Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Tsunami
Dampak Tsunami Aceh yang terjadi 17 tahun lalu, 26 Desember 2004. (Foto: Afp/Choo Youn-Kong)

Benarkah Tsunami Banyak Terjadi di Bulan Desember?

Berita Baru, Jakarta –  Indonesia sebagai negara kepulauan yang dikelilingi oleh lautan dan secara geografis juga dilintasi oleh Cincin Api Pasifik, membuatnya rentan terhadap sejumlah bencana alam mulai dari gempa bumi, gunung meletus, hingga tsunami.

Soal bencana, sebagian besar masyarakat Indonesia masih memiliki penilaian bahwa akhir tahun atau bulan Desember merupakan saat paling banyak bencana terjadi, khususnya tsunami.

Berbicara tsunami, sejumlah daerah di Indonesia pernah diterjang tsunami beberapa kali, diantaranya yakni tsunami Aceh (2004), tsunami Palu (2018), dan tsunami Selat Sunda (2018). Dua dari tiga tsunami tersebut terjadi di bulan Desember.

Melalui akun Twitter-nya, Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG Daryono membagikan link YouTube guna memberikan pemahaman secara ilmiah mengenai asumsi tersebut.

Dalam video yang diunggah setahun lalu itu, Daryono menyebut bahwa untuk membuktikan kebenaran penilaian tersebut perlu upaya menggali sejarah tsunami masa lalu.

“Jika kita cermati catatan sejarah kejadian tsunami di Indonesia dari katalog tsunami sebanyak 114 kejadian tsunami sejak tahun 1600 yang dikomplikasi berdasarkan bulan kejadiannya, maka diperoleh jumlah kejadian tsunami untuk masing-masing bulan dalam setahun,” kata Daryono.

Menurutnya, hasil penelusuran terhadap data kejadian tsunami di wilayah Indonesia menunjukkan adanya variasi jumlah peristiwa tsunami untuk masing-masing bulan.

“Yaitu, data kejadian tsunami sejak 1600, Januari 11 kali, Februari 12 Kali, Maret 11 kali, April 8 kali, Mei 6 kali, Juni 4 kali, Juli 8 kali, Agustus 9 kali, September 12 kali, Oktober 8 kali, November 12 kali, dan Desember 12 kali,” ungkapnya.

Berdasar data kejadian tsunami perbulan tersebut, lanjut Daryono, tampak bahwa bulan dengan jumlah paling banyak terjadi pada Februari, September, November, dan Desember dengan masing-masing 12 kejadian. Sementara kejadian paling sedikit terjadi pada Bulan Juni sebanyak 4 Kali.

“Mengacu data ini, maka pendapat yang menyebutkan bahwa Desember adalah satu-satunya bulan dengan peristiwa tsunami paling banyak tidak benar,” terang Daryono.

Lebih lanjut, Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG itu menuturkan, berdasar data sumber dan pembangkitnya secara ilmiah tsunami memang tidak mengenal musim.

“Gempa tektonik, longsoran dalam laut, erupsi gunung api adalah fenomena geologis yang dapat terjadi kapan saja, tidak hanya pada bulan tertentu seperti halnya fenomena cuaca dan iklim sehingga kapan saja dapat terjadi tsunami,” jelas Daryono.

Namun demikian, Daryono menuturkan bahwa jumlah kejadian tsunami tersebut bukan jumlah yang mutlak karena bisa terjadi. Masih ada kejadian tsunami lainnya yang terlewat dan belum dikomplikasi.

“Namun demikian data ini cukup untuk memberi gambaran sementara mengenai distribusi kejadian tsunami pada masing-masing bulan,” tukasnya.

Daryono menghimbau aga masyarakat selalu senantiasa waspada dan siaga tsunami setiap waktu, khususnya masyarakat di wilayah pesisir yang pantainya berhadapan dengan sumber gempa di dasar laut dan sudah dinyatakan  sebagai pantai rawan tsunami.