Belajar ke Cilacap, Warga Terdampak Pembangunan Kilang Tuban Puas

    Kilang Tuban
    Pemberian cinderamata seusai diskusi pembangunan dan penelolaan kilang minyak Cilacap.

    Berita Baru, Tuban – Ratusan warga terdampak pengembangan pembangunan proyek pertamina kilang Grass Root Refinery (GRR) Tuban, puas setelah studi banding ke Pertamina Refinery Unit IV (RU).

    Mereka meninjau langsung, kilang terbesar se asia tenggara di Cilacap, Jawa Tengah itu, pada hari Rabu (15/01).

    Peserta studi banding merupakan warga perwakilan warga berasal dari Desa Sumurgeneng dan Desa Wadung, Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban, Jawa Timur.

    Di lokasi, mereka dijamu menejemen perusahaan plat merah di ruang pertemuan Patra Graha jalan MT Haryono.

    Selain berdiskusi, rombongan di ajak keliling meninjau pabrik kilang minyak yang terletak di ujung selatan pulau Jawa tersebut.

    “Kami ingin melihat dan memastikan aktifitas masyarakat di lingkungan sekitar kilang Cilacap,” kata Solikin sesuai kunjungan.

    Dalam kunjungan studi banding, warga didampingi Camat Maftuchin Reza, DPRD Tuban, Tulus Setyo Utomo, BPD dan perangkat desa.

    “Alhamdulillah, kedatangan warga Tuban kesini (kilang Cilacap) sangat puas setelah melihat kondisi riil. Mereka sudah memahami manfaat multipliyer effect berdirinya sebuah kilang disini,” ujar unit manager communication & CSR, Laode S. Mursali saat memberikan keterangan.

    “Kami berharap warga Tuban juga menerima manfaat multipliyer effect dengan berdirinya kilang disana,” imbuhnya.

    “Ternyata keberadaan kilang minyak, tak seheboh isu warga terdampak selama ini. kekhawatiran hal-hal negatif beredar di sekitar lingkungan industrialisasi kilang,” ujar warga Desa Sumbergeneng, Jenu Tuban, Sucipto kepada awak media.

    Berita Terkait :  Berbagi Pengalaman Pengelolaan Dana CSR ke Kades Indonesia Timur, Desa Socorejo Tuban Mendapat Apresiasi

    Tidak hanya berdiskusi dengan menejemen perusahaan, peserta turut berkiling ke area pabrik kilang pengelolaan minyak di tanah seluas 368,5 hektare kilang Cilacap, Jawa Tengah.

    Pembebasan Lahan

    Puas berdiskusi dan keliling pabrik kilang cilacap, salah satu pemilik lahan yang ikut dalam rombongan studi banding, Madraji masih khawatir terhadap proses pembebasan tanah seluas 2 hektare miliknya.

    Pasalnya, sampai sekarang, dirinnya belum memperoleh taksiran harga dan tidak tahu mekanisme proses pembebasan lahan di sekitar area kilang.

    “Kami menunggu kepastian baik harga dan mekanisme lahan yang akan di jadikan proyek kilang kedepanya. sampai hari ini belum ada tim apreisal ke rumah, untuk menaksirkan harga lahan pertanian tersebut,” katanya

    Camat Jenu, Maftuchin Reza menjelaskan pentingnya kedatangan warganya studi banding kilang. Menuruntnya agar warga lingkungan ring satu kilang minyak Tuban, tahu proses awal pengadaan lahan, pembangunan sampai berdirinya kilang, terutama di kawasan padat masyarakat.

    Dai siti, ia berharap warga dapat mengambil dampak multi player efek atas berdirinya kilang.

    “Pemerintah kecamatan hanya memfasilitasi terkait pengadaan lahan, kewenangan tim atau tugas dari negara dalam hal ini menjadi tanggung jawab dari BPN. Pro dan kontra masyarakat biasa memahami proses ini,” jelasnya.

    Paska kunjungan presiden RI, Jokowi bersama petinggi pertamina di TPPI Bumi Wali Tuban bulan Desember tahun 2019 lalu, Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati menyebutkan bahwa proyek kilang GRR Tuban menggandeng perusahaan Rusia.

    Berita Terkait :  Membaca Partisipasi Pilkada Tuban dalam Voting Behavior

    Kedepan, kilang minyak Tuban akan menjadi megaproyek RDMP kilang minyak yang terintegrasi dengan kompleks Tubanpetro.

    Adapun saat ini, kebutuhan lahan kilang minyak Tuban sekitar 936 hektare. Rinciannya, 348 hektare milik KLHK, 109 milik perhutani, 314 hektar milik warga dan 165 hektare reklamasi. (Bangdom)

    Tinggalkan Balasan