Bentrok Hindu dan Muslim di Delhi, 13 Orang Meninggal

(Foto: BBC)

Berita Baru, Internasional – Tiga belas orang meninggal dunia akibat bentrokan yang terjadi di Delhi pada hari Minggu, (24/2). Bentrokan terjadi antara kubu pemrotes Undang-undang Kewarganegaraan dan kubu pendukung.

Bentrokan terjadi selama kunjungan resmi Presiden AS Donald Trump ke negara itu. Kekerasan berpusat di lingkungan mayoritas Muslim di timur laut Delhi atau sekitar 18 km (11 mil) dari jantung ibu kota, tempat Trump melakukan pertemuan dengan para pemimpin, diplomat, dan pengusaha India.

Undang-Undang Amendemen Kewarganegaraan (CAA) yang dinilai mendiskriminasi umat muslim itu telah memicu protes besar sejak disahkan tahun lalu, beberapa protes terjadi bentrokan.

Ketika ditanya mengenai responnya terhadap kekerasan yang terjadi di India selama konferensi pers, Trump menghindar dan mengatakan bahwa insiden itu “terserah India.” Namun ia mengatakan telah mengemukakan kebebasan beragama di negara itu dan terkesan dengan respons pemerintah.

Sebagaimana dikutip dari laporan BBC, Rabu (26/2), para wartawan BBC di Delhi melihat gerombolan Hindu melemparkan batu dan meneriakkan slogan-slogan, beberapa di antara kerumunan berteriak “tembak para pengkhianat”. Koresponden BBC, Yogita Limaye, melihat gumpalan asap membubung dari pasar ban yang terbakar.

Berita Terkait :  38 Korban Meninggal, Aparat Delhi Belum Melakukan Intervensi

Pada Selasa sore, sebuah masjid dirusak di wilayah Shahadra. Menurut cuplikan yang dibagikan secara luas di media masa menunjukkan para pria berusaha merobek bulan sabit dari atas menara masjid.

Bentrokan oleh para pengunjuk rasa juga dipicu oleh masalah agama, masing-masing pihak saling  menyalahkan untuk memulai bentrokan. Ke tiga belas pengunjuk rasa yang meninggal dunia termasuk Hindu dan Muslim, juga seorang polisi.

Tetapi kekerasan itu dikaitkan dengan seorang pemimpin BJP, Kapil Mishra, yang telah mengancam sekelompok pemrotes yang melakukan aksi menentang CAA selama akhir pekan, mengatakan kepada mereka bahwa mereka akan diusir secara paksa begitu Trump meninggalkan India.

- Advertisement -

Tinggalkan Balasan