunawan Wiradi: Noktah Besar Gerakan Agraria

Ada banyak yang tidak masuk akal, kata Mas Mul, dari aturan tersebut. Pertama, untuk pasar pemerintah sudah mendapatkan retribusi baik itu dari para pemilik kios atau pun pemangku kebijakan lain, lantas kenapa harus ada biaya lagi.

Kedua, di pasar-pasar modern yang jelas milik swasta, toilet digratiskan, sedangkan pasar tradisional yang jelas berplat merah, justru diwajibkan bayar. “Ini tidak masuk akal!” tegas Mas Mul kesal.   

Untuk ukuran toilet yang setiap harinya seseorang bisa kencing 3 – 5 kali, tentu ini bukan urusan sepele, tetapi menjerat, apalagi untuk para Buruh Gendong dan dalam kondisi pandemi dengan penghasilan yang sangat merosot—Rp5,000.00 – Rp10,000.00 perhari.

“Jadi, dari pertimbangan itu, kami sepakat untuk membuat surat tuntutan pada Pemda dan alhamdulillah sekarang sudah gratis, meski hanya di Pasar Bringharjo,” Jelasnya.   

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERBARU