Berita

 Network

 Partner

Belajar Menjadi Tuhan
Ilustrasi by cerobongart

Belajar Menjadi Tuhan | Cerpen: Edy Firmansyah

Larawati baru saja usai melakukan salat malam ketika mendengar suara letusan pistol. Karena arah suara tepat berada di belakang rumah, ia bergegas membuka jendela dan menyaksikan pemandangan yang mengerikan. Seorang bertopeng dengan ikat kepala hitam rubuh bersimbah darah dengan kepala berlubang. Larawati clingak-clinguk tapi tak menemukan seorang pun. Tiba-tiba sebuah kepala menyembul dari bawah jendelanya. Bermuka-muka dengan wajahnya.

“Ayo, mau lari ke mana?!” kata orang itu.

Larawati kaget. Ia tidak melihat wajah orang itu karena ia bertopeng seperti badut. Tapi matanya,  matanya merah seperti api neraka. Mendadak tubuh Larawati melorot seperti benang basah. Karena merasa nyawanya terancam, Larawati berlari ke luar rumah. Berlari menyusuri pematang sawah. Menerobos kabut dan dingin embun, melawan kalut dan rasa takut. Berlari terus hingga ke arah jalan besar di tengah remang cahaya bulan. Ia tidak menoleh ke belakang. Sebab tak ada waktu menoleh saat ketakutan. Ia terus berlari dan berlari sambil berteriak minta tolong. Dan tentu saja tidak ada yang menolongnya. Hanya kakinya yang bisa menolongnya. Ia berlari menuju Polsek di ujung jalan. Ia merasa di sana ia akan aman. Merasa dilindungi. Larawati adalah seorang gadis muda yang baru saja kehilangan ibunya. Ibunya mati ditabrak kereta. Ia kini sebatang kara. Larawati gadis yang manis, rambutnya ikal mayang, wajahnya dihiasi lesung pipit yang mirip sarang undur-undur. Tapi bukan dia tokoh utama dalam cerita ini.

Brigadir Suparto baru saja bangun tidur ketika Larawati tiba di kantornya dengan napas terengah-engah. Polsek itu dulu bekas kantor CPM. Konon kata orang, di Polsek itu dulu bekas kantor Marsose Belanda. Banyak orang-orang yang dituduh pemberontak, ditangkap, disiksa, dan beberapa ditembak mati. Pada masa pembersihan orang-orang komunis, setelah lengsernya orde lama, juga begitu. Polsek itu angker. Banyak penampakan. Tapi Brigadir Suparto tidak pernah melihat penampakan. Brigadir Suparto mempersilahkan Larawati duduk. Memberinya segelas air mineral dan mulai bersiap di depan komputer untuk mengetik laporan.

“Sebaiknya singkat, padat, dan jelas,” katanya. Larawati tenggelam dalam birokrasi yang panjang. Padahal bukan itu yang ia butuhkan. Ia membutuhkan perlindungan. Dan Polisi bergerak cepat menangkap pelaku penembakan itu. Tapi tidak ada yang ditangkap.

Sebab bagi Brigadir Suparto dokumen laporan itu penting. Setelah mengetik cukup panjang laporan Larawati, Brigadir Suparto mengeprint laporan itu dan meminta Larawati membubuhkan tanda tangan. Brigadir Suparto dulu adalah anggota Brimob. Setelah menembak seorang bocah dalam operasi penangkapan terduga teroris ia akhirnya dipindah ke Polsek Desa Pandan, yang terletak di ujung jalan. Ia senang menceritakan pengalamannya saat menembaki para teroris. Ia merasa bangga. Ia berkali-kali mengajukan surat pindah agar ditugaskan di detasemen yang lebih menantang andrenalin daripada menghadapi laporan dan keluhan masyarakat di Polsek. Tapi tak pernah diijinkan. Karena itu ia jadi amat pemalas. Kini ia bertemu Larawati dan punya kesempatan melakukan baku tembak dengan pembunuh. Tapi ia tidak percaya cerita perempuan itu. Dan lebih memilih menulis laporan panjang. Tapi bukan dia tokoh utama dalam cerita ini.

Berita Terkait :  Hari Kematian | Cerpen David Utomo

Angin lembah berembus pelan. Semilir, dingin dan membius. Ranting dan dedaunan pepohonan sengon yang berdiri menjulang di pekarangan belakang rumah, tempat seseorang terbunuh, bergoyang pelan. Di kejauhan terdengar kokok ayam jantan saling bersahut-sahutan. Sejenak kemudian lamat-lamat terdengar azan subuh di kejauhan.

Orang bertopeng badut dengan mata merah menyala itu menyeret mayat itu menuju hutan. Ia menyeretnya pelan-pelan, selangkah demi selangkah seperti langkah kadal gurun yang sedang menjebak mangsa.  Orang di belakang topeng badut itu adalah Ladrak. Sebelum menjadi pembunuh bayaran ia dulunya adalah seorang tentara. Karena kalah main judi dan banyak hutang di ia menembak lawan mainnya yang seorang pengusaha tembakau. Sialnya, si pengusaha adalah adik dari komandannya sendiri. Karena takut mahkamah militer menjatuhkan hukuman mati ia memilih melarikan diri. Desersi.

Ia pulang ke Desa Pandan dan mendapati ayahnya yang pemabuk kawin lagi dengan seorang perempuan yang cantik. Ladrak jatuh cinta pada ibu tirinya. Dengan modal tubuhnya yang berotot dan wajahnya yang sedikit tampan, Ladrak melancarkan rayuannya dan rupanya gayung bersambut. Perselingkuhan terjadi. Setelah beberapa kali melakukan hubungan intim dengan ibu tirinya, akhirnya ia memutuskan menembak bapaknya. Tepat di belakang rumah Larawati. Kemudian menyeret mayatnya selangkah demi selangkah menuju hutan.

Sesampainya di hutan, ia menyandarkan mayat itu di sebuah pohon yang jauhnya hanya seperludahan darinya. Dengan tangannya, ia mulai menggali lubang kubur dengan kecepatan mesin bor. Keringatnya bercucuran. Tak ia rasakan jari tangannya perih. Yang ia rasakan hanya hatinya yang pedih. Ia terus menggali dan menggali. Sementara gelap perlahan-lahan mulai bersalin terang. Hutan mulai remang-remang. Sementara dingin masih menusuk tulang. Tak berapa lama kemudian sebuah lubang telah tercipta. Ia melompat hendak mengambil mayat bapaknya. Namun betapa terkejutnya ia. Puluhan anjing hutan dengan moncong dan taringnya yang tajam telah mengoyak-ngoyak tubuh bapaknya. Bagian-bagian tubuh bapaknya berlepasan dibawa lari anjing-anjing celaka itu. Yang tersisa hanya kepalanya. Kepala yang berlobang dengan mata terbelalak dan dipenuhi darah yang telah mengering. Ia hanya bisa melongo. Lantas berlari menyusuri hutan menerobos pepohonan dan belukar. Ia berlari ke arah jalan besar di tengah gempuran cahaya fajar yang terus meninggi. Ia tidak menoleh ke belakang. Terus berlari dan berlari. Puluhan anjing hutan menyaksikannya. Mereka menyalak dan menyalak. Salah satu diantaranya melolong panjang seperti mengirimkan kengerian. Sesampainya di jalan besar ia membuka penutup wajahnya. Lalu dengan kedua matanya yang juling ia memandang fajar pagi yang kemerah-merahan. Tapi bukan dia juga tokoh utama cerita ini.

Berita Terkait :  Makhluk yang Bersemayam dalam Tubuh

Laporan Larawati hanya tinggal sekedar laporan tanpa tindak lanjut yang pasti. Ketakutan menghantuinya setiap hari. Perasaan sedang diburu pelaku karena jadi saksi mata memenuhi benaknya. Untungnya Suparto menyukai Larawati dan keduanya akhirnya menikah. Sedangkan pelaku pembunuhan itu masih berkeliaran.

Sampai kemudian sebuah pandemi datang. Corona. Mula-mula pemerintah menganggapnya sebagai penyakit biasa. Semua orang bisa kena flu dan akan sembuh dengan sendirinya. Begitu kata pemerintah. Karena dianggap remeh pencegahan dilakukan setengah hati. Dan wabah menyebar bagai panu. Membuat orang-orang di Desa Pandan bergelimpangan seperti daun kering. Seperti hama terpapar pestisida. Kematian demi kematian datang seperti uban. Brigadir Suparto mati setelah seminggu isolasi. Larawati mati dalam perjalanan menuju rumah sakit. Ladrak mati mendadak karena sesak napas ketika menonton sabung ayam. Ibu tirinya juga mati. Tak ada yang tersisa dari para tokoh di cerita ini.

Salah siapa? Apakah pandemi itu yang membuat tokoh-tokoh dalam cerita ini bergelimpangan bagai semut melewati kapur ajaib? Pemerintah mungkin salah. Tapi bukan aktor intelektual yang membuat kematian itu terjadi. Apakah salah Tuhan? Tapi Tuhan tak pernah salah. Takdir dari langit mungkin tidak sepenuhnya sempurna, tapi ketidaksempurnaan takdir adalah kesempurnaannya yang abadi. Lantas siapa yang paling bertanggungjawab atas semua itu? Siapa lagi kalau bukan aku si pengarang kisah ini. Fakta bahwa aku menghidupkan para tokoh dalam kisah ini dan mempertemukannya dengan tokoh-tokoh lain adalah pekerjaan pertukangan seorang pengarang. Namun bukan berarti aku bisa lepas tanggungjawab dari kematian mereka. Pengarang adalah tuhan bagi tokoh-tokohnya di dalam cerita. Sebab kadang kala ada pengarang yang tak punya alasan apa pun selain ingin membuat tokoh-tokohnya menderita dan berkubang di kolam darah mereka sendiri.

Berita Terkait :  Aroma Tanah Liat | Cerpen Polanco S. Achri

Beberapa yang lain melakukan itu karena terburu-buru mengakhiri cerita. Cerita yang dikirim ke media kerap tidak punya kelenturan dan harus tunduk pada syarat-syarat tertentu seperti keterbatasan halaman. Pengarang harus mempersingkat ceritanya. Dan satu-satunya yang paling mudah adalah menciptakan kematian. Hanya pengarang pemberani yang tak mau tunduk pada syarat-syarat macam begitu dan membiarkan pikirannya menciptakan keajaiban seperti penyihir mengayunkan tongkat sihirnya.

“Apakah belum selesai?” istriku bertanya. Hari telah malam. Kami belum makan. Dan istriku tidak memasak. Sejak sore kami berencana untuk makan malam di luar rumah. Ia sebenarnya tak ingin mengangguku. Tapi cacing di lambungnya sepertinya tak bisa menunggu dan mulai bertindak brutal dengan menggigit dinding lambung. “Kalau belum selesai menulisnya lanjutkan saja. Aku akan menunggu,” katanya.

Kukatakan aku sudah selesai. Dan aku juga sudah sangat lapar. Aku mematikan komputer tuaku. Komputer yang kerap berderik jika menyala. Kurasa cerita ini adalah cerita yang gagal. Aku tak tahu cara mengakhiri cerita ini dengan cantik. Aku sudah menghabisi mereka semua. Tokoh-tokoh dalam cerita ini. Kurasa itu sudah cukup. Lagipula semua itu hanya karangan. Sama sekali tak ada dalam kenyataan.

Kenyataannya sekarang istriku sudah sangat lapar. Aku bergegas menyambar jaket di gantungan, meraih kunci motor di meja dan menggandeng istriku menuju halaman depan rumah. Lantas menggeber motor menuju lesehan langganan kami di pusat kota di bawah patung kuda. Warung lesehan sederhana yang punya menu rahasia yang tak semua orang bisa memesannya; sop cindil dan tengkleng plasenta bayi. Ini sama menyenangkan dengan mengarang cerita. Bahkan jauh lebih menyenangkan. Sebab kamilah tokoh utama kisah ini. Sepasang Palasik yang mencoba peruntungan menjadi penulis cerita misteri. Siapa tahu aku beruntung dan terkenal dan punya banyak pengikut. Kalau itu terjadi tidak ada salahnya untuk mencoba membuat agama baru dan memproklamirkan diri sebagai nabi.


Edy Firmansyah Pengarang kelahiran Pamekasan, Madura. Pemimpin umum Komunitas Gemar Baca (KGB) Manifesco, Pamekasan.  Buku Kumpulan cerpen terbarunya adalah “Yasima Ingin Jadi Juru Masak Nippon” (Cantrik Pustaka, 2021).