Berita

 Network

 Partner

Asmaradahana Sedah Dan Rara Dinar | Cerpen Heru Sang Amurwabumi
Ilustrasi: tegaraya.com

Asmaradahana Sedah Dan Rara Dinar | Cerpen Heru Sang Amurwabumi

Tubuh janggan1 muda itu gemetar begitu hebat. Hatinya dihantui rasa bersalah mengingat pertemuannya kembali dengan Rara Dinar. Apa yang telah dilakukannya bukan hanya menabrak martabat seorang calon begawan, tetapi juga menghancurkan kepercayaan Maharaja Sri Aji Jayabaya. Perlakuan terhadap istri penguasa Panjalu yang tersyohor itu sungguh tidak beradab meski dilakukan tanpa paksaan dan tak seorang pun ada yang mengetahuinya.

Bagaimana dia berani menodai Rara Dinar?

Bertahun-tahun dia digembleng di pashraman2 Adiluwih. Segala ajaran mulia yang pernah dia sesap di sana, belum pudar sama sekali. Bahwa, menodai wanita yang sudah terikat pertalian dengan lelaki lain adalah perbuatan paling nista. Apalagi dia melakukannya bukan hanya sekali. Dia tabrak pantangan itu setiap saat, manakala rindunya kepada Rara Dinar yang membuncah ingin ditumpahkan sepuasnya.

“Aku tidak akan pernah mencapai derajat seorang brahmana. Janggan macam apa aku ini?”

Janggan muda itu masih bersimpuh di sudut sanggar pemujaan. Bibirnya yang meracau tak karuan turut bergetar pula.

“Ke mana ajaran yang dulu aku sesap dari Kakawin Hariwangsa dan Gatotkacasraya?”

“Di hadapan Rara Dinar, aku bukan lagi seorang janggan. Aku hanyalah Sedah yang selama ini menderita karena kehilangan segala kisah yang pernah kulaui bersamanya. Penderitaan yang diciptakan oleh kekuasan Maharaja Sri Aji Jayabaya.” Sisi batinnya yang lain tiba-tiba memberontak.

“Oh Dewa … Oh Bhatara, kenapa kau benamkan aku ke dalam kubangan dosa ini?”

Janggan muda itu memutar kembali ingatan masa lalunya.

***

Semestinya, senja itu orang-orang Wanua Adiluwih menghirup udara dengan tenang. Namun, ketenangan itu berubah menjadi kegaduhan oleh teriakan seorang perempuan yang lari tunggang langgang. Napasnya tersengal-sengal, seperti baru saja dikejar entah berapa ratus hantu.

“Rara Dinar dibawa pergi orang! Rara Dinar dibawa pergi orang!” jeritnya membuat puluhan orang keluar dari rumah.

“Ke mana? Ke mana?” Tanya orang-orang yang mengerumuni.

“Panjalu!”

“Kotaraja?”

Berita Terkait :  Kota Suatu Malam

“Iya. Orang-orang itu menunggang kuda. Mereka memaksa Rara Dinar naik ke salah satu punggung kuda, lalu mengatakan bahwa semua itu adalah atas kehendak Maharaja Sri Aji Jayabaya!”

Bubarlah orang-orang yang mengerumuni perempuan itu. Mereka kembali ke rumah masing-masing, sebab tak lagi mengkhawatirkan kejadian yang menimpa kembang Wanua Adiluwih. Jika seorang Raja sudah menginginkan seorang gadis ke kadhaton, maka beruntunglah nasibnya. Kemuliaan yanag bakal dia terima.

Akan tetapi, berbeda dengan orang-orang Adiluwih lainnya, ada seorang lelaki muda masih berdiri di tengah jalan, persis di hadapan perempuan yang tadi sempat menghebohkan seisi kabuyutan.

“Benarkah anak perempuan Mpu Trisnapala dibawa ke Panjalu, Nyi?”

“Benar, Sedah. Orang-orang itu berkata dengan jelas bahwa Panjalu adalah tujuan mereka.”

Sedah tertunduk, terlintas dalam benaknya, bagaimana Rara Dinar pernah mengutarakan isi hatinya setelah janggan muda itu mengkaji Kakawin Gatotkacasraya karya Mpu Panuluh. Menurut pengakuannya, takluknya hati kembang Panjalu itu berawal ketika Sedah membabar Kakawin Hariwangsa, epik asmara Kresna dan Dewi Rukmini.

“Oh Dewa … Oh Bathara. Aku hanya seorang calon janggan. Bagaimana bisa aku menembus tembok kekuasaan Maharaja Sri Aji Jayabaya di kotaraja Panjalu?”

“Tak ada kekuasaan yang tidak bisa ditembus kecuali kekuasaan Dewata., Sedah. Ambil kembali Rara Dinar dari penguasa Panjalu!” Sisi batinnya yang lain tiba-tiba menguatkan. Serta merta tebersit sebuah tekad di benak Sedah untuk melakukan perjudian nasib ke kotaraja Panjalu.

***

Bale Manguntur3 Panjalu hanya diterangi oleh empat damar4 di masing-masing sudutnya. Namun, meski remang, pemandangan gelap pada malam itu masih bisa sedikit tertangkap oleh penglihatan manusia. Sesekali, nyala api damar tampak meliuk-liuk, manakala hembusan angin menerpanya. Beruntung, angin hanya bertiup lembut. Membuat nyala penerangan berbahan minyak jarak itu bergerak pelan. Menjadikan bayangan yang ditimbulkannya lebih jelas. Ada dua  bayang-bayang tubuh manusia di sana. Duduk di atas dampar berukir sayap-sayap Sang Garudeya, Maharaja Sri Aji Jayabaya. Sementara di hadapannya tampak bersimpuh di atas ubin, seorang kawirajya5 kadhaton.

