Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Berjalan Empat Tahun Bantu Warga Miskin, Omah Dhuafa Gresik Tambah 52 Relawan

Berjalan Empat Tahun Bantu Warga Miskin, Omah Dhuafa Gresik Tambah 52 Relawan



Berita Baru, Gresik – Omah Dhuafa resmi mengukuhkan 52 relawan yang berasal dari berbagai kecamatan di Gresik sebagai anggota. Pengukuhan dilakukan di Pendopo Bupati Gresik, Minggu (14/2).

Sebelum dikukuhkan, para relawan diberikan tiga materi meliputi bidang pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan.

Ketua Panitia Pelatihan Relawan Omah Dhuafa, Yayuk Endayana mengatakan, 52 relawan yang dikukuhkan harus memiliki empati dan kepedulian yang sama di bidang sosial.

“Semoga berkembang lagi, tiga relawan di Kecamatan gresik, bahkan setiap relawan di setiap desa di Gresik. Biar lebih cepat merespon,” ucapnya, Minggu (14/2).

Omah Dhuafa merupakan lembaga yang bergerak di bidang sosial ikut memberikan pendampingan, terutama kaum dhuafa yang tidak memiliki keluarga.

Lalu, di bidang pendidikan siswa dhuafa yang ijazah sekolahnya tertahan. Di sekolah sampai terbit KIP, mahasiswa kurang mampu dari keluarga dhuafa.

Syaichu Busiri selaku Founder Omah Dhuafa, menuturkan baru kali ini membuat kaos sebagai identitas.

Kata Syaichu, selama ini yang menjadi pegangan jangan sampai membantu orang dengan membanggakan organisasi tapi amaliyah, sudah 4 tahun berjalan tanpa Identitas.

Awalnya, Omah Dhuafa hanya memberi makanan kepada pemulung, tukang becak di depan sekretariat. Kemudian menjadi terkenal melalui media sosial pada tahun 2015 usai membantu seorang ibu-ibu dengan kondisi kaki hampir putus karena diabet. Dari awal itulah, lanjut anggota DPRD Gresik ini, membantu orang sakit. Setelah itu banyak sekali menerima laporan orang sakit.

“100 persen donatur untuk dhuafa, kita tidak mengambil uang dari donatur, panita sudah ada yang nanggung. Omah dhuafa tidak pernah berikan fresh money. Kalau kaum dhuafa butuh pampers kita kirim, susu kita kirim, butuh makan kita kasih,” kata Syaichu.

Berdasarkan pengalaman Omah Dhuafa, pernah membantu orang sakit, ketika bantuan diberikan berupa uang malah dibuat bayar senam, make up dan lain sebagainya.

“Saya mendapat informasi ada murid tidak pernah ikut daring, ternyata hpnya rusak, kita perbaiki handphonenya, kita tidak kasih uang,” ucapnya.

Ada 50 titik wifi yang dipasang Omah Dhuafa di wilayah Kecamatan Kebomas dan Gresik selama pandemi Covid-19. Titik hotspot ini, dimanfaatkan 30 siswa selama enam bulan.

Di bidang kesehatan, pihaknya telah membantu 81 pasien dhuafa, pengurusan 200 KIS/KIP, menggelar empat kali pengobatan massal.

Kemudian membagikan 1.600 masker dan handsanitizer, tiga kursi roda, tiga alat bantu dengar dan empat kacamata.

“Pasien yang paling mengiris hati, adalah Siti menderita penyakit kanker di perut seperti orang hamil. Kita bantu ke RS dr. Soetomo, harapan hidup saat itu 20 persen, karena sangat riskan, kanker aktif menjalar, dibawa pulang lagi. Kita rawat herbal, setiap bulan, rumahnya di Lowayu Dukun kita rawat herbal 8 sampai 9 bulan pendarahan herbal kanker yang berada di perut Siti mati. Kita bawa ke dr. Soetomo lagi, dokter periksa dan akan dioperasi. Kemudian suami minta uang Rp 7 juta untuk bayar hutang. Kita diperas dan stop bantuan,” terangnya.

Nah, beberapa bulan kemudian, Omah Dhuafa merayakan ulang tahun Siti, kemudian Siti menangis karena tidak peenah dirayakan.

“Tiga bulan kemudian Siti mati. Jika menolong orang jangan sekalipun berharap balasan, sekalipun ucapan terimakasih sebagai imbalan,” paparnya di depan para relawan.

Sementara itu, Ketua fraksi PKB DPRD Gresik, Syahrul Munir mengapresiasi terselenggaranya giat Omah Dhuafa. Menurutnya konsep konsisten sejalan dengan kemaslahatan rakyat, membawa spirit baru.

“Permasalahan sosial sedikit terbantu relawan. Postur anggaran sosial kita, 3,4 T dianggarkan 17,4 M. Belum lagi Dinsos 16 M, dari urusan Dinsos, belanja pegawai 36 persen APBD belanja pegawai. Jika diambil setengahnya Rp 8 M urusan sosial, peliknya masalah sosial di Kabupaten Gresik. Belum beres, pemasalahan sosial perlu pendampingan khusus secara profesional,” terangnya.

Syahrul mencontohkan, misal ada tetangga tidak memiliki BPJS, KIS dll. Bagaimana membantu? apalagi Dinsos punya peruntukan anggaran untuk masyarakat yang miskin.

“Kegiatan hari ini, kita semua akan dibekali pembekalan relawan omah dhuafa, integritas keilmuan, mendampingi masyarakat. Secara struktural, kekuatan baru agar orang lemah semakin hari semakin kuat menjalani hidup,” tutupnya.