Beberapa Pertanyaan untuk Han

Beberapa Pertanyaan

Beberapa Pertanyaan untuk Han
(Cerpen: Daruz Armedian)

Han, 12 tahun, laki-laki, lugu, dan kehilangan ayah-ibunya sejak seminggu yang lalu. Aku mendatanginya karena mendapat informasi dari Djaelangkara, temanku yang sekarang ada di Palu. Aku ke sana lewat Poso (bersama banyak orang, tentu saja) dan itu adalah pengalaman yang paling mengharukan dalam hidupku.

Han, 12 tahun, laki-laki, lugu, dan punya keinginan menjadi penulis. Sebagai penulis, tentu saja aku menyukai orang-orang yang suka menulis. Maka, aku mendatangi Han, seorang anak yang kerapkali Djaelangkara ceritakan.

Tentu aku masih ingat bagaimana Djaelangkara bercerita mengenai Han. Di Palu, waktu itu, ia menjadi peserta KKN dan kebetulan bertemu Han di sekolahan tempat ia mengajar sementara. Han adalah anak yang aneh, dan tentu saja kata ‘aneh’ ini menunjukkan kalau ia berbeda dengan anak-anak yang lain.

Han, 12 tahun, laki-laki, lugu, dan punya banyak masalah di dalam hidupnya. Seperti masalah dalam hidupku, kata Djaelangkara sambil tertawa (itu adalah waktu ketika kami sama-sama kuliah di Jawa). Apakah permasalahan orang-orang yang suka menulis itu sama?, lanjutnya. Aku bertanya apa saja yang menjadi masalah dalam hidup Han dan temanku itu menjawab dengan  pelan-pelan: ada, banyak, banyak sekali. Mari kuceritakan.

Pertama, Han tidak bisa berpikir seperti teman-temannya yang lain. Ketika aku bertanya apa yang kalian lakukan sebelum berangkat ke sekolah, semuanya bersuara dengan jawaban yang kurang lebih sama: sarapan, mandi. Tetapi berbeda dengan Han. Ia menjawab: menangis. Aku tanya, kenapa menangis dan ia menjawab tidak tahu.

Bung, agaknya itu bukan masalah pola pikir, kataku. Itu memang ada masalah di dalam keluarganya. Mungkin ibu atau ayahnya sering memarahi dia. Atau, dia tidak pernah diberi uang jajan. Atau…

Djaelangkara memotong.

Ya, barangkali begitu. Tapi lihat permasalahannya yang kedua: Han akan menangis jika berada di dalam keramaian. Ketika ruangan kelas terlalu ramai oleh suara teman-temannya, dia akan menangis. Aku rasa, dia punya kelainan. Apakah kamu juga seperti itu?

Berita Terkait :  Mahar Pohon-Pohon | Cerpen Daruz Armedian

Djaelangkara, Kawanku, ada memang orang-orang yang takut dengan keramaian, kataku. Aku pun begitu, meskipun tidak terlalu takut, ya. Ah, maksudku, bukan takut, ya. Tapi apa namanya itu, hmmm, ya, aku tidak suka keramaian. Keramaian betul-betul mengganggu keadaanku. Aku lebih suka menyendiri di tempat sepi, atau tempat paling sepi. Itu akan membuatku tenang, meski hanya sementara. Sebab, kepalaku sebenarnya lebih ramai ternyata, atau katakanlah, selalu kacau.

Untuk masalah Han yang ini, aku pikir dia termasuk orang yang introver. Atau orang yang depresi. Ya, ya, ya. Kemungkinan begitu. Terus apa lagi masalah Han? Djaelangkara waktu itu diam sejenak.

Jadi begini, kata Djaelangkara, Han selalu menulis setiap hari dan di dalam tulisan itu pasti mengenai sesuatu yang mengerikan. Apakah semua orang yang suka menulis dan di otaknya punya masalah yang sebelumnya kukatakan tadi, akan cenderung menuliskan hal-hal semacam itu?

Baik, Djaelangkara, aku akan menjelaskan semuanya padamu, tapi setelah kamu jelaskan padaku apa saja yang dituliskan anak itu.

Djaelangkara lebih mendekat ke arahku (ini persis dengan apa yang dilakukannya ketika ia mau memberitahuku perihal sesuatu yang lebih penting ketimbang perihal lain). Jadi begini: Han, anak 12 tahun dan masih lugu itu, sering menulis tentang manusia tanpa kepala. Atau kalau tidak begitu, kepala manusia tanpa tubuhnya. Atau kalau tidak begitu, ia menulis tentang sesuatu yang aneh di kepalanya: misalnya, tiba-tiba ia mendengar jerit tangis dari bayi-bayi yang baru lahir, atau tangisan ibu-ibu di jalan raya, atau gemerisik daun bambu, atau tetesan air dari kran, atau aliran air di selokan kecil pada dini hari, dan sebagainya dan sebagainya. Misalnya juga, ia membayangkan ada bencana besar yang akan menghancurkan keluarganya, tetangga-tetangganya, atau seluruh umat manusia. Ia juga sering menulis tentang masa depannya yang tidak bakal baik-baik saja.

Berita Terkait :  Baca Puisi Ini Jika Kau Sedang Berduka

Sudah cukup, kataku.

Begitulah yang aku tahu mengenai Han.

Ya, ya, aku paham. Kasihan sekali anak itu. Baru umur 12 tahun sudah mempunyai banyak beban, terutama dari pikirannya sendiri.

Tepat ketika bencana mengguncang Palu, Sigi, dan Donggala, yang paling kuingat adalah Han, meski aku belum bertemu dengannya, bahkan sekalipun. Ya, aku terngiang-ngiang cerita yang dibawa Djaelangkara. Pertanyaanku yang pertamakali muncul waktu itu adalah apakah Han selamat?

Ketika mendengar kabar Han masih selamat, meskipun dia kehilangan keluarganya, aku langsung niatkan, aku harus ke sana, bagaimanapun caranya. Aku tahu bagaimana perasaan orang yang kehilangan keluarganya. Aku tahu perasaan orang ketika ditimpa bencana besar seperti di Palu atau Sigi atau Donggala itu. Ya, aku tahu rasanya ditimpa bencana besar.

Dan di samping itu semua, aku tahu bagaimana perasaan orang seperti Han.                  

Sebelum berangkat ke Palu, aku menulis beberapa pertanyaan untuk Han. Aku butuh ini untuk diriku sendiri. Ada dua puluh pertanyaan yang akan kuajukan nantinya kepada Han. Tentu pertanyaan-pertanyaan itu aku tujukan setelah perkenalan dengan dia. Duapuluh pertanyaan itu, kau harus tahu:

  1. Kenapa Han suka menulis?
  2. Apa yang ada di pikiran Han ketika sendirian?
  3. Kenapa Han suka menyendiri?
  4. Apa yang dilakukan Han sebelum tsunami ini terjadi?
  5. Di mana Han pada waktu tsunami terjadi?
  6. Apakah papa dan mama Han menyayangi Han?
  7. Berapa jumlah orang di dalam keluarga Han?
  8. Apakah Han punya ketakutan terhadap orang yang suka membentak?
  9. Apakah Han takut kalau menengok ke lubang sumur timba?
  10. Bagaimana cara Han mengatasi kesepian?
  11. Apakah Han suka menerka-nerka suatu kejadian yang belum terjadi?
  12. Apakah Han sering mengait-kaitkan sesuatu peristiwa yang Han alami dengan kematian?
  13. Apakah Han pernah tiba-tiba menangis dan teriak-teriak tanpa alasan yang jelas?
  14. Apakah papa dan mama Han pernah membawa Han ke rumah sakit jiwa?
  15. Apakah Han menyukai kegelapan?
  16. Apakah Han punya perasaan takut dengan benda-benda mati, misalnya bantal yang digantung dengan tali di jendela?
  17. Apakah Han selalu berbikir bahwa di hidup Han akan ada bencana besar?
  18. Bagaimana perasaan Han setelah kehilangan papa dan mama?
  19. Apa yang Han rasakan ketika tsunami datang (tentunya hal ini bersamaan dengan gempa)?
  20. Maukah Han menulis cerita mengenai apa yang Han alami selama ini, termasuk ketika ada tsunami?
Berita Terkait :  Arwah Penari

Pada hari kesepuluh, aku baru bertemu Han. Ia berada di tenda bersama tetangganya. Di situ jelas tidak ada orangtuanya. Ia bermain bersama anak tetangga. Ya, untung saja ia masih punya tetangga.

Bertemu dengan Han tidak semudah yang kau bayangkan. Sebelum ini, aku harus ke sana kemari, dan itu kurang terlalu penting kujelaskan semuanya. Yang jelas, sekarang aku bertemu dengan Han dan ia sedang baik-baik saja kelihatannya. Tidak ada luka apa pun di tubuhnya.

Ketika aku mendekati Han dan hendak bicara dengannya, hendak kenalan dan mengajukan beberapa pertanyaan yang sudah kucatat, aku termenung lama menatap matanya. Mata itu, aku seperti mengenalnya. Itu mata yang tidak asing bagiku. Tiba-tiba, aku tak sanggup mengutarakan pertanyaan apa pun. Aku keburu memeluknya. Aku menangis dan ingat bagaimana seluruh keluargaku (tentu saja termasuk aku) dihantam air dari laut di Aceh pada tahun 2005 pada suatu pagi dan hanya aku yang selamat pada akhirnya. Sungguh, waktu itu aku tidak butuh apa pun kecuali pelukan, dan sebuah hal yang bisa menenangkanku.

Han tidak tahu, ketika aku memeluknya, sebetulnya aku sedang memeluk diriku sendiri di masa lalu.[]

Yogyakarta, 2018

Daruz Armedian, mahasiswa Filsafat UIN Sunan Kalijaga. Bergiat di Lesehan Sasta Kutub Yogyakarta dan Garawiksa. Tulisannya pernah dimuat di Koran Tempo, Media Indonesia, Kedaulatan rakyat, Republika, Pikiran Rakyat, Lampung Pos, Suara Merdeka, Nova, dll. Buknya: Sifat Baik Daun (Penerbit Basabasi, 2017).

- Advertisement -

Tinggalkan Balasan