Berita Terkait :  Monster dan Burung-Burung Nasar

“Tidakkah Pukulun6 menginginkan kemenangan Panjalu atas Jenggala menjadi kisah abadi sepanjang zaman?”

“Aku tidak mengerti maksudmu, Sedah.”

“Perseteruan sesama anak cucu Batara Erlangga, tidak berbeda dengan perang sesama Wangsa Bharata. Bagawad Gita,7 Nyanyian Tuhan yang dibabar oleh Batara Wisnu kepada Arjuna, bukan sekedar pertumpahan darah antara Korawa dan Pandawa. Bharatayudha adalah inti perjalanan hidup manusia. Perang antara dharma melawan ahangkara.”

“Lalu?”

“Jika Pukulun merestui, hamba akan menggubah Bharatayudha sebagai pengejawantahan Panjalu Jatayu8 yang pernah pukulun gurat pada bongkahan batu di Atuha.”10

Sri Aji Jayabaya mengiyakan. Pertemuan malam itu diakhiri dengan sebuah perintah kepada Sedah untuk menyelesaikan sebuah kakawin dalam waktu tiga purnama.

***

Delapan parwa telah ditulis Sedah hingga purnama kedua. Namun, memasuki bagian Salya Parwa, dia tak sanggup melanjutkan. Bagian itu menceritakan senopati Korawa, Salyapati, ketika berolah asmara dengan istrinya, Setyawati, pada malam terakhir menjelang kematian. Sedah mengaku tidak bisa menggambarkan kecantikan Setyawati. Dia butuh sosok wanita nyata sebagai perumpamaan.

Pilihan jatuh ke Prabarini. Kecantikan selir penguasa Panjalu itu dianggap setara dengan Setyawati. Dikirimlah dia ke puri Sedah.

“Oh Dewa … Oh Bathara.”

Prabarini membungkam mulutnya sendiri.

“Rara Dinar?”

Lelehan air mata menyeret keduanya ke dalam peluk. Sedah tak mampu melanjutkan guratan  Bharatayudha. Mereka menyerah pada pelampiasan rindu yang membuncah. Hari itu menjadi awal dari pengumbaran birahi Sedah dan Prabarini—sebutan Maharaja Sri Aji Jayabaya kepada Rara Dinar.

***

Sedah mengusap keringat yang mengucur dari pelipis hingga lehernya dengan ujung kain wastra. Pelan-pelan dia mengatur embusan napas yang sejak tadi naik turun tidak beraturan. Dia nyalakan dupa di atas tungku. Seketika, aroma wangi astanggi berkelindaran memenuhi ruangan itu.

Tiba-tiba Sedah duduk bersila dengan mengambil posisi siddhasana.9 Kedua tangannya yang sibuk memutar aksamala, mendadak tertangkup membentuk sikap anjali mudra.10 Sekejap kemudian, seluruh tubuhnya melebur bersama alam semesta. Tiada lagi yang bisa dia jumpai selain hampa belaka. Dalam ambang batas alam sadar dan tidak, janggan muda itu melihat sosok manusia yang mirip dengan dirinya.

Berita Terkait :  Kejahatan yang Kudus

“Jangan pernah kausesali apa yang telah kaulakukan, Sedah!” Ucap sosok itu. “Cinta tak pernah salah. Ia berhak memilih kapan datang dan kepada siapa berlabuh. Jika Rara Dinar adalah pilihanmu, perjuangkanlah. Meski lepasnya nyawa dari raga adalah taruhannya.”

Sedah menutup kedua telinganya. Dia palingkan wajah ke sudut yang lain. Dalam kecamuk perang batin itu dia melihat dengan jelas sebuah pemandangan yang terpampang begitu menyeramkan. Sedah melihat kedua tangannya terikat, lalu kepalanya dipenggal di alun-alun Panjalu, di hadapan Maharaja Sri Aji Jayabaya.

Nyaris saja Sedah menjerit, sebelum sebuah sentuhan lembut di pundak, menyadarkan Sedah dari semadi. Ketika membuka mata pelan-pelan, yang tampak di hadapannya adalah sosok wanita yang selama satu bulan ini menyeretnya ke dalam kubangan cinta berlumur dosa.

“Rara Dinar?”

Wanita yang dipanggilnya hanya mengumbar senyum. Serta merta pemandangan itu kembali membuat Sedah lupa kepada pesan yang baru saja dia terima dalam semadi. (*)

Catatan:

  1. Tingkatan awal siswa di pendidikan spiritual.
  2. Asrama pendidikan calon brahmana.
  3. Pendapa tempat menghadap Raja Jawa.
  4. Lampu penerangan kuno.
  5. Juru tulis kerajaan.
  6. Yang Mulia.
  7. Bagian awal dari kisah Mahabharata (India) karya Vyasa.
  8. Artinya Kediri Menang, seperti yang tertulis pada Prasasti Ngantang.
  9. Posisi duduk, kaki kiri dibawah paha dan betis kanan.
  10. Posisi meditasi dengan cara mengatupkan kedua belah telapak tangan di depan.

Heru Sang Amurwabumi, adalah pendiri Komunitas Pegiat Literasi Kabupaten Nganjuk. Tulisan-tulisannya tersiar di berbagai media cetak dan online. Cerpennya, “Mahapralaya Bubat”, mengantarnya terpilih sebagai penulis emerging Indonesia di Ubud Writers & Readers Festival 2019.