Berita

 Network

 Partner

Bahaya Kelaparan | Kolom: Farkhan Evendi

Bahaya Kelaparan | Kolom: Farkhan Evendi

Bahaya Kelaparan | Kolom: Farkhan Evendi

Oleh: Farkhan Evendi

(Ketum Bintang Muda Indonesia)


Ada bahaya kelaparan menyergap dihadapan, dimana bahaya nyata bahwa lebih banyak orang yang berpotensi meninggal akibat ekonomi di masa pandemi COVID-19 ini dibandingkan virus itu sendiri.

Ya dihadapan baliho-baliho raksasa, dihadapan pembangunan insfrastruktur gede-gedean, dihadapan pesta oligharki. Perlu kepekaan kita semua saat di sudut-sudut warung kopi, sambil menikmati kenikmatan teh, ternyata masih banyak rakyat yang memerlukan bantuan, bahkan mungkin masih ada tetangga kita yang kelaparan.

Padahal di negara yang berkembang ini dengan pertumbuhan ekonomi di atas 5%, dengan kekayaan sumber daya alam yang melimpah rasanya sukar untuk mendengar rakyat masih ada yang kelaparan. Apakah kekayaan tersebut setidaknya bisa menjadi keadilan bagi rakyat yang mengalami kesulitan hanya untuk sesuap nasi?

Tetapi dihadapan bendera-bendera partai pendukung pemerintah yang seolah peduli padahal mereka menjual rakyat. Dihadapan wanita-wanita pejabat yang menikmati korupsi suaminya. Dihadapan alunan musik pengamen yang hidup dari angkutan umum ke angkutan umum.

Berita Terkait :  Neraka adalah Kehidupan Itu Sendiri

Kemanakah arah pembangunan bangsa ini saat kelaparan menjerit? Tentu uluran kita dalam membangun bangsa bukan hanya disampaikan secara tulisan atau retorika, tidak cukup hanya dengan Menteri BUMN merasa sukses dengan bagi-bagi power bank dijalan.

Dalam membangun bangsa perlunya arahan, bimbingan, dan implementasi nyata dari pemerintah untuk rakyat, dari rakyat untuk rakyat. Ekonomi adalah salah satu kunci dalam membangun bangsa ini, ketika ekonomi berjalan maka sosial, budaya, pendidikan dan kesehatan akan berjalan dengan seimbang.

Kepedulian empati kita terhadap situasi yang ada, saling membantu satu sama lain menjadi salah satu hal penting dalam membangun bangsa sehingga memiliki karakter yang kuat demi keadilan dan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia.

Mimpi rakyat adalah memiliki pemimpin yang adil, amanah agar bangsa dan negara ini bisa sejahtera. Setidaknya bisa memperhatikan rakyat miskin agar tidak kelaparan, namun saat ini yang terjadi umum nya semakin memudar tanggung jawab dan solidaritas sosial.

Berita Terkait :  Pemerintah Bertanggung Jawab atas Nyawa Rakyat dan Ancaman Resesi Akibat Corona

Apakah mimpimu penguasa??

Apakah mimpimu sama dengan mereka yang tidur ditengah kolong jembatan menatap langit sambil melepas lelah.

Malam ini aneka hidangan ada didepanmu penguasa dan hari ini tumpukan barang bekas ada didepan mata para pemulung

Jangan lah penguasa menebar hoax, karena itu tidak akan membuat rakyat kenyang. Kelaparan memaksa mereka menyakiti anak mereka, ada berita anak kecil digadaikan. Kelaparan memaksa mereka mencuri karena kebutuhan anak mereka.

Kelaparan membuat mereka merundung antara lapar dan kesehatan yang makin berat diatasi dari hari kehari disertai harus senantiasa menjaga anak mereka bahkan sebagian menggendong anak mereka saat bekerja.

Mereka lapar, karena narasi pemimpin mereka kenyang pesan oligharki dan kerakusan. Perut mereka kosong karena otak pemimpin mereka kosong.

Mereka bernyanyi ditengah senyum duka, sementara pemimpin mudah tersenyum soal rakyat dengan cukup bagi sembako ditengah rakyat lapar walau melalui lemparan ke got.

Berita Terkait :  BSU sebagai solusi Kenaikan UM 2021

Terasa diri rakyat amat terhina atas kemiskinan ditengah korupsi dan penjualan SDA gila-gilaan.

Mereka saat kampanye hadir membawa foto dan memakai peci Gus Dur padahal Gus Dur sangat mengasihi orang kecil. Mereka menipu semuanya dan menunggu rakyat marah turun ke jalan melempar batu.

Namun gambaran itu nampak telah menjadi paranoid, rakyat bawa spanduk menolak kedatangan mereka pun ditangkap seolah mereka membawa batu

Rakyat lapar dan penguasa paranoit melihat mereka, poster penolakan terlihat sebuah batu yang digenggam tangan rakyat untuk dilempar.

Dan betapa hari ini kita terpana melihat banyak penguasa berbagai negara habis karena ingin tersenyum, mereka lupa antara dekatnya kelaparan rakyat dengan dekatnya kejatuhan mereka.

Kami berharap berbagai kebijakan program yang ada bisa dirasakan efektif dalam upaya menurunkan penduduk yang hidup dibawah garis kemiskinan, disesuaikan dengan variasi dan model akibat dari kemiskinan rakyat tersebut sehingga tidak ada lagi rakyat yang mengalami kelaparan